Mohon maaf kalo sekiranya saya kelihatan begitu ngotot memohon pak Amien untuk Go Head dalam kerangka pembeberan total dana DKP yang rupanya juga telah ditanggapi dengan cukup mengagetkan oleh SBY, ini bukan karena saya mendukung ‘kekeliruan’…tapi berusaha mendukung semua upaya menuju masyarakat bersih ini tanpa perlu merasa apatis dan curiga…mau AR, SBY, JK, Megawati, Gus Dur dan semuanya yang kebetulan berada di pamuncak jagad politik negatra tercinta ini mati kita hormati dan berikan dukungan yang realistis….bukan karena asumsi belaka….
sapa sih manusia yang gak ada salahnya? yang ada cuman nabi saja, manusia paripurna…kalo orang sekaliber pak AR pastilah masih jauh dari derajat kesempurnaan seorang nabi…
tapi tidak ada salahnya kita coba membaca apa kata bung Budiarto Shambazy di kolomnya di KOMPAS ttg AR dan pengakuannya….
….Pak Amien bukan pahlawan kesiangan. Lebih baik ada berani karena benar, bukan yang takut karena salah….(Budiarto Shambazy)
paling ndak untuk nambah pengetahuan…
kecuali kalo kita dah merasa jumawa full of knowledge sehingga tangki otak kita sudah penuh dengan pengetahuan yang hebat-hebat dan merasa tahu semuanya….naudzubillah…
=================
Amin untuk Pak Amien (1)
Sat May 26, 2007 9:14 pm (PST)
Oleh Budiarto Shambazy
———————————————-
Di atas sehelai kertas kecil, Pak Amien Rais sedang membuat corat-
coret. “Saya ngomong apa ya?” kata Pak Amien kepada kami separuh
bertanya, separuh basa-basi.
Namun, cuma dalam hitungan menit corat-coret tersebut menjadi
pointers yang dijadikan dia untuk berpidato. Pak Amien penutur bahasa
Inggris yang termasuk bagus karena “langsung ke sasaran” dan tidak
bertele-tele.
>
> Saat itu Pak Amien berpidato di depan para pengusaha Amerika Serikat
> (AS) di ibu kota Washington DC bulan April 1999. Ia memang dielu-
> elukan oleh berbagai pihak di AS sebagai calon presiden yang mampu
> memimpin Indonesia.
>
> Doktor lulusan University of Chicago ini sedang melakukan tur ke
> beberapa kota di AS sebagai Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).
> Wajar jika setiap acara pidato Pak Amien di mana-mana, mulai dari di
> depan anggota DPR sampai para mahasiswa, disesaki hadirin.
>
> Paul Wolfowitz, bekas Duta Besar AS di Jakarta yang kini memimpin
> Bank Dunia, membuka diskusi dengan mahasiswa dan staf pengajar. Ia
> menjabat sebagai dekan The Paul H Nitze School of Advanced
> International Studies (SAIS), The Johns Hopkins University.
>
> Hujan salju di Washington DC tak membuat tulang menggigil berkat
> pidato Pak Amien mengenai pentingnya kita kembali mengamalkan
> Pancasila. Padahal, waktu itu Pancasila telah menjadi barang
> rongsokan.
>
> Pak Amien bilang Pancasila adalah penjamin harmoni dalam hubungan
> antara kelompok mayoritas dan minoritas etnis China. Menurut dia,
> Orde Baru telah menghambat warga China untuk ikut menikmati hak dan
> kewajiban yang sama seperti warga Indonesia lainnya, misalnya
> dihambat masuk ABRI atau pegawai negeri.
>
> Butir penting yang sering disinggung dalam pidato-pidato Pak Amien
> adalah tentang masih bercokolnya gurita kekuasaan Orde Baru. Ia
> sering memakai istilah “chopping off” (memangkas) habis sisa-sisa
> Orde Baru.
