this page is created to write on or to describe how dynamic Makassar…
most of this page content is adopted from makassar's official website which can be found in my "tanah air" link.
Muasal dan Makna Nama Makassar
Di umurnya yang ke-398 tahun, Kota Makassar masih terbilang muda jika dibandingkan sejarah nama Makassar yang jauh menembus masa lampau. Tapi tahukah Anda muasal dan nilai luhur makna nama Makassar itu?
Tiga hari bertufut-turut Baginda Raja Tallo VI I Mallingkaan Daeng Mannye Karaeng Matoaya bermimpi melihat cahaya bersinar yang muncul dari Tallo. Cahaya kemilau nan indah itu memancar keseluruh Butta Gowa lalu ke negeri sahabat lainnya.
Bersamaan di malam ketiga itu, di bibir pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil. Layarnya terbuat dari sorban, berkibar kencang. Nampak sesosok lelaki menambatkan perahunya lalu melakukan gerakan-gerakan aneh. Lelaki itu ternyata melakukan sholat. Cahaya yang terpancar dari tubuh Ielaki itu menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo, yang sontak ramai membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda Karaeng Matoaya. Di pagi buta itu, Baginda bergegas ke pantai. Tapi tiba-tiba lelaki itu sudah muncul ‘menghadang’ di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hijau. Wajahnya teduh. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya.
Lelaki itu menjabat tangan Baginda Raja yang tengah kaku lantaran takjub. Digenggamnya tangan itu lalu menulis kalimat di telapak tangan Baginda "Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai,” perintah lelaki itu lalu menghilang begitu saja. Baginda terperanjat. la meraba-raba matanya untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Dilihatnya telapak tangannya tulisan itu ternyata jelas adanya. Baginda Karaeng Matoaya lalu bergegas ke pantai. Betul saja, seorang lelaki tampak tengah menambat perahu, dan menyambut kedatangan beliau.
Singkat cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. “Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat,” kata lelaki itu. “Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sendiri. Baginda Nabi telah menampakkan diri di Negeri Baginda.
Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama Makassar, yakni diambil dari nama "Akkasaraki Nabbiya", artinya Nabi menampakkan diri. Adapun lelaki yang mendarat di Pantai Tallo itu adalah Abdul Kadir Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Datu Patimang. Baginda Raja Tallo I Mallingkaan Daeng Manyonri Karaeng Matoaya sendiri bergelar Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam Karaeng Tallo Tumenanga ri Agamana. Beliau adalah Raja pertama yang memeluk agama Islam di dataran Sulawesi Selatan.
Kota Makassar yang pernah bernama Ujung Pandang adalah wilayah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo yang terletak pada pesisir pantai sebelah barat semenanjung Sulawesi Selatan. Pada mulanya merupakan bandar kecil yang didiami oleh Suku Makassar dan Bugis yang dikenal sebagai pelaut ulung dengan perahu PHINISI atau PALARI. Jika ditinjau dari sejarah Kerajaan Majapahit dibawah Raja HAYAM WURUK (1350-1389) dengan Maha Patih GAJAH MADA bertepatan dengan masa pemerintahan Raja Gowa ke-II TUMASALANGGA BARAYA (1345-1370), Makasar (Makassar) sudah dikenal dan tercantum dalam lembaran Syair 14 (4) dan (5) Kitab Negarakertagama karangan PRAPANCA (1364) sebagai Daerah ke-VI Kerajaan Majapahit di Sulawesi.
| Masa Sejak Berdirinya Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo |
| 1. |
Kerajaan Gowa berdiri kira-kira tahun 1300 Masehi dengan raja yang pertama adalah seorang perempuan bernama TUMANURUNG (1320-1345) yang kawin dengan KARAENG BAYO berasal dari Bonthain yang menurunkan raja-raja Gowa selanjutnya.
|
| 2. |
Pusat Kerajaan Gowa ini terletak diatas bukit Takka'bassia yang kemudian berubah namanya menjadi Tamalate, tempat ini menjadi pusat Kerajaan Gowa sampai kepada masa pemerintahan Raja Gowa ke-VIII I-PAKERE TAU TUNIJALLO RI PASSUKKI (1460-1510).
|
| 3. |
Dalam masa pemerintahan Raja Gowa ke-VI TUNATANGKA LOPI 1445-1460) terjadi pembagian kerajaan, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo, masing-masing dipegang oleh kedua puteranya yaitu Kerajaan Gowa dipegang oleh BATARA GOWA TUNIAWANGA RI PARALEKKANNA sebagai Raja Gowa ke-VII (1460) dan Kerajaan Tallo dipegang oleh KARAENG LOE RI SERO sebagai Raja Tallo Pertama.
