Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2006

Mungkin sebahagian orang di Indonesia kurang mengenal atau mendengar nama Danau Matano, yang merupakan danau terdalam di Asia Tenggara dan terdalam ke-8 di dunia (600mtr depth), bahkan di Sulawesi Selatan, danau Tempe (Wajo) dan danau Towuti (Malili) lebih sering diperbincangkan. Namun, bagi masyarakat Sorowako umumnya, dan PT International Nickel Indonesia khususnya, perusahaan penambangan nikel terbesar dunia yang area pertambangannya meliputi Sorowako- danau Matano merupakan sumber energi dan penghidupan yang sangat vital, sehingga ketergantungan terhadap danau Matano ini sangat tinggi. Danau Matano sendiri terletak di Sorowako, kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu TImur, Sulawesi Selatan. Letaknya berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Dengan panorama indah yang dikelilingi oleh pegunungan Verbec, danau Matano ini sangat layak dijadikan tujuan wisata. Pasir pantainya yang putih, dengan ombak yang ramah namun masih memungkinkan untuk berolahraga air semisal renang, layar, ski air, kano dan menyelam. Kecerahan air yang mencapai 23meter sangat menggoda untuk olahraga snorkling dan diving, apalagi ikan-ikan yang hidup di danau ini merupakan ikan yang sangat khas dan tidak dijumpai di daerah lain. Beberapa event lokal dan nasional pernah diselenggarakan disana, sebutlah lomba perahu dayung tahunan, Sunday market, year end party PT INCO, sampai kompetisi renang nasional PRSI menyeberangi danau Matano. Di daerah Sorowako ini, ada tiga pantai yang kerap dikunjungi masyarakat dan karyawan PT INCO yakni pantai Old Camp, pantai Idee (Pontada) dan pantai Kupu-kupu (Salonsa). Di sisi danau lainnya, desa Nuha, Tapulemo dan desa Matano, juga memanfaatkan danau matano sebagaimana masyarakat Sorowako.

Danau Matano, yang berarti mata air dalam bahasa Dongi, bahasa asli Sorowako, terbentuk dari ribuan mata air yang muncul akibat gerakan tektonik; lipatan dan patahan kerak bumi yang terjadi di sekitar daerah litosfir yang membutuhkan waktu lama untuk terisi oleh air dan membentuk danau sekitar 4juta tahun yang lalu. Di area Sorowako, juga terbentuk dua danau lainnya, danau Mahalona (kedalaman 60mtr) dan danau Towuti (kedalaman 200mtr). Air yang mengalir dari Danau Matano dialirkan melalui sungai Larona ke Danau Mahalona kemudian ke Danau Towuti dan selanjutnya menuju muara melalui sungai Malili dan berakhir di Laut Bone. Sungai inilah yang menjadi penggerak dua PLTA milik PT Inco Tbk, yaitu PLTA Larona dan PLTA Balambano. Bahkan tidak lama lagi Inco juga akan membangun PLTA yang ketiga yang sumber energinya berasal dari Danau Matano, yaitu PLTA Karebbe.

Danau Matano tak hanya terkenal karena panorama alamnya yang mempesona. Di sana juga ternyata menyimpan banyak keunikan. Dari letak dan komposisi kimianya yang khas hingga kekayaan fauna endemik yang hanya dapat ditemukan pada danau tersebut. Dan yang paling membanggakan pula, dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan tidak terjadi perubahan signifikan terhadap ekosistem danau sejak 1930-an hingga saat ini. Bahkan karena kekhasannya, beberapa ilmuan menilai danau di Sorowako, terutama Danau Matano patut diusulkan menjadi world heritage. Bagi PT Inco, hasil kajian dari para ahli lingkungan tentu sangat menggembirakan. Fakta ini sekaligus membantah tudingan banyak pihak bahwa danau yang digunakan PT Inco sebagai PLTA telah tercemar limbah PT Inco.

Posisi dasar danau sangat khas, dimana letaknya lebih rendah daripada permukaan laut. Suatu gejala alam yang langka di dunia, hanya dilampaui oleh laut Mati, di lembah Jordan Mesir. Danau Matano juga bersifat isotermal, yang berarti beda suhu antara permukaan dan dasar danau kurang dari dua derajat celsius. Kecerahan air 23 m, padahal banyak danau lain di Indonesia hanya beberapa meter bahkan  dm saja. Sifat khas lain di jumpai di dekat Desa Matano dimana beberapa mata air muncul dari dasar danau. Lalu pada kedalaman 200-300 m dapat dijumpai kolam ikan dengan indikasi aliran gravitasi di dasar danau. Jenis flora dan fauna yang hidup di Danau Matano bersifat endemic yang masih terjaga dengan baik. Secara awam, flora dan fauna endemik adalah mahluk hidup yang hanya ditemui di suatu tempat dan tidak bisa ditemukan di tempat yan lain.

