Sebelumnya saya agak bingung dengan istilah Lakipadada yg jadi nick name nya kawan Mubarak di panyingkul, karena keterbatasan bacaan masa lalu, sa kira cuman penggabungan kata-kata saja, padahal rupanya nama ini adalah salah satu nama legenda wira dari Toraja…:)
Secara ndak sengaja, saya ketemu istilah itu lagi di buku tipis “Cerita Rakyat Sulsel” karangan Ber T Lembang, penerbit Yayasan Pustaka Nusatama.
Fyi, Saat saya googling, rupanya ada 3000 link yang mengarah ke situ, termasuk ttg RSUD Lakipadada, di Makale.
Dalam salah satu cerita rakyat itu, ada cerita tentang Lakipadada, yang adalah bangsawan toraja yang jadi paranoid terhadap maut, sehingga berusaha mencari mustika tang mate supaya dia bisa hidup kekal, tanpa dihantui kematian (mirip cerita Nabi Sulaiman). Lakipadada didalam legenda itu diceritakan kehilangan orang2 tersayangnya, ibu, saudara perempuan, saudara laki-laki, bahkan pengawal dan hamba2nya satu demi satu meninggal dunia. Kemudian Lakipadada menjadi paranoid, berusaha menegasikan kemungkinan kematian juga datang padanya.
Pergilah dia mengembara dengan tedong bonga nya mencari mustika tang mate yang bisa mengekalkan kehidupannya, diantaranya mengarungi ke teluk bone dengan buaya sakti (yang barter service dengan imbalan tedong bonga), mencari Pulau Maniang, tempat yang dianggapnya dihuni oleh seorang kakek tua sakti berambut dan jenggot putih yang diceritakan memiliki mustika itu.
Karena kekurang sabarannya, Lakipadada gagal memenuhi persyaratan yang diajak si tua sakti; puasa makan minum dan tidur selama tujuh hari tujuh malam. Akhirnya gagal usahanya mendapatkan tang mate. Tapi dari sini Lakipadada mendapat hikmah yang menyadarkannya bahwa menghindari kematian sama halnya dengan menantang kuasa Tuhan. Tidak ada yang bisa melawan takdir Tuhan, walau kadang kejam kata Dessy Ratnasari.
Lakipadada, kemudian mengembara lagi dengan menumpang bergelantungan di cakar burung Garuda yang membawanya ke negeri Gowa. Disana Lakipadada, yang sudah tercerahkan, menyebarkan hikmah kebajikan dan berhasil mendapat simpari Raja, mengobati dan membantu permaisuri raja melahirkan. Lakipadada diangkat menjadi anak angkat dan Putra Mahkota.
Diakhir cerita diceritakan Lakipadada yang memperistri bangsawan Gowa, kemudian diangkat menjadi raja Gowa, penguasa baru yang bijak. Dia memiliki tiga orang anak, yang kemudian menjadi penerusnya dan mengembangkan kerajaan-kerajaan lain di jazirah sulawesi. Putra sulung, Patta La Merang menggantinya di tahta Gowa. Putra kedua, Patta La Baritan ditugaskan ke Sangalla, Toraja dan menjadi raja disana. Putra bungsu, Patta La Bunga, menjadi raja di Luwu.
Akulturasi damai. Lakipadada yang berasal dari Toraja berdamai dengan tiga suku lain; belajar hikmah dari Bugis/Bajo (kakek sakti di pulau Maniang), menjadi raja di pusat budaya Makassar, dan mengirim anaknya menjadi Datu di Luwu. Akulturasi ini lah yang mengabadikan darah dan silsilahnya, juga cerita legenda yang mengantarkannya pada kita saat ini, mungkin inilah mustika tang mate yang dimaksudkan, keabadian melalui cerita/legenda.






























kak…kalau tidak salah yang benar adalah Tang mate (tidak akan mati)
iye, betul ces, Mubarak (cucunya Puang Lakipadada)
saya sudah ‘beres’kan mi…thanks ya koreksi nya
[...] Lakipadada dan Tang Mate , tulisan Noertika (Daeng Rusle) [...]