|
| 4. |
Raja Gowa ke-IX DAENG MATANRE KARAENG MANGNGUNTUNGI yang bergelar TUMAPA'RISI KALLONA kedua kerajaan Gowa dan Tallo disatukan kembali dan diperintah oleh Raja Gowa, dan yang menjadi Mangkubumi adalah Raja Tallo. Kedua kerajaan ini sering disebut Kerajaan Makassar.
|
| 5. |
Pembangunan Benteng Somba Opu dari tanah liat pada tahun 1525 oleh Raja Gowa ke-IX TUMAPA'RISI KALLONNA (1510-1546). Dalam benteng ini dibanguna istana raja Gowa. Makassar (Kerajaan Gowa) menjadi pusat bandar niaga dengan syahbandar adalah DAENG PAMMATE yang diangkat pada tahun 1538. Sejak itu Makassar menjadi Ibu Negeri, dengan bertitik pusat pada Kota Raja Somba Opu.
|
| 6. |
Raja Gowa ke-X I-MANRIWAGAU DAENG BONTO KARAENG LAKIUNG TUNIPALLANGGA ULAWENG (1546-1565) Benteng Somba Opu disempurnakan dan dibangun dari batu bata.
|
| 7. |
Benteng Jumpandang (Ujung Pandang) yang mulai didirikan pada tahun 1545 pada masa pemerintahan TUMAPA'RISI KALLONNA kemudian dilanjutkan oleh TUNIPALLANGGA ULAWENG, maka oleh Raja Gowa SULTAN ALAUDDIN pada tanggal 9 Agustus 1634 membuat dinding tembok Benteng Ujung Pandang, dan pada tanggal 23 Juni 1635 dibuat lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang sehingga menyerupai seekor penyu.
|
| 8. |
Raja Gowa ke-XIV I-MANGNGARANGI DAENG MANRABIA dengan gelar SULTAN ALAUDDIN memerintah mulai tahun 1593-1639 dengan Mangkubumi I-MAL-LINGKAANG DAENG MANYONRI KARAENG KATANGKA yang juga sebagai Raja Tallo. Beliaulah yang mula-mula memeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan bertepatan pada malam Jumat tanggal 22 September 1605 atau 9 Jumadil-awal 1014 (H). Adapun yang meng-islamkan kedua raja tersebut dan penduduk Kerajaan Gowa-Tallo adalah ABDUL MA'MUR KHATIB TUNGGAL atau DATO' RI BANDANG yang berasal dari Minangkabau Sumatra Barat yang tiba di Tallo (Makassar) pada bulan September 1605. Pada hari Jumat, tanggal 9 Nopember 1607 diadakanlah sembahyang Jumat pertama di Mesjid Tallo dan dinyatakan penduduk Kerajaan Gowa-Tallo telah memeluk Agama Islam dan sebagai agama resmi, bersamaan pula diadakan sembahyang Jumat di Mesjid Mangallekana di Somba Opu. Pada masa beliau dibangun pula Benteng Panakukang yang terletak antara Somba Opu dengan Barombong.
|
| 9. |
Pada tahun 1596 Belanda dibawah pimpinan CORNELIS DE HOUTMAN dan DE KEYZER mulai menginjakkan kakinya di pelabuhan Banten dan mengadakan perjanjian persahabatan dengan Mangkubumi Kerajaan Banten, dan disusul satu rombongan dibawah pimpinan JACOB VAN NECK dan VAN WAERWIJCK yang tiba pada tanggal 28 November 1598. Tanggal 20 Maret 1602 VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) didirikan.
|
| 10. |
Belanda mulai menanam pengaruhnya di Kerajaan Gowa dengan membuka kantor dagang Belanda pada tahun 1607 dikepalai oleh CLAES LEURSEN yang merupakan orang Belanda pertama menetap di Makassar. serta membangun loji disebelah utara Benteng Ujung Pandang dan diberi nama Stad Vlaardingen. Dalam tahun 1632 seorang bangsawan Melayu, yaitu DATUK MAHARAJALELA beserta dua kemanakannya suami isteri datang menetap di Gowa, dan oleh orang-orang Melayu mengangkat DATUK MAHARA-JALELA sebagai Kepala orang-orang Melayu.