>
> Ia menggerak-gerakkan telapak tangan kanan seperti sebilah golok yang
> sedang memotong ranting pohon. Bahasa Inggris dia lempeng-lempeng
> saja, sama seperti sikapnya yang tidak mencla-menclé.
>
> Pak Amien juga sering memulai kalimat dengan kata-kata “I mean…”
> jika sedang menjawab pertanyaan hadirin. Kalau sudah begitu, kami
> beberapa wartawan sering meneruskan dengan sebuah kata suci, “Amin,
> Pak Amien….”
>
> Boleh dong mendoakan sekaligus mengamini agar Pak Amien terpilih
> menjadi orang nomor satu di negeri ini?
>
> Pada Pemilu 1999 PAN hanya meraih sembilan persen suara. Ia segera
> mengatakan bahwa tidaklah realistis baginya untuk mencalonkan diri
> sebagai presiden.
>
> Tak lama kemudian Pak Amien memelopori terbentuknya “Poros Tengah”
> yang menggolkan Abdurrahman Wahid sebagai presiden yang dipilih MPR.
> Bagi sebagian rakyat, Poros Tengah menikam punggung Megawati
> Soekarnoputri dari belakang.
>
> Pak Amien “mendapat jatah” sebagai ketua MPR. Dari posisi ini ia
> secara perlahan-lahan memperlihatkan diri sebagai tokoh berkelas
> nasional.
>
> Dengan slogan “Cerdas, Jujur, Berani” ia mencalonkan diri sebagai
> presiden pada pemilihan presiden (pilpres) 2004 bersama cawapres
> Siswono Yudo Husodo. Duet ini terpental di putaran pertama karena
> hanya meraih 14,86 persen suara.
>
> Pak Amien telah membantu kita menempuh perubahan sejak reformasi
> 1998. Sepanjang ingatan, cuma Pak Amien dan Megawati Soekarnoputri
> yang berani melawan Presiden Soeharto pada tahun-tahun terakhir Orde
> Baru.
>
> Belakangan ini Pak Amien sering mencuri perhatian karena pernyataan
> maupun gerak-gerik politiknya yang belum tentu sepaham dengan
> pemerintah. “Si Kancil” beraksi lagi, itulah julukan kepada dia.
>
> Aneh juga jika ada pihak-pihak yang menaruh curiga kepadanya.
> Padahal, yang dikemukakan dia masih berkisar pada bagaimana membangun
> bangsa kita.
>
> Tentu tidaklah berdosa juga andaikan Pak Amien tampil pencilatan
> dalam rangka menyongsong pilpres tahun 2009. Toh, lebih baik
> menyiapkan diri dari sekarang ini karena tiga tahun bukan masa yang
> lama.
>
> Baru beberapa hari lalu Pak Amien menyatakan lebih baik kita
> memikirkan masa depan bangsa ketimbang meributkan soal “remeh-temeh”
> seperti Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU-
> APP). Berulang kali Pak Amien menggugat keberadaan perusahaan-
> perusahaan tambang AS, seperti Busang, Freeport, sampai Blok Cepu.
>
> Kita masih beruntung mendengarkan kritik-kritik dari Pak Amien. Tanpa
> kritik-kritik yang konstruktif, demokrasi seperti jalan buntu yang
> penuh dengan hantu.
>
> Tentu banyak juga kalangan yang mengernyitkan dahi melihat gaya Pak
> Amien. Orang-orang seperti Pak Amien, Gus Dur, atau Megawati tentu
> kerap kali terpeleset saat melangkahkan kaki masing-masing.
>
> Rasa skeptis yang berkepanjangan membuat kita memimpikan pemimpin
> seperti Ratu Adil yang serba sempurna dan sudah lama ditunggu-tunggu.
> Ternyata yang ditunggu bukanlah ksatria berkuda dan bersenjata (a
> knight in shining armor), namun cuma manusia biasa.
>
> Makanya, kita yang sering kecewa. Kita seperti bayi yang suka melepéh
> pemimpin pilihannya sendiri.
