Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2007

Hari ini adalah Jumat yang barokah buat diriku. Balikpapan yang akhir-akhir tak pernah karib dengan panas mentari, dan lebih sering akrab dengan cumbu rinai hujan yang tak lebat, seakan turut merasakan sejuknya hati ini.

Setelah lama tertunda memeriksakan kehamilannya ke RSPB, RS Pertamina Balikpapan, hari ini mamanya Mahdi melakukan inspeksi rahim ke sana, oleh dr Bisma.

Jam 11.00 tadi, ada sms dari mamanya Mahdi,
cewe’ adekx mahdi, mate”
(maksudnya: perempuan, adiknya Mahdi, kawan)
istri saya selalu memanggil saya dengan kata mate =kawan

alhamdulillah, saya kok mau nangis dikasih berkah lagi sama Tuhan…
whaT a wonderful life is it….? Terima kasih Tuhan atas keajaiban-keajaiban yang Kau anugerahkan….

Advertisements

Read Full Post »

Dialah Pahlawan-ku!

iran-presiden1.jpg

Speechless rasanya menyaksikan foto-foto beliau dalam kesehariannya yang teramat bersahaja….hidupnya menjadi cermin buat penggemarnya, kata-katanya menjadi renungan buat lawan-lawannya…(adakah yang tega menjadikan dia lawan?)

Foto-foto ini saya dapatkan dari email seorang teman, tanpa mengetahui sumber kutipan. Mohon maaf buat yang merasa memiliki hak cipta foto-foto dan narasinya….

iran-president-5.jpg (more…)

Read Full Post »

pengasong-kecil.jpg

Saya, dan beberapa teman passompe perantau di luar Makassar tentunya sangat merindukan kisah dan cerita tentang Makassar.
Keterikatan secara kultural membuat kami selalu mencari tahu seperti apa Makassar sekarang?
apakah dia masih tetap kotor, panas dan semrawut?
ataukah dia sudah jadi megapolitan yang sukses dengan Gerakan membaca nya dan Great Expectation nya?
ataukah Makassar tidak ada geliat sama sekali?

bagaimana kabar Benteng Fort Rotterdam yang dulu menjadi tempat Diponegoro ditawan dan Hasanuddin menyerah kalah?
bagaimana kabar Pasar Sentral dan Pusat Pertokoan yang dulu saya sering melewatinya dengan ketakutan karena ada mitos Tata Saraila sering culik anak-anak SMP di situ?
bagaimana kabar bencong Karebosi, masihkah sangar dan beroperasi disana?
bagaimana kabar BTP dan perang rasial nya, sudahkah damai disana?
bagaimana kabar penjual lappo, penjual bassANG, penjual Coto bagadang, penjual gerobak kue, dll?
bagaimana kabar Perang antar Kampung di Bara-baraya, Ablam?
bagaimana kabara Pammolongan dan daerah tergolong “Texas” lainnya

lewat tulisan rekan-rekan, kami bisa ikut membaca Makassar kini…

kemaren, saya melewati 10 hari di Makassar dengan penuh inspirasi….maun nulis ini, mau nulis itu…
15 menit menumpang becak ke Losari membuat saya bisa bercerita apa harapannya daeng Becak itu, 10 menit bercengkerama dengan tukang foto kilat membuat saya menulis kisahnya di blog, 5 menit nyari koran di kios temanku menggugah saya menulis puisi ttg perempuan di Pongtiku, satu jam di pantai Losari membenamkan saya dengan ratusan foto sunset dan sunrise Losari yang indah, pagi-pagi terbangun di Pannampu…wow betapa hidup musik pasarnya…

Makassar, buat saya yang jauh ini, adalah kota inspirasi…

teman, bantu saya dengan berbagi dan mengirim cerita ttg Makassar dan sekitarnya ke http://www.Panyingkul.com

Tidak tergerakkah anda untuk menulis dan menceritakan Makassar dari mata kita sebagai warga yang biasa-biasa saja?
Saya kira sebagai blogger, kita memiliki potensi besar untuk menjadi penulis, yang tidak perlu hebat, yang penting bisa memotret lingkungan dan menerjemahkannya dalam tulisan.