[...] Lakipadada dan Tang Mate , tulisan Noertika (Daeng Rusle) [...]
Kalo Patta La Merang sempat menjadi Raja Gowa, maka Raja ke berapakaha ia?
insya allah toraja akan kembali menjadi pusat peradaban dunia. kapan dan bagaimana itu terjadi?
wallahu ‘alam
Saya sangat senang membaca berbagai artikel budaya
di website ini. Namun saya sedikit kaget dengan tata cara
penyebutan nama seorang tokoh yang di sakralkan
oleh masyarakat Gowa dan Toraya.
Di Gowa, mereka menyebutnya Karaeng Ta Lakipadada, sedang di Toraya disebut Puang Ta Lakipadada.
Sekarang banyak orang menyebut nama beliau seolah-olah
menyebut teman mainnya.
Jadi jika boleh, janganlah menggunakan nama tersebut sebagi nick-name. carilah nama lain utk digunakan.
Salam selalu
Sulwan Dase – Makassar
Mengenai nama Toraya….
Bila kita bertanya ke orang2 tua di Toraya, tidak satupun akan mengatakan bahwa “kita orang Toraja”, tetapi selalu mengatakan “kita orang Toraya” atau dalam bahasa setempat diucapkan “Iya tu kita Toraya…..”.
Nama Toraja sangat berbeda dengan Toraya.
Ada yg mengatakan nama Toraja berasal dari bahasa bugis To Riaja artinya orang dari atas. Penyebutan yang lebih mirip dengan pengucapan yang lasim diucapkan di masyarakat Toraya sendiri adalah penamaan yang diberikan oleh orang Gowa.
Pada masa lalu orang Gowa menyebut tempat itu dengan sebutan Toraya yang berasal dari kata Toriayya (orang di timur). Menurut penuturan orang2 tua di Gowa, kata itu tergolong tua dan janrang diucapkan lagi saat ini.
Jadi secara pribadi, saya lebih setuju jika nama Kabupaten Tana Toraja di kembalikan menjadi Kabupaten Tana Toraya.
Sulwan
Mubarak dapat dari mana nick name LAKIPADA ? jgn2 cuman asal pake, klw emang cucunya sebutin silsilahnya dong
Selain nama Puang/ Karaeng Ta Lakipadada, nama Datu Manaek pun setara dengan itu. Jadi tentu saja akan sangat ber-adat jika jangan ada yang menggunakan nama Datu Manaek sebagai nick namenya. Siapa tau anda salah dalam bertutur kata dan orang menghardik atau mencelah nama Datu Manaek yang anda gunakan,dan itu sama saja dgn merusak nama seseorang yg di anggap mulia di jamannya.
Datu Manaek adalah seorang perempuan yang tergolong dalam turunan To Manurung dan bertempat tinggal di Nonongan (Tana Toraya saat ini). Nama Nonongan masih digunakan saat ini, yaitu didaerah yg berada di antara Kota Makale dengan Kota Rantepao.
Wass
Sulwan Dase
Buat yang merasa dirinya turunannya Lakipadada.
Jika anda merasa turunannya, kenapa penulisan nama anak2nya saja tidak lengkap dan ada yg salah?
Anak Puang Lakipadada ada empat orang, yaitu:
1. Patta La Bunga (ke Luwu)
2. Patta La Marang (ke Gowa)
3. Patta La Didik (ke Bone)
4. Patta La Bantan….bukan Baritan spt yg tertulis pada artikel
diatas. Patta La Bantan, ini yg tinggal di Toraya.
Kemudian, jika mengaku sebagai turunan Puang Lakipadada, bisakah anda menyebutkan:
1. Nama sebenarnya beliau?
2. Dimanakah beliau mendirikan rumah di Toraya?
3. Dimanakah beliau dimakamkan?
Pertanyaan ini saya ajukan agar kita semua bisa instropeksi diri khusus bagi setiap orang yg merasa diri turunan beliau. Sebab saya kuatir, ada saja yg memanfaatkan kebesaran beliau ttp nilai2 luhur dan mulia yg ada pada diri beliau diabaikan. Maaf…jangan ada yg merasa tersinggung tapi silahkan jadikan tulisan saya ini sebagai bahan renungan. Jika anda turunannya, maka beliau akan mendatangi anda secara gaib, diluar akal sehat kita.