>
> Kita juga termasuk ke dalam golongan masyarakat yang meyakini
> kata “tetapi”.
>
> “Pak Amien orangnya memang pandai, tetapi…,” begitu kata kita.
>
> “Bu Mega memang berhasil memperbaiki kondisi ekonomi, tetapi…,”
> lanjut Si Kita.
>
> “Wiranto pasti mampu memperlihatkan strong leadership, tetapi
> dia…,” kata kita lagi.
>
> Cerita Pak Amien cerita tentang kita juga. Kalau saya, seperti biasa,
> selalu menutup doa dengan kata “amin” untuk Pak Amien.
>
Amin untuk Pak Amien (2)
Sat May 26, 2007 9:18 pm (PST)
Oleh Budiarto Shambazy
========================
Departemen Kelautan dan Perikanan mengutip pajak, retribusi, iuran,
dan aneka pungutan dari kita. Sebagian dari uang kita itu disulap jadi
“dana nonbudgeter” yang jumlahnya bagaikan, seperti kata lagu Bengawan
Solo, “Air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut.”
Banyak yang tidak tahu dana nonbudgeter (nonbudgetary funds) itu masuk
jenis mata anggaran apa. Apakah ia perlu dikumpulkan, apakah cara
pengumpulannya halal, dan apa manfaatnya untuk kita.
Hal yang pasti, pengelolaan dana pemerintahan di negeri ini sejak dulu
lebih sukar ditebak daripada cuaca akhir-akhir ini. Selain dana
nonbudgeter, ada pula dana abadi, uang yayasan, dana taktis, uang
talangan, rekening Dephukham yang menampung transfer Tommy Soeharto,
dan entah apa lagi.
Menurut kesaksian mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin
Dahuri, sebagian dana Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP)
disumbangkan bagi para politisi yang ikut Pemilu dan Pilpres 2004.
Jika memakai logika orang bodoh, kita ikut membiayai kampanye mereka.
Duit kita dipakai untuk membentuk tim sukses, beli tiket pesawat, sewa
tenda, bayar orkes dangdut, beli sembako, bahkan untuk biaya “serangan
fajar”.
Setelah terpilih, mereka minta kenaikan gaji, tunjangan, atau laptop.
Mereka “take” melulu, enggak pernah “give”.
Setelah kita menunggu setahun, mereka belum berbuat apa-apa. Setelah
dua setengah tahun lewat, sudahkah kita kecewa?
Mungkin hanya segelintir dari kita yang kecewa, sebagian terbesar
tenang-tenang saja. Anehnya, bahkan banyak menuding Pak Amien Rais
seperti pahlawan kesiangan saja.
Kalau dianalogikan dengan dunia bisnis, para penerima dana nonbudgeter
DKP itu seperti debitor-debitor yang ngemplang melulu. Jika diandaikan
dengan pengusaha, mereka adalah pemilik bank yang ditutup karena tak
mampu mengembalikan rekening atau tabungan kita.
Bukanlah cerita baru bahwa debitor-debitor nakal akhirnya selamat
dengan kabur ke luar negeri. Bankir-bankir yang banknya jadi pasien
BPPN malah ditolong pemerintah, dibebaskan dari tuntutan pidana,
dipinjami utang luar negeri atas nama kita, dan enggak akan pernah
kapok menipu kita.
Di dunia keluarga mereka ibarat sepasang pengantin yang nébéng di
“Pondok Orangtua Indah”. Tak usah kaget jika sang pengantin tega
memalsukan sertifikat hak milik rumah dan akhirnya malah menyepak
keluar orangtua dari rumah milik mereka.
Di dunia flora mereka seperti benalu, di dunia fauna mirip bunglon, di
dunia legenda bagaikan drakula. Pohon benalu lebih rimbun ketimbang
pohon mangga, warna merah bunglon lebih indah dari bunga dahlia, darah
drakula lebih segar dibandingkan dengan darah manusia.