Diolah dari berbagai sumber:1. Catatan pribadi, selama bekerja di PT INCO (2004-2006) 2.Internasional Symposium the Ecology and Limnology of The Malili Lakes – LIPI, 20-22 Maret 2006 di Hotel Salak, Bogor-Jawa Barat. Atas izin pihak Govrel PT INCO 3. Wikipedia 4. WeBlog: http://jalansutera.com, Weblog pribadi milik Pujiono (melalui konfirmasi)

Read Full Post »

koetoe lontjat

Gak terasa, per tahun 2006 ini saya sudah 5 kali loncat perusahaan. Di usia saya yang masih 30tahun ini, dengan pengalaman kerja ‘hanya’ 5tahun, saya tergolong ajaib dan menjadikan saya risih. Pemeo bahwa lepasan ITB adalah ‘kutu loncat’ sejati menjadi pembenaran saat orang membaca resume saya.

Setiap kali saya melakukan wawancara kerja dengan perusahaan tertentu, pasti mereka akan mempertanyakan ‘prestasi’ saya tersebut, dan tak lupa memberi pesan horror ‘kami khawatir seandainya Anda kami hire, Anda tidak akan lama di perusahaan Kami karena mungkin akan merasa gak betah atau apalah, sedangkan Kami akan bersusah payah lagi mencari gantinya”..Dengan pertanyaan itu, saya mesti menjanjikan komitmen pribadi, yang malah bisa membuat saya terbebani lagi…hehhee

Gambar diatas, di sisi kiri merupakan ‘kumpulan’ badge yang berhasil saya koleksi, mulai dari THIESS sampai badge yang sekarang di Chevron. Seharusnya ada satu lagi Badge Tripatra, namun saya kehilangan badge itu bersama dompet saya ketika masih kerja di Jakarta. Gambar di sisi kanan, merupakan Map Indonesia, dengan keterangan kota-kota dan perusahaan yang sudah pernah saya ‘singgahi’. Mulai dari Jakarta, Jambi, Sorowako, sampai yang sekarang Balikpapan.

Saya sangat menyadari bahwa kerja berpindah2 atau nomaden istilah tempo doeloe nya, sangat beresiko, bukan saja buat karir saya, tapi juga buat keluarga saya. Ditulisan saya sebelumnya, jelas menyatakan bahwa pindahan identik dengan kerepotan. Selain itu, karir saya tidak akan terbentuk dengan baik jika tidak menetap di satu tempat, syukur2 di tempat baru ditawarkan posisi yang lebih strategis, tapi kalo sama saja, rugi waktu dong. Memang sih, ada sisi lain yang sangat menentukan juga, bahwa setiap pindah kerja pasti diiringi dengan kenaikan kesejahteraan, Iya lah, masa pindah kerja tapi gaji turun, buat apa…hehehe

Namun, pelajaran yang sangat berarti dari proses ini, adalah saya saat ini berusaha untuk mensyukuri apa yang saat ini saya capai. Saya seharusnya menjadi laki-laki yang sudah saatnya berkomitmen pada karir dan perusahaan. Bertawakkal dan menerima semuanya dengan senang hati, karena apapun itu, saat ini adalah lebih baik dari yang kemaren. Alhamdulillah.

Read Full Post »

Potret Transformasi geografis dan sosiologis lelaki bugis

Oleh: Wijanna LaNori

Orang sekitar akrab memanggilnya La Caba’, lelaki 35 tahun asal SempangngE, Wajo. Nama lengkapnya Baharuddin Ompeng, beristrikan Nurdiana, wanita Bugis kelahiran Samarinda dan memiliki anak angkat/keponakan bernama Wahyu, 6tahun. Di usianya yang tergolong muda itu, orang awam akan menaksir usianya 10tahun lebih tua. Perawakannya kecil agak membungkuk, rambut gondrong jauh dari kesan rapi, berkulit gelap mengkilap seakan terbakar, buah dari hasil mangempangnya di Muara Badak selama lebih kurang 5 tahun. La Caba’ tergolong gesit dan tangkas, murah senyum dan senang bercanda dengan orang lain. Dulunya dia adalah seorang pabbalu lipa’ yang merantau dari kampung ke kampung di luar pulau Sulawesi. Sempat menginjak tanah Sumatera, Kalimantan bahkan Kupang untuk berjualan lipa sabbe hasil tenunan Sengkang, tepatnya daerah SempangngE, tempatnya dilahirkan. Namun kini, dia adalah petani petambak, atau dalam bahasa lokalnya, pangempang. Dari hasil mangempangnya yang seluas 7hektar itu, dia dapat membeli sebidang tanah rawa di Mangkupalas, Samarinda Seberang dan membangun sendiri, sebuah rumah kayu panggung diatasnya.