Sulwan Dase
NB: APAKAH ADMIN WEB INI MASIH AKTIF MEMANTAU TULISAN DISINI?
Buat yang merasa dirinya turunannya Lakipadada.
Jika anda merasa turunannya, kenapa penulisan nama anak2nya saja tidak lengkap dan ada yg salah?
Anak Puang Lakipadada ada empat orang, yaitu:
1. Patta La Bunga (ke Luwu)
2. Patta La Merang (ke Gowa)
3. Patta La Didik (ke Bone)
4. Patta La Bantan….bukan Baritan spt yg tertulis pada artikel
diatas. Patta La Bantan, ini yg tinggal di Toraya.
Kemudian, jika mengaku sebagai turunan Puang Lakipadada, bisakah anda menyebutkan:
1. Nama sebenarnya beliau?
2. Dimanakah beliau mendirikan rumah di Toraya?
3. Dimanakah beliau dimakamkan?
Pertanyaan ini saya ajukan agar kita semua bisa instropeksi diri khusus bagi setiap orang yg merasa diri turunan beliau. Sebab saya kuatir, ada saja yg memanfaatkan kebesaran beliau ttp nilai2 luhur dan mulia yg ada pada diri beliau diabaikan. Maaf…jangan ada yg merasa tersinggung tapi silahkan jadikan tulisan saya ini sebagai bahan renungan. Jika anda turunannya, maka beliau akan mendatangi anda secara gaib, diluar akal sehat kita.
Sulwan Dase
NB: APAKAH ADMIN WEB INI MASIH AKTIF MEMANTAU TULISAN DISINI?
Lakipada raja Gowa yang keberapa yaaa?
Lakipadada raja Gowa yang keberapa yaaa? soalnya setelah membaca silsila raja Gowa tidak ada nama Lakipadada
Puang Lakipadada atau karaengta Lakipada tidak pernah menjadi raja di Gowa, jadi tentu anda tdk kan menemukannya di silsilah kerajaan gowa. kalau boleh tau saudara Boby dari daerah mana ya?
Sulwan
Saya lebih senang melihat Ini dari segi Cerita historis Budaya yang sangat kental makna dan pesan yang disampaikan.. Tentang Dia kamu atau saya adalah keturunan Sang Tokoh mungkin tidak usah terlalu kita Hiraukan.. Saya sangat mengagumi Tokoh-Tokoh tersebut.. Dan setiap ada artikel yang berhubungan pasti akan saya baca dan baca lagi walaupun untuk kesekian kalinya.. Salam buat Sulwan Dase, Daeng Rusle.. I luv U All hahahha..
ahhhhh
Setelah membaca blog ini kembali lagi ingatan saya kepada cerita2 atau legenda yg pernah saya dengar dr beberapa orang Toraja. Komentar saya ini tidak bermaksud apapun tetapi mungkin sbg penjelasan kepada kalian bahwa banyak varian cerita mengenai Tokoh Legendaris Puang Lakipadada.