|
| 11. |
Setelah SULTAN ALAUDDIN meninggal dunia, beliau digantikan oleh anaknya yaitu SULTAN MALIKUSSAID yang menjadi Raja Gowa ke-XV (14 Juni 1639 sampai 16 Nopember 1653) dengan Mangkubumi I-MANGADA'CINA DAENG SITABA KARAENG PATTINGALLOANG. SULTAN MALIKKUSAID meninggal dunia pada tanggal 5 Nopember 1653.
|
| 12. |
SULTAN MALIKUSSAID digantikan oleh putranya yaitu I-MALLOMBASSI DAENG MATTAWANG KARAENG BONTO MANGAPPE, dengan gelar SULTAN HASANUDDIN, lahir pada tanggal 12 Januari 1631. SULTAN HASANUDDIN mulai memerintah dari tanggal 16 Nopember 1653 – 29 Agustus 1669 dengan pusat kerajaan tetap di Benteng Somba Opu. Yang menjadi Mangkubumi adalah KARAENG KARUNRUNG yang bertempat tinggal di Bontoala.
|
| 13. |
Antara tahun 1655 sd. 1669 terjadi peperangan antara Kerajaan Gowa dibawah SULTAN HASANUDDIN dengan VOC. Benteng Ujung Pandang direbut oleh VOC pada hari Selasa, tanggal 18 Nopember 1667, dengan kekalahan tersebut dibuatlah Perjanjian Bungaya (Het Bongaisch Verdrag) antara Kerajaan Gowa dengan VOC, kemudian Benteng Ujung Pandang digantinamanya oleh Admiral CORNELIS JANSZOON SPEELMAN menjadi Port Rotterdam dan kemudian ditempati oleh Belanda sebagai pusat pemerintahan militer dan sipil.
|
| 14. |
Benteng Somba Opu direbut oleh VOC pada hari Jumat, tanggal 24 Juni 1669. Pemerintahan Kerajaan Gowa dipindahkan ke Benteng Ana' Gowa di Taenga seberang Sungai Jeneberang.
|
| 15. |
Pada waktu ABDUL JALIL menjadi Raja Gowa ke-XIX (1677-1709) beberapa bangsawan dan penduduk Kerajaan Gowa meninggalkan Gowa dan pindah menetap di sebelah selatan Benteng Ujung Pandang yang kemudian tempat ini menjadi Kampung Beru (Kampung Baru). Disamping itu juga beberapa kampung yang telah ramai dan sebagian menjadi pengaruh dan dikuasai oleh ARU PALAKKA adalah Bontoala, Wajo, Lariangbangngi, Maccini, Maradekaya, Mamajang, Miri (Jongaya), Pannampu, Gaddong, Bara (Baraya), Pattunuang, Melayu.
|
| 16. |
Pada tanggal 31 Desember 1799 VOC berakhir. Pemerintahan koloni Belanda di Hindia Timur (Oost Indie) dijalankan berdasarkan Staatsregeling 801 yang telah mengalami beberapa kali perubahan terakhir dengan Regerings Reglement (RR) 1815.
|
|
17.
|
Pada tahun 1811 terjadi perobahan penguasa dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Inggeris dibawah Letnan Gubernur Jenderal THOMAS STAMFORD RAFFLES, setelah serdadu Inggeris mendarat di Cilincing pada tanggal 10 Agustus 1811 dibawah pimpinan Jenderal AUCHMUTY yang akhirnya pada tanggal 18 September 1811 Belanda menyerah. Pemungutan pajak mulai diberlakukan pada tahun 1813 antara lain pajak tanah (landrente).
|
| 18. |
Pada tahun 1816 Pemerintah Belanda kembali berkuasa di Hindia Belanda berdasarkan Konvensi London tahun 1814, penyerahan kekuasaan baru dilaksanakan pada tanggal 11 Desember 1816.
|
|
Untuk pertama kalinya, tanggal 9 November 2000, hari jadi Makassar yang ke-393 tahun diperingati, dan untuk seterusnya, bukan lagi tanggal 1 April seperti yang telah diperingati pada tahun-tahun yang lalu.Mengapa ?