Di penghujung tahun 1980an, selepas SMA di SempangngE, La Caba’ turut beserta pemuda-pemuda sekampungnya massompe (merantau) ke luar Sulawesi, dengan menjadi pabbalu lipa’ sabbe, pedagang sarung Sutera (lipa sabbe’) berkeliling Indonesia. Umumnya, daerah yang dituju adalah Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, atau Papua. Namun ada juga yang berjualan lipa sabbe di pulau Sulawesi juga, dari Makassar, Takalar, sinjai, luwu, Palu, Banggai, sampai ke Gorontalo. Beberapa dari mereka sempat juga menjejakkan kakinya di daratan Jawa, namun tidak banyak, mungkin dikarenakan keberadaan Sarung Pekalongan atau kain batik yang juga mendominasi waktu itu. Disetiap kota, biasanya para pabbalu lipa’ ini menyewa sepeda motor utnuk membantu mobilitas mereka untuk menjajakan lipa sabbe nya dari kampung ke kampung. Di dekade sebelumnya, para pabbalu lipa ini hanya berjalan kaki dari kampung ke kampung, kadang pekerjaan ini mengundang resiko tinggi, bahkan nyawa mereka. La Caba’ bertutur, dulu di tahun 1960-an, La Tellong bin Ompeng – kakak lelakinya lain ibu, dirampok dan dibunuh bersama rombongannya ketika mabbalu lipa’ di pedalaman Barru atau Sinjai, kuburannya tidak diketahui sampai sekarang.

Motivasi para pemuda SempangngE massompe umumnya selain karena alasan ekonomi, juga didorong oleh semcam budaya atau persepsi yang turun temunrun bahwa lelaki bugis dikatakan sukses apabila sudah pernah massompe, mengadu nasib di negeri orang. Banyak cerita sukses dibalik budaya massompe’ ini, namun tidak sedikit juga yang kembali dengan tidak membanggakan, bahkan tidak jarang hanya nama saja yang kembali alias meninggal di tanah sompe’ (tanah rantau). Beberapa diantara mereka pulang setelah 1-3 tahun, namun ada juga yang memilih untuk tidak kembali, terlebih karena penghidupan di sompe’, negeri orang, lebih baik ketimbang kembali ke negeri sendiri. Seorang sepupu Caba’, La Taming, memilih bermukim di Malaysia sejak 30 tahun lalu, dan sampai hari ini juga tak pernah mengirim berita. Para pabbalu lipa’ umumnya lebih sering kembali ke kampung, terlebih setelah dagangan lipa sabbe’nya habis setelah beberapa bulan, untuk kemudian berangkat lagi dengan membawa lipa’ sabbe baru. Profit margin dari berjualan lipa sabbe ini umumnya cukup tinggi, bisa sampai 10kali lipat harga pokok lipa sabbe’. Lipa sabbe ini dibungkus dalam beberapa bungkus kain lipa juga, tiap bungkusnya berjumlah paling sedikit 10 kodi (1kodi=20sarung), beratnya bisa mencapai ratusan kilo. Bisanya lipa sabbe ini diambil dari seorang ’boss’ yang bertindak menjadi ’sponsor’ dan distributor. Setiap pabbalu lipa mengantongi sejumlah uang dari sang Boss untuk biaya perjalanan dan akomodasi selama mabbalu’ lipa’. Namun, ada juga pabbalu lipa yang berangkat dengan swadaya dari hasil tenunan istri atau perempuan keluarga di rumah. Wanita bugis, sejak berusia baligh, umumnya sudah mahir memainkan alat tenun yang biasa di tempatkan di bawah rumah panggungnya. Satu lipa sabbe nya bisa diselesaikan dalam 3hari sampai 1 minggu, tegantung tingkat kesulitan corak dan bahannya. Mereka kadang meracik sendiri cello’nya (warna), sehingga awam didapati jemari tangan wanita Bugis ini berwarna merah kebiruan hasil meracik wennang cello (warna benang)tenunannya.

Kembali ke cerita La Caba’, setelah berdagang lipa sabbe bersama kakak lelakinya La Sawang selama lebih kurang 10 tahun, akhirnya di awal tahun 2000an, dia singgah di Samarinda Seberang, di area Mangkupalas, daerah yang dia sebut sebagai ”ogi Mammesseng’ atau bugis semua, berkenalan dengan beberapa orang Bugis disana, kemudian memperistri salah seorang putri juragan Empang setempat, Haji Haddise. Kemudian dimulailah transformasi kehidupannya, berbekal tabungan hasil mabbalu lipa sabbe urunan bersama kakaknya La Sawang, dia membeli empang seluas 7 hektar milik mertuanya di kawasan Muara Badak, atau lebih sering disebut Muara saja. Kakaknya sendiri, La Sawang, karena keterbatasan fisik, lebih memilih menjadi seorang penarik Ojek Motor di daerah Loa Janan, Samarinda Seberang juga, sekitar 5km dari Mangkupalas.