Menurut cerita yg saya dengar asal muasal kata Toraja itu sebetulnya ucapan orang2 Ker. Gowa dalam menyebut tempat asal muasal Puang Ta Lakipadada. Jadi Toraja bermakna to=asal raja=raja, ToRaja = asal Raja. Banyak versi di Tana Toraja mengenai cerita Lakipadada, misalnya yg saya dengar dr seseorang Tikala (Toraja Utara) begini :
“Lakipada menuntut ilmu Tang Mate di hutan belantara selama waktu yg panjang sampai ia mendapat penuntun ghoibnya disana lalu ia menyeberangi lautan menuju Pulau Maniang dgn kendaraan kerbau putih (bule) namun kerbau tsb tidak mau mengantarnya menyeberang sehingga Lakipadada menyumpahi kerbau tsb bahwa turunannya tdk akan menyentuh atau memakan turunan dr kerbau putih tsb yg berwarna putih juga sampai selama-lamanya. Lalu Lakipada ditolong oleh buaya sakti sampai di Pulau Maniang. Di pulau tsb Lakipada diminta oleh penuntun ghoibnya utk berjaga-jaga (berpuasa tanpa tidur) selama 7 hari 7 malam. Namun baru hari yg kesekian Lakipadada sdh terlelap shg ia diambil oleh seekor burung rajawali raksasa dan kemudian diturunkan di Tanete wil. Ker. Gowa dahulu kala. Keadaan Lakipadada yg habis ‘bertapa’ tsb sangatlah buruk baju yg kumal, rambut yang sangat panjang, bau yg tidak sedap mewarnai dirinya. Lalu ia menghampiri pelataran Istana Raja Gowa, para abdi istana sangat terkejut melihat dia tetapi juga sangat iba sehingga Lakipadada disuguhi makanan di piring kucing piaraan Raja Gowa lalu Lakipadada yg kelaparan memakan suguhan tsb tanpa mengetahui piring tsb adalah piring kucing peliharaan Raja Gowa. Tiba2 seluruh kucing yg ada di Istana Ker. Gowa mati tanpa sebab! Melihat itu besoknya para abdi istana memberikan piring yg lain utk suguhan makan Lakipadada piring tersebut adalah piring anjing Istana, lalu kembali Lakipadada tdk menyadari hal tsb tetap cuek makan aja. Akibatnya seluruh anjing di Istana Raja Gowa mati tanpa sebab !! Keesokkannya pula para abdi memberikan makanan kepada Lakipadada dgn beralaskan piring yg biasa dipakai oleh hamba/abdi Istana namun yg terjadi adalah seluruh abdi di dlm istana mati tanpa sebab !!! Melihat musibah itu Raja Gowa menitahkan kpd punggawa2nya utk memperlakukan Lakipadada seperti layaknya bangsawan terhormat. Mendapatkan perlakuan yg sewajarnya Lakipadada sangat senang hatinya sehingga keadaan Istana kembali pulih seperti sedia kala. Melihat kemukzizatan seperti ini Raja Gowa terperangah dan menantang Lakipadada utk menolong dirinya (Raja Gowa) dan permaisuri yang belum memiliki turunan agar dihapuskan bala atau sialnya sehingga mereka memiliki keturunan. Lakipadada diiming-imingi hadiah jika Lakipadada berhasil membuang bala tsb dan permaisuri ternyata hamil maka jika anak yg lahir kemudiannya laki2 akan dijadikan saudara angkatnya, tetapi jika itu perempuan akan dijadikan isteri Lakipadada. Lalu Lakipadada membuat suatu acara ritual di Istana guna memanggil penuntun ghoib-nya yg dikenalnya selama di pertapaan. Sang penuntun ghoib menyanggupi permintaan Lakipadada utk menyelamatkan kelangsungan silsilah kerajaan Gowa. Maka hamillah sang permaisuri kemudian. Mengetahui hal ini maka senanglah hati Raja Gowa. Ia mengutus Lakipadada dalam ekspedisi Phinisinya ke Negeri Sudan Timur Tengah, mungkin niat Raja menguji lagi Lakipadada apakah ia akan kembali lagi ke Ker. Gowa dgn selamat dan mengambil hadiahnya. Di dalam ekspedisi tsb Lakipadada melanglangbuwana ke negeri-negeri asing selama bertahun2 lamanya. Dan akhirnya ia pulang juga ke Ker. Gowa dengan hasil/kekayaan yang berlimpah ruah. Pakaian yg dikenakannya sangatlah indah dihiasi dan didominasi emas yang kuning kemilau dan pinggangnya dihiasi pedang serta beberapa pusaka diantaranya payung, Pedang/Pusaka Sudang sebagai pemberian cenderamata dr Penguasa Sudan (Lakipadada = Tu Manurung I Ri Sudang???). Akhirnya ia menikah dgn Putri Raja dan memiliki beberapa anak diantaranya Patta La Bantan yg kembali ke Sangalla menikahi Puang Petimbabulaan dengan kemegahannya serta beranak pinak disana mewarisi warisan Lakipadada di daerah Tallulembangna “. Dan satu hal lagi saya mau jelaskan kepada Sulwan Dase, istri dr Karaeng Ta Lakipadada yg anda tulis diberbagai forum ialah To Manurung Baineya kan ? To Manurung Baineya itu artinya: Istrinya To Manurung jadi yang To Manurung itu adalah suaminya, ok! Lalu Payung ri Luwuq pertama adalah Petta I La Bunga. Sebelum beliau berkuasa tidak ada gelaran Payung di Luwuq. Payung emas yg dibawa dr Makassar oleh2 dr bapaknya setelah merantau dari Negeri Sudan dijadikan lambang/simbol Negeri Luwuq, selain payung Bunga Waru juga menjadi simbol kerajaan.