Prof.DR. H.A.Mattulada (Alm) dalam bukunya yang berjudul : Menyusuri Jejak Kehadiran MAKASSAR dalam SEJARAH menulis sbb : menyusuri kembali jejak-jejak kehadiran Makassar sebagai term, dalam lintas sejarah yang dimulai pada abad Nagarakertagama, jaman Patih Gajah Mada di Majapahit, atau sedikit menjangkau kedepannya ketika tenggelamnya Kerajaan Sriwijaya, Singasari dibawah Raja Kertanegara (1254-1292), maka dapatlah kita mengambil beberapa kesimpulan bahwa konsepsi Makassar atau Mangkasara : itu mengandung sekurang-kurannya 3 macam pengertian, yaitu :
|
1.
|
Makassar sebagai group etnis, (suku bangsa indonesia) yang berdiam di sepanjang pesisir selatan jazirah Sulawesi Selatan, yang mempunyai bahasa dan peradaban sendiri yang hidup sampai sekarang.
|
|
2.
|
Makassar sebagai sebutan kepada Kerajaan Kembar Gowa Tallo dengan nama Kerajaan atau Kesultanan Makassar, sebagai sebuah kerajaan yang paling berpengaruhi di Sulawesi atau bagian timur Indonesia dalam abad XVI-XVII.
|
|
3.
|
Makassar sebagai ibukota kerajaan, bandar niaga yang tumbuh setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis dalam tahun 1511 dan dijadikannya pusat terdepan kerajaan Makassar yang mewadahi benteng-benteng Somba Opu, Panakkukang dan benteng Ujung Pandang (Jumpandang).
|
Saya tidak mengomentari tulisan di atas…
I just wanna ask you..
Ditengah kesibukan anda sekarang, masihkah anda menyempatkan untuk pulang ke makassar,..Beloved City..atau anda hanya bs mengingat kenangan2masa lalu anda di mks ditengah rutinitas yg begtu padat…Tapi sadarkah anda?? Apakah sbnarnya yng anda carii…
makassar memang indah dan akan terkenang sepanjang masa …
Assalamu’alaikum Saudara ku Daeng Rusle’,
Apa yang diceritakan saudara berbunyi ringkas tetapi ianya penuh dengan kenyataan yang amat baik dan bagus sekali. Saya amat merasa gembira dan bersyukur kerana telah di temukan dengan tulisan anda ini. Alhamdulillah……….
Saya ingin benar sekiranya Daeng Rusle’ dapat membantu saya dengan pertanyaan berikut saya ini. Sultan Hasanuddin ada mempunyai seorang abang kandung dan seorang kakak kandung daripada pernikahan di antara Sultan Malikussaid dan Pattopakang I-Sa’be Lo’mo’ Takontu. Kakak kandungnya bernama I-Patimang Daeng Nisakkang Karaeng Bonto Jena Fatima. Siapakah nama abang kandung Sultan Hasanuddin yang kiranya telah merantau keluar negeri dan telah mengizinkan penyerahan tahta Kerajaan Gowa ayahandanya Sultan Malikussaid. Abang kandungnya telah berbuat bergitu di atas sebab beliau adalah lebih cenderung kepada ilmu ajaran Islam. Saya amat-amat berharap saudara Daeng Rusle’ dapat membantu saya dengan persoalan yang sudah lama saya cari ini. Terima kasih
Wassalam
sejarah mempunyai kebenarannya sendiri-sendiri tergantung siapa yang memaparkannya untuk itu saya ingin menyampaikan kepada penulis (daeng rusli) agar tulisannya lebih detail (beberapa nama pengejaannya tidak benar contoh I Mangngada’Cina Dg. Sitaba, seharusnya I Mangngada’cinna Daeng Sitaba)pun dengan bebererapa bagian yang hilang misalnya pertemanan Belanda dengan Aru Palakka untuk menyerang kerjaaan Gowa. Saran saya demi obyektifitas sejarah saudara membaca “Syair Perang Makassar” tulisan Ince Muhammad Nurdin, seorang Melayu yang menjadi juru tulis Sultan Hasanuddin, buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.
Interesting comments..
Nice site you have!
The information I found here was rather helpful. Thank you for this.
Hi Bung Rusle,
It seems like you love your city so much! I give my two thumbs for you. We need more young people like you in this country who have the passion for their country and their local origins.
Mmmh, so I bet Makassar is so beautiful. I wish I could go there sometimes. Who knows.
Great article.