Read Full Post »

[curhat]

tengadah-diantara-sapeda.jpg

[curhat] lagi

sesampah apa mulut yang kotor?
tanyaku padamu yang menuduh
sebuta hatimu atas nama perasaan, jawabmu

tapi bukankah tuduhmu
juga menyampahi perasaanku?

[selesai, no hard feeling]

Read Full Post »

Kembali ke Pannampu!

Melewati cuti selama 10 hari di Pannampu, seakan mengembalikan momen-momen kenangan saat saya masih sekolah di Makassar, walau tentu suasananya sudah jauh berbeda. Tinggal di Pasar Pannampu, yang penuh riuh bukanlah sekedar kenangan buat saya, tapi juga membentuk karakter saya. Suara musik dari penjual VCD di depan rumah ditambah teriakan penuh semangat para padangkang untuk menarik pembeli menjadi seperti alunan musik hidup yang terus menggema hingga ke tempat tinggal saya saat ini, Balikpapan.

pasara.jpg

Di Pannampu, bukan saja kita membentuk komunitas ekonomi yang menggeliat dari subuh hingga matahari sepenggalah, tapi juga membentuk komunitas kultural yang akrab satu sama lain. Kultur bugis, makassar dan semuanya berbaur dalam harmonisasi yang mempertemukan kebutuhan dan persediaan. Ketika lalat dan sampah kemudian menjadi anggota komunitas, maka lengkaplah ekosistem sosial di petak kecil di kota Makassar itu.

Berikut adalah foto-foto yang berhasil saya himpun dari Olympus E-500 ku tersayang.

pannampu1

Photo-1: Pasar Pannampu, bird view

2-mereka-datang-dari-jauh.jpg

Photo-2; Mereka datang dari jauh (more…)

Read Full Post »

jamal1jamal1

Ditengah arus digital masih ada juga sistem cetak foto analog yang bertahan, Cuci cetak foto Kilat. Teknik cuci cetak foto nya masih menggunakan teknik cetak foto tradisonal, dengan memanfaatkan ruang gelap. Jasa cetak foto kilat ini masih digunakan orang karena alasan kepraktisan, sekali cetak foto hanya butuh waktu 10-15menit saja, juga karena harganya yang sangat terjangkau.

*************

Masa pendaftaran masuk sekolah adalah masa panen baginya, karena banyak calon siswa yang memanfaatkan jasanya. Pak Jamal, yang saya temui pagi itu di lapak cuci foto kilatnya yang berupa gerobak yang dimodifikasi, mengakui bahwa dalam sehari dia bisa dapat penghasilan hingga ratusan ribu rupiah, bahkan mencapai satu jutaan. Sehari sebelumnya, saya tidak memiliki kesempatan berbincang dengannya, karena antrian pelanggan yang hendak cuci photo. Barulah pada hari senin, saat pendaftaran anak sekolah sudah berakhir, dia bisa meluangkan waktunya untuk ngobrol. Menurutnya, kalau bukan musim pendaftaran sekolah atau tenaga kerja usahanya menjadi sepi, dia hanya bisa dapat paling banyak Rp 50ribu sehari bahkan terkadang tidak ada sama sekali. Oleh karena itu, selain menekuni usaha cuci foto kilat ini, dia juga mencoba bisnis sampingan lainnya.