Itulah sekilas cerita yg saya dapatkan dr beberapa sumber orang Toraja. Saya sendiri tidak/belum menemukan kaitan Puang I Lakipadada dlm urutan silsilah saya baik dr pihak ibu maupun bapak saya. Tetapi leluhur saya bersaudara Puang Petimbabulaan yg merupakan cucu dr Datu Manaek di Tongkonan Nonongan dan ada juga leluhur saya dr pihak bapak saya bernama Puang Panggeso keponakan Puang Sanda’ Boro orangtua dr Puang I Lakipadada. Kalau cerita aslinya mengenai Puang I Lakipadada pasti orang Toraja yg bermukim di distrik Sangalla akan sangat paham, saya sarankan sdr Sulwan Dase yg merasa dirinya mempunyai hubungan darah dgn Puang I Lakipadada belajar atau bertanya ke Tongkonan Buntu Kalando di distrik Sangalla lihat situs ini : http://www.batusura.de/kalando.htm . Namun nama Puang I Lakipadada atau pengetahuan mengenai dia sangat membantu dalam perang Untulak Buntunna Bone karena banyak orang Toraja yg selamat dr pembantaian oleh pasukan Bone yg jumlahnya puluhan ribu saat itu dgn mengaku mempunyai hubungan darah dgn nama tsb. Jadi masalah silsilah di Tana Toraja sangat erat kaitannya dgn Tongkonan. Tongkonan merupakan simbol atau prasasti atau lontara tidak bertulis/beraksara yang sampai saat ini setelah ribuan tahun lamanya yg dapat menjabarkan silsilah atau asal usul seseorang Toraja. Jadi ada Tongkonan Induk kemudian Tongkonan Anak lalu Tongkonan Cucu-cicit dan seterusnya. Dengan memakai rumus ini maka mungkin teman/keluarga Sulwan Dase yaitu Daeng Rusle penulis di blog sini dapat menelusuri nenek moyangnya.
Lain kali dibahas dong cerita/legenda putri Landorundun alias Datu Manili dgn Mendurana versi Toraya dan putri Landorundun dgn La Tando versi Bugis (Bone???)
Wassalam…
Saudara Laurent yg baik.
Apa yg anda tulis adalah legenda yg diceritakan orang secara turun temurun. Namanya juga legenda, maka tentu banyak versi dan sulit untuk dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Melalui posting ini, saya ingin mengoreksi tulisan saya sebelumnya mengenai 4 orang anak Puang Lakipadada.
Sebenarnya anak beliau 9 orang, namun satunya dinyatakan meninggal, sehingga yg dikenal orang hanya 8 orang. Dari 8 orang anak beliau, terdapat 4 nama yang paling sering ditulis orang sama seperti yang saya tulis sebelumnya yaitu:
1. Petta I La Marang (Ke Gowa)
2. Petta I La Bunga (Ke Luwu)
3. Petta I La Didi (Ke Bone) dan
4. Petta I La Bantang (Tinggal di Toraya).
Yang benar adalah:
1. Petta I La Ma’rang Ke Gowa
2. Petta I La Bunga ke Luwu
3. Petta I La Didi tinggal di Toraja dan mendirikan
Tongkonan Nonongan
4. Petta I La Bentang adalah cucu Puang Lakipadada
dari anak perempuan beliau yg bernama Petimba
Bulaan yg menikah dengan anak dari Puang Ri Sangalla.