Memang sih di masa lalu Makassar jaya dan maju.Bukannya mengangkat isu etnis sih, tapi sekarang koq orang Bugis jauh lebih maju dibanding orang Makassar.Bahkan di Kota Makassar bisa dihitung jari berapa orang Makassar yang baik taraf hidupnya dibanding orang-orang Bugis.Bahkan dalam kepemimpinan Gubernur dan Walikota kebanyakan dipegang oleh orang-orang Bugis.Mohon analisanya secara mendalam mengenai hal ini, mengapa etnis Makassar “terpinggirkan’ dari kotanya sendiri.
buat sdr Suaib Sultan, : analisa secara mendalam mengenai hal ini, mengapa etnis Makassar “terpinggirkan’ dari kotanya sendiri umumnya terlihat :
1) bahwa kita enggan belajar dan makang ikang yang banyak;
2) pada Umumnya saudara kita di Makassar kebanyakang makang Kanre JAWA,Maccarita di Waroeng Kopi ( semisal di Pun Nam lah,,dll );
3) Terlalu cepat Puas ( Ejakulasi Dini ).
ass.wa.wb
saya minta tolong, mungkin ada yang tau siapa tokoh kerajaan gowa yang di utus ke pulau lombok dan sumbawa, karena literatur disini sangat minim bahkan saling bertentangan.
selain itu siapa abang sultan hasanudin ( seperti pertanyaan Tengku Syed Shahizan), saya mohon dengan sangat.
terima kasih sebelumnya,
lombok NTB.
Assalamualaikum
saribattangku iya ngaseng
Etnis Mangkasara sejak Belanda berusaha menancapkan kakinya di tanah sulawesi selatan, tidak pernah goyah sedikitpun menentang Belanda.Dimana mereka berada, disitu perlawanan selalu diadakan.
Hal inilah yang membuat orang-orang Makassar sangat dibenci Belanda dan segala akses yang memungkinkan etnis ini bangkit kembali dan kuat pasti akan dihalangi.
Kemiskinan, kebodohan dan pengucilan adalah makanan sehari hari rakyat ini. Jadi janganki heran, kami agak sedikit tertinggal setelah Indonesia Merdeka.
Tapi, hal seperti itu hanya masalah waktu, ke-Mangkasara-an tidak akan pernah menyerah oleh zaman. Kami mulai menata diri,melihat ke diri,melihat ke sekitar, dan membangun diri, perlahan tapi pasti.
Alam boleh tidak bersahabat, penaklukan wilayah baru tidak mungkin lagi di zaman ini, tapi penaklukan dan ekspansi diri sendiri sedang kami lakukan dengan telaten. Miskin materi hanya masalah waktu untuk di berantas
Terima kasih sekali buat kritikan dari saudara Bugis kami.
Hal ini ibarat vitamin yang amat mujarab, untuk membangkitkan semangat.
Salam, Rewako Gowa
nampaknya bung rusli ini hanya mengkopy artikel dari http://makassarkota.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=36&Itemid=48
buat bung NOT TO WAJO:
silahkan baca di bagian awal tulisan ini, jelas-jelas ada tertulis:
most of this page content is adopted from makassar’s official website which can be found in my “tanah air” link.
Jelas kan?
Pertama-tama, saya sangat menghargai kandungan web ini. Web seperti ini sangat bermanfaat bagi peningkatan pemahaman tentang asal-usul bangsa Indonesia. Namun dalam uraian, saya masih tidak melihat penjelasan mengenai dari mana asal kata “Makassar”. Apakah dari kata “mangkasara?” dan apakah ada rujukan dokumen dari kerajaan setempat. Kemudian, adakah kata itu punya makna atau arti khusus ? Uraian tentang hal itu akan sangat menarik dan sangat membantu pembaca Selain itu, saya usul, dapatkah uraian diatas dituliskan dalam bahasa Inggris agar dapat lebih dipahami oleh orang yang tidak berbahasa Indonesia. Terimakasih. Tetap semangat!!!
Wassalam,
Saya sedang mencari sejarah Aru Palakka, khususnya tentang upayanya memersatukan kerajaan-kerajaan di Sulsel melalui ‘perkawinan politik’ antar-anak raja, dan salah satu referensi yang saya temukan adalah tulisan di http://noertika.wordpress.com/ Trims….
Asnawin
kapan terakhir ke mks mas???
sy sudah setahun tidak kesana…
kangen makassarr
manstabst ces, ternyata jauh diseberang pulau sana daeng ruslailang tetap ingat kampung..
sejak kapan makassar pernah jadi bagian majapahit?
masak transaksi dagang dikatakan upeti. lah di-claim menjadi wilayah majapahit. ?
sejak kapan makassar pernah jadi bagian majapahit?
masak transaksi dagang dikatakan upeti. lah di-claim menjadi wilayah majapahit. ?