Di dunia permobilan mereka ibarat pengelola parkir. Anda wajib
membayar Rp 2.000 per jam. Namun, kalau mobil atau barang di dalam
kendaraan hilang, itu bukanlah tanggang jawab Anda—bukan mereka.
Para politisi yang kita pilih tahun 2004 jadi pemenang-pemenang yang
berhak merampas semuanya. Kita, seperti biasa, kembali jadi pecundang
yang menyandang predikat “pelengkap penderita” saja.
Jangan lupa, mereka tidaklah nongol secara tiba-tiba seperti penyakit
kanker stadium dua. Mereka ibarat lemak yang jadi penyebab penyakit
jantung kronis yang sejak 10-20 tahun lalu mulai menghambat kelancaran
peredaran darah tubuh Anda.
Mereka tak ubahnya ingus yang keluar-masuk hidung anak balita
kesayangan Anda. Dulu mereka bangga jadi loyalis Orde Baru.
Tiba-tiba setelah Pak Harto lengser ing keprabon tahun 1998 mereka
berubah drastis menjadi reformis sejati. Eh, sekarang mereka kembali
jadi loyalis Orde Baru lagi.
Jika diibaratkan album musik, mereka CD kompilasi yang memuat tembang
kenangan para vokalis berusia 60 tahunan. Pepatah Inggris mengatakan,
“Old habits are hard to break.”
Kalimat andalannya, “Kalau terbukti, uangnya saya kembalikan. Atau.
“Jangan khawatir, jika terbukti, uangnya saya ganti.”
Tak heran pemberantasan korupsi saat ini masih memakai sistem tebang
pilih. KPK, BPK, Kejaksaan Agung, atau Tim Tastipikor bekerja
berdasarkan perintah majikan, bukan kata hati rakyat kebanyakan.
Jika salah, mereka selalu punya alasan. Beda dengan orang kecil yang
cepat disalahkan meski belum ada bukti. Bahkan, opini publik pun jadi
kambing hitam saat ada yang memprotes reshuffle. Menteri yang terbukti
berkali-kali gagal menjalankan tugas malah masuk ke ring satu dan
jalannya penyidikan korupsi dua menteri yang baru diganti lambat
seperti keong.
Jadi, Pak Amien bukan pahlawan kesiangan. Lebih baik ada berani karena
benar, bukan yang takut karena salah.
Mari ramai-ramai mendorong semua instansi segera menindaklanjuti
pengakuan Pak Amien. Pengakuannya justru berguna bagi para politisi
yang tahun 2009 mencalonkan diri kembali.
Di rubrik ini tahun 2006 saya menulis judul Amin untuk Pak Amien. Maju
terus Pak Amien!





























Terlepas siapa benar dan salah. Semoga masyarakat kita bisa berbicara jujur apa adanya. Walaupun pahit, demi kebaikan, kita harus mengatakan bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah.
JUJUR… intinya disitu…
Itulah kenapa capres 2004 ndak ada yang make ISTILAH JUJUR kecuali pak Amien dan pak Siswono
kita sudah lama jadi bangsa pelupa, termasuk lupa ditipu dan dianiaya, apalagi dibantu dan diberi jasa pasti akan mudah terlupa. Jika satu2nya orang yang berani tampil memobilisasi massa untuk menggusur orba adalah Pak Amin, maka pastilah bangsa ini juga telah lupa.. sehingga selalu ada curiga dan curiga..
Namun setipis apa pun kita harus tetap berharap ada banyak Amin yang lain, sehingga kita tak kan melupakannya
Amin Rais tak akan pernah jujur soal Kristen, Islam, dan Yahudi. Dan, Anda juga tak dapat dipercaya soal itu. Wah, situs Anda ini berisi gambar-gambar orang biadab: Khomeini, yang kejam, dan pembohong. Dengan memuat gambar orang-orang ini dan lambang Islam, sori, Anda sendiripun memang tak layak dipercaya.