Petta I La Bentang kemudian ke Bone yg kemudian’
lbh dikenal oleh orang Bone sebagai To ManurungE ri
Mattajang atau Mata Silompoe. Gelar Petta I La Bentang
diberikan ke beliau sebab Kerajaan Bone memiliki wilayah kekuasaan ‘mem-bentang’ di sepanjang pesisir pantai.
Ke empat nama diatas adalah nama gelaran sesuai dengan kelebihan masing2 yang beliau2 miliki. Yang perlu kita pahami bersama bahwa Kisah To Manurun Di Langi bukanlah legenda tetapi kisah nyata dan pernah ada. Yang salah selama ini adalah bahwa istilah ” To Manurun Di Langi” sering diterjemahkan dengan “Orang yang turun dari langit”. Yg benar adalah, beliau2 adalah manusia biasa seperti kita2. letak perbedaannya adalah pada Sifat, watak, dan nilai yang beliau2 miliki. Karena sifat mereka yg mulia, maka oleh sebagian orang mereka disebut sebagai manusia2 “ilahi” atau manusia suci.
Semoga bermanfaat.
Sulwan Dase
Memang benar apa yang pak Sulwan Dase katakan bahwa namanya juga legenda, maka tentu banyak versi dan sulit untuk dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Terus terang aja cerita mengenai Lakipadada itu saya dapatkan dari mendengarkan cerita seorang Toraja di pasar Rantepao Kab. Toraja Utara sekarang. Waktu itu saya ditraktir bir dan ballo (tuak) beberapa derigen sambil bercerita sampai malam, karena ditraktir saya hanya menjadi pendengar yang baik aja lah pada saat itu. Namun saya sadari dan insyafi kini bahwa cerita sesungguhnya pasti dari tempat asalnya apalagi turunannya langsung. Cerita mengenai Lakipadada yang benar dan dapat dipercaya keakuratannya atau kebenarannya menurut saya dan masyarakat Toraya pada umumnya dan dapat diceritakan kembali kepada anak-cucunya adalah ceritanya Puang Willem Popang Sombolinggi’ (alm) yang diceritakan pada tahun 1969 di Sangalla dan ditulis disini :
http://www.batusura.de/kalando.htm
Puang Lakipadada is the founder of the princely ramages in puang-regions (Tallulembangna) in Tana Toraja, and of the rulers of the Buginese kingdom of Luwu’ and the Makassarese kingdom of Goa.
Lakipadada, contemplating the problems of death, conceived the plan of going in search of immortality. In the company of his faithful dog, he set out. The dog remained by him as far as the edge of the ocean, close to heaven, and then could not accompany him further. Here at this place Lakipadada met a pure white water buffalo, Bulan Panarring, who spoke to him: “If I beat you over the ocean, you will agree not to eat of my flesh, not of the flesh of my descendants. The white buffaloes which will be born in your country will be blind”. Lakipadada accepted the proposition. The buffalo, however, could not complete the passage. He drowned. Puang Lakipadada saved himself, climbing onto a limestone rock. He had been perching there a long time when a giant sea crab accosted him, offering to carry him to heaven. When Lakipadada finally arrived there, Puang Matua granted him eternal life on the condition that he would not sleep for seven days and seven nights. For six days Lakipadada remained awake, but on the seventh he fell into a deep slumber. Puang Matua then removed something from Lakipadada’s sword as proof that sleep had overcome him. The god then told him of his failure, but allowed him to live for six generations.
Throughout his long life, Puang Lakipadada made many journeys, bringing back home a small number of remarkable swords, the la’bo’ penai. These swords were the Sudan, originating from the Sudan, Africa, and now in the possession of the princes of Goa; the Maniang and the Doso, now the property of the puang of Ma’kale; and the Bunga aru, or Bunga waru, owned by the datu (prince) of Luwu’.
