Kekerasan identik dengan kemiskinan, kemiskinan nurani. Ketaksadaran bahwa orang lain adalah wujud sama dengan dirinya, merasakan dan memahami betapa pedihnya direndahkan secara fisik dan mental.
IPDN yang belakangan ini menjadi sorotan setelah membunuh lagi salah satu putra terpilih Menado (Cliff Muntu, 19tahun), mengulangi kembali kisah kelam tradisi kekerasan yang menurut berita telah merenggut nyawa 40 praja sejak tahun 1990. Pendidikan kedinasan yang mengusung pola a la militer ini mulai menuai banyak kecaman, tak urung Wapres JK menyempatkan melakukan isnpeksi ke ruangan tempat Cliff Muntu dibantai. Bahkan Wapres JK sempat menanyai salah seorang praja yang tidur dalam ruangan yang sama. Namun, mungkin kebohongan untuk menutupi kebodohan dan kebobrokan menjadi salah satu kurikulum pendidikannya, sang praja dengan lugunya mengatakan “tidak tahu, karena tertidur”. Bayangkan di ruangan yang tak begitu luas, aksi kekerasan berupa pemukulan oleh beberapa orang senior tak ‘terdengar’ oleh praja yang tidur di ruangan yang sama. Tak urung, Wapres JK malah sempat merasa ‘dibohongi’ oleh sang praja.
Perubahan nama STPDN menjadi IPDN untuk mengubah image kekerasan setelah meninggalnya praja Wahyu Hidayat tahun 2003 rupanya tidak membawa perubahan berarti. Janji dan ikrar para praja untuk tidak mengulangi tradisi kekerasan rupanya hanya angin lalu dan pemanis bibir saja. IPDN tetap bergumul dengan kebobrokan dan kekerasan. Para dosen dan pengasuh tak ubahnya monster-monster haus darah yang turut melindungi aksi brutal para praja. Pengasuh yang dianggap vokal dan membeberkan kejadian ’sebenarnya’ malah dituduh melakukan tindakan subordinasi. Belum lagi, sang Ketua IPDN Prof. Dr. I. Nyoman Sumaryadi. M.Si. yang memberikan komentar mencla mencle atas kejadian memalukan itu. Di awal dia mengindikasikan bahwa Cliff Muntu tewas karena lever, kemudian di ralat bahwa memang terjadi kekerasan. Belakangan beredar issue bahwa sang praja disuntik formalin sebelum dibawa ke Rumah Sakit. Sungguh memilukan, terutama bagi keluarga Muntu yang sudah barang tentu mengimpikan sang anak bisa menjadi kebanggaan dan harapan keluarga dan bangsa.
Kemana nurani para praja ketika melakukan tindak kekerasan? Betapa mahal biaya pendidikan yang harus ditanggung melalui APBD daerah yang mengirimnya, sementara di kampus Jatinangor itu, para praja berpesta dengan kekerasan, narkoba dan pergaulan bebas. Pajak yang dikumpulkan dari rakyat untuk membiayai para praja terpilih itu dimanipulasi menjadi sebuah kesombongan. Masih teringat ketika saya kuliah di Bandung, acap kali para praja STPDN keluar pelesir saat akhir pekan, rombongan mereka bak pejabat yang harus dilayani, padahal sampai Celana Dalam pun dibiayai oleh duit rakyat. Belum lagi metoda rekruitment calon praja yang ditengarai penuh dengan KKN. Sudah mahfum bagi masyarakat bahwa para praja terpilih itu sebahagian besar adalah keluarga pejabat pemerintahan juga. So, mereka ibarat mengartikan IPDN adalah institusi milik mereka sendiri. Walau tak sedikit putra bangsa yang mandiri tanpa bekingan berhasil menembus kampus megah di Sumedang itu.
Mungkin IPDN tak perlu dibubarkan, namun lulusannya diarahkan saja untuk menjadi Satpol PP. Mungkin tradisi kekerasan dalam menindak masyarakat yang tidak taat hukum bisa menemukan artinya disini.





























setuju…mereka cocok jadi hansip…;)
Lam kenal kembali ya.
Wah, saya keberatan. Jadi satpol PP pun hanya akan makin membuat citra buruk negara ini. Mereka harus dikembalikan ke orang tua masing-masing. Direhabilitasi mental dan perilakunya agar santun dan bertanggung jawab.
IPDN telah mencuci otak mereka sehingga tidak punya perasaan.
Pantas negara ini brobrok, karena ribuan lulusannya sudah menjadi pejabat di negara ini. Pantas negara ini rusak, karena Pemerintah ternyata mengkaderkan dengan cara yang tidak masuk akal.
Satpol PP juga seharusnya menjadi alat bakti manusia terhadap bangsa dan rakyat.
Betul nggak Daeng?
Masalah IPDN yahhhhhhhh SAya setuju klo di bubarkan saja. karena semakin lama bukan semakin bagus tapi semakin krisis moral mereka
Bubarkan saja IPDN .. TApi sebelum bubar, wisudakan dulu yang masih dalam pendidikan … KAsihan ama kakak-kakaknya.. eheheheh
Sebelumnya saya mohon maaf, pak…! sebetulnya IPDN itu sekolah untuk mencetak kader – kader praja yang bermental baja , apa kader – kader calon petinju atau mungkin pegulat seperti di smackdown……!