Ditemani oleh adik lelakinya, La Saha yang dibawanya dari kampung SempangngE, dia menggarap dan mengolah empang ini untuk menghasilkan udang windu dan kepiting untuk kemudian dijual ke tengkulak setempat. Tengkulak, atau dia lebih senang memanggilnya sebagai ’Boss’, umumnya lebih berfungsi sebagai Godfather bagi para pangempang asuhannya, mulai dari membantu biaya ’pengolahan’ empang dari berwujud rawa menjadi empang yang produktif, sampai ke bantuan biaya mendirikan rumah para pangempang. Namun, sesuai perjanjian awal diantara keduanya, hasil empang ini berupa udang atau kepiting harus dijual ke ’Boss’ ini. Harga yang dipatok lumayan tinggi, untuk Udang Windu kualitas ekspor yang rata-rata sebesar telapak tangan laki-laki dewasa, dihargai Rp 150,000/kilogram. ”Tapi, kalo udangnya ada cacatnya, misalnya sisiknya kurang bagus, maka tidak akan diterima oleh Boss, karena tidak bisa diekspor”, katanya, ”harga udang yang ’cacat’ akan jatuh ke kisaran Rp 15,000/kg saja, nah ini yang biasanya dijual di pasar lokal saja”. Para pangempang ini hanya memproduksi udang dan kepiting, karena nilai jualnya yang tinggi karena berorientasi ekspor. Untuk jenis ikan bolu/bandeng atau ikan lainnya, mereka tidak begitu bersemangat, karena umumnya hanya untuk konsumsi lokal dengan harga maksimal Rp 15,000/kg.

Untuk perjalanan ke Muara, La Caba menggunakan speed boat dari kayu yang juga dibelinya atas jasa baik “Boss’nya. Perjalanan ke Muara ini ditempuh dalam waktu 3 jam dengan menyusuri sungai Mahakam. Jadwal mangempang di Muara ini biasanya selang seminggu-seminggu, artinya seminggu di Muara, seminggu balik ke Mangkupalas. Kadang-kadang kalau musim panen udang, dia bisa tahan sampai 2 minggu di Muara. Dalam setahun, La Caba bisa panen 3kali, setiap panen bisa menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp. 30juta. Duit inilah yang ipakainya untuk membeli investasi tanah dan membangun rumahnya di Mangkupalas. Juga, sekiranya perlu, dia mengirimkan duit hasil empang ini ke kakak-kakaknya yang masih bermukim di SempangngE.

Bulan mei kemaren, La Saha, adiknya menikah dengan gadis bugis setempat, dan kemudian memutuskan untuk kembali ke Sempangnge beserta istrinya, tidak menjadi pangempang mengikuti kakaknya. Kini, La Caba, ditemani istri tercintanya mengurus empang berdua. Kelihatannya, dia akan menghabiskan sisa hidupnya menjadi pangempang di Muara, tidak berniat kembali lagi ke SempangngE, Wajo.

Read Full Post »

after seeking for long time, finally I found Kapurung’s restaurant in Balikpapan at my weekend jpurney with frined and family at Saturday August 6, 2006. (The day was in 1945, the arrogant America bombing Hiroshima, Japan)

 

Kapurung hanya bisa dibuat dengan keberadaan sagu berjenis Tawaro. Jenis ini yang agak sulit ditemukan di luar Luwu – Sulsel. Kalau jenis sagu biasa sih banyak di seantero negeri Nusantara ini, tapi kalo tawaro, it’s a rare kind. Saya sempat ber-narsis ria di depan waring Kapurung itu, soale agak susah nyari warung khas sejenis ini di kota Balikpapan. He3

Foto disampingnya, hmm, kembali ke masa kecil, ini dibuat pas hari Minggu, Agustus 7, 2006, sore, kita bersama teman dan keluarga berwisata ke pantai Monumen Balikpapan, what a wonderful beach is it. Pasir putih, ombak yang bergulung-gulung (hehe, maksudnya?), gak heran banyak warga yang memanfaatkan nya unutk berenang di alut dan jet motor ski. Sempat nanya, berapa rental jet ski nya se jam, si empunya bilang “Rp 600,000/jam”..what?? mahal amit…mending gak usah deh kalo segitu….hehhe

Read Full Post »