On one of his voyages, Lakipadada was shipwrecked but could rescue himself on a rock. Gradually he was covered over completely with seaweed. Happily he could sustain life by eating mangga-fruits, for a mangga-tree was growing from the rock. For seven years he fed from this tree. One day a certain sea eagle or garuda, Langkang Muga, alighted on the rock. After eating from the mangga-fruit the bird fell asleep and Lakipadada then grabbed hold of one of the bird’s spurs. On his person Lakipadada stowed away a pit of a mangga. The eagle flew on high with Lakipadada clinging fast to its spur. Above Goa, the bird began to descend. Lakipadada loosened his hold and fell onto a forked branch. The garuda, flying on, disappeared from sight. Lakipadada, draped in seaweed, looked more like a strange beast than a man. People who came to draw water, saw Lakipadada. First a slave (kaunan) of the raja tried to drag Lakipadada from the tree, but the slave died. Then a to makaka came. He, too, tried to dislodge Lakipadada from the tree but he too, perished. Then the Raja of Goa himself came, and only then Lakipadada could descend from his lofty perch. The raja ordered Lakipadada to be cleaned. Initially, the seaweed refused to come off. Then a bird cried, “Wash him with an extract of lemo laa’ (citrus fruit); he then will regain the colour of a danga-danga (species of gladiola)”. The advice was followed, whereupon the seaweed peeled away. Lakipadada now received food from plates presented in succession by a number of people belonging to different classes. None of these were of noble blood, and they all died. Finally, the raja offered him food from his own dish. Since the raja did not die, it was evident that this unseeming and extraordinary stranger must be a person of princely blood. In the meantime drums were beaten without cessation. Lakipadada asked what this meant. He was told that the raja’s wife was on the point of delivering a baby. Up to that time women in Goa could not give birth except by means of an operation. Lakipadada inquired what his reward would be if he helped the wife of the raja bear her child without the use of any artificial aids, and he added, “Actually, I don’t really want any reward. I only want your child if she happens to be a girl.” All the time the raja had realized that Lakipadada was not an ordinary person. He agreed, Lakipadada assisted at the delivery and all went well. Later he married the princess who, by his help, had seen the light of day. From their marriage three sons were born: Patala Bunga, Patala Bantan, and Patala Merang.
Before he died, Lakipadada climbed a peak of the Latimojon and divided his realm into three parts. Patala Merang acquired Goa and the title of Somba ri Goa; Patala Bunga received Palopo, i.e. the region north of Bone Puto and east of Buntu Puang. He acquired the title of Datu i Waraë and Payung ri Luwu’. Patala Bantan received the area now known as Tana Toraja (but the territory alotted to him by Lakipadada is not the same as contemporary Tator; it encompassed the region north of the Mappolo Lambang as far as the Tomini-bend). This son was endowed with the title Puang Matasak ti Toraja.
The ruler of Goa inherited the sword Sudan and the doi’ i manuk (literally: money with a bird, ‘fighting cock farthing’, a coin minted by the English). The datu of Luwu’ was given the sword Bunga Waru. The son who reigned over Tana Toraja received the Bate Manurun, a flag descended from heaven, a red cloth carrying the image of a garuda. The flag may be exhibited only when a pig is sacrificed. It is on display at mortuary rituals, or solemn state occasions, and on official visits by high dignitaries. This same royal son was presented with V.O.C. (Dutch East Indian Company) coins as pusaka (!) together with a kandaure, an ornament of beads, named Pattara. According to Nobele he also received two ancient textiles: Indo’ Lebo and Arang to Buang. The sword Maniang also remained in Tana Toraja, in Makale itself.
Saya mendapat info dr sdr. Joni bahwa Petta La Bantan alias Puang Palodang I s/d Puang Laso Rinding alias Puang Palodang XIII ayah dari Puang Popang Willem Sombolinggi’.
Nah bagi pembaca lainnya yang budiman atau moderator tolong dong cerita tersebut di-translate ke bhs Indonesia yang baik dan benar. Menurut saya cerita ini yang benar dan layak disebarluaskan daripada ceritanya DR.Cornelius Salombe. Karena belum tentu DR. Cornelius ada kaitannya dengan Lakipadada ! Jangan mentang2 bergelar DR, lalu cerita itu pasti benar, setuju nggak kalian ! Nah bagi masyarakat Toraja dan masyarakat Luwu-Bugis-Makassar yang mempunyai kaitan atau hubungan darah dengan Lakipadada saya hanturkan maaf sebesar-besarnya jika cerita yang diceritakan kepada saya diatas menyinggung perasaan kalian.Terima Kasih sebelumnya.
eh sorry bukan DR Cornelius Salombe tapi Ber T Lembang sorry yah masalahnya udah ngantuk banget nih !
apa yg ditulis oleh Puang Willeam Popang adalah salah satu versi dari sekian versi yg saling berbeda satu sam lain. Tulisan itupun belum tentu bersih dari segala kepentingan
tertentu.
Selain itu cerita diatas lbh mirip cerita 1001 malam. Binatang koq bisa bicara…..:-)
Sulwan
Seru sekali perdebatannya mengenai LAKIPADA,kapan2 kita bisa bertemu semua membahas masalah ini.wassalam cucu puang sangalla.info cincin Puang Lakipadada ada pada saya.keris kerajaan yang ada merah delima ada pada kakak saya.
L.S.;
Looking for the name of the succesor as raja/dynasty of Sanggala;Puang Laso Rinding until now.Maybe also pictures for my website about the present situation of the Indonesian dynasties.
Hormat saya:
DP Tick gRMK
secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia “Pusaka’
pusaka.tick@tiscali.nl
Ada yang tau silsilah dari kerajaan sangalla sampai sekarang??? mohon jawabannya
L.S.;
I only have a list of the rajas of Sangalla.Not the silsilah.You can contact me at pusaka.tick@tiscali.nl .
Thank you.
Hormat saya:
D.P. Tick gRMK
Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia “Pusaka”
Vlaardingen/Kerajaan Belanda
Terima kasih keseriusan saudara2 memperbincangkan
masalah toraja.Nanti kita cari waktu untuk membahas
dan meluruskan masalah kakek buyut saya PUANG
LAKIPADADA.
kakek saya JACOB SAMPETODING Nenek saya Puang Lai
Rinding (anak dari Puang Sangalla),melahirkan yang
Namanya PUANG ATTO dan selanjutnya melahirkan saya.Ok
wassalam dan Syaloooom
Dear Mr./Mrs. Sampetoding;
Would like very much to know mopre about them present situation of the kerajaan Sangalla and the dynasty.Who is noe the raja/Puang sanggala and do you have a picture of him.
Thank you.
Hormat saya:
D.P. Tick gRMK
secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia “Pusaka”
Vlaardingen/Belanda
Dear Sir/Madam;
Excuse me.My e-mail is pusaka.tick@tiscali.nl .
Looking forward to see your reaction.
Thank you for it.
Hormat saya:
D.P. Tick gRMK/Pusaka.
kalo anda mmg keturunan lakipadada tolong tuliskan silsilah lengkap dari lakipadada sampai anda
Terima kasih sdr/sdri skalian atas perbincangan atas masalah toraja, mumgkin pada saat yang tepatlah baru kita luruskan masalah kakek bunyut kami Puang Lakipadada.
Kakek Uttuk saya Puang Sangalla yang melahirkan Puang Tinggi dan Puang Tinggi melahirkan ibunda saya Puang D. Parassa , ok Terima Kasih
hebat ya kita ngumpul disini bahas sejarah, saya mau tanya ma teman2 semua petimbabulaan dari mana dan berapa saudaranya… dan mustika apa yang dia bawah dari mamanya… patta la bantan dengan petimbabulaan masih punya hubungan darah dari garis ibunya petimbabulaan, dan bapak dari patta la bantan.. mereka ke kairo di sanggalla mendirikan rumah,….
Wah seru neh….Berbagai versi telah di ungkapkan..Untuk meluruskan tentang tonggak sejarah Tana Toraya,kenapa tidak di buatkan suatu forum komunikasi masyarakat Toraya??? Mungkin dengan adanya forum komunikasi seperti itu, akan ada komunikasi yang continue dalam membahas budaya, politik, sejarah, dsb.
Sekedar saran saja. Salam.
- Sandryones Bunga Palinggi -
kalau mau lihat fotonya laso’ rinding puang sangalla silahkan add di FACEBOOK saya.