Jasa cuci cetak foto kilat, yang kalau di pulau Jawa dikenal dengan sebutan afdruk, merupakan profesi yang ditekuninya sejak tahun 1984 sampai sekarang. Bermula ketika berkenalan dan menjadi asisten seorang fotografer asal Belanda, Mr Jacoop, dia belajar teknik cuci cetak foto. Kala itu, di setiap akhir pekan, Mr Jacoop mengajaknya ‘ hunting’ di pulau Kayangan, Kodingareng atau pulau-pulau lainnya sekitar Makassar. Setelah kembali, mereka bersama-sama mencuci foto-foto itu di ruang gelap milik Mr Jacoop. Ketika Mr Jacoop kembali ke Belanda, Jamal telah terampil mencuci photo. Dia menjadikan keterampilan barunya itu sebagai peluang untuk memulai usaha, dan dengan honornya dari Mr Jacoop, dia membeli alat cuci cetak foto yang saat itu berharga Rp 200,000. “Kalau dinilai dengan harga sekarang, sudah Rp 18juta,” katanya dengan bangga. (more…)

Read Full Post »

dimuat juga di Panyingkul!

bex1

Nasib adalah rahasia milik Tuhan. Kita, manusia kecil ini, tak bakal tahu akan menjadi apa di kemudian hari. Pun walau rencana telah terurai. (Daeng Hamzah)

Minggu Subuh depan pasar Pannampu, saya menunggu taxi atau pete-pete. Ada janji dengan teman blogger di Losari untuk jualan kuisi – kue dengan selembar puisi, dan mengejar sunrise. Sepuluh menit berlalu, yang lewat hanya becak dan sepeda bermuat sayur. Pasar umumnya, memang memulai geliat nya di subuh hari. Saat kota masih lelap, saat kokok ayam masih satu-dua, saat ufuk di timur masih sipit, para pedagang berdatangan, menghantar kesegaran. Iqomat Subuh sayup-sayup memanggil yang masih lelap untuk kali terakhir. Sembahyang lebih utama dari lelap.

Tak sabar menunggu, saya kemudian menyetop becak berjok putih. Bentuknya khas becak makassar, kecil persegi – hanya muat dua orang dewasa, tidak aerodinamis. Becak makassar lebih simpel, bagian depan tempat penumpang duduk berbentuk segi empat. Dua roda sepeda diikat oleh besi pipa dibawah dudukan dari papan kayu setebal jempol orang dewasa. Jok penumpang biasanya dibuat dari jejeran karet ban yang dipotong memanjang dan diatur bersilangan, kemudian dilapisi sabuk kelapa atau spons dan dibungkus plastik tebal. Lantai pijakan penumpang dibuat rata dengan jalan. Atapnya dari terpal dengan rangka besi pipih selebar belebas anak SD. Disisi depan atas, biasanya ditempatkan gulungan plastik transparan sebagai pelindung di saat hujan. Dua buah papan kecil berukuran 20×20 cm ditempatkan di muka becak, diatas bemper dari sebatang pipa besi besar berdiameter 5cm. Daeng Becak duduk di bagian belakang yang berbentuk seperti sepeda ontel dicomot belakangnya. Dua batang besi bulat sejajar menghubungkan belakang becak dengan kursi penumpang, dengan as di bawah jok, yang berfungsi untuk bermanuver. Mengayuh pedal tak perlu bersusah-susah, karena jaraknya rendah dari sadel. Sadelnya rendah sejajar jok. Rem tangan berbentuk leher angsa ditaruh tepat dibawah selangkangan, dihubungkan dengan roda belakang. Kaki yang jenjang tidak menjadi syarat untuk menjadi daeng Becak. Yang penting kaki harus kuat dan keras, walau kemudian rentan kena varises. Bentuk sederhana becak makassar tentu menyesuaikan dengan topografi kota yang datar saja. Beda dengan di Jawa, yang becaknya besar dan bulat dengan sadel pengemudi yang tinggi dibelakang. Kalau penumpang hendak naik, bagian belakang becak harus diangkat menungging. Saat mengayuh, kaki menjinjit dan pantat naik turun, seperti bebek kalo berjalan.

Tidak seperti taxi atau pete-pete, tidak ada standard tarif untuk becak. Apalagi untuk rute dan tujuan yang tidak jelas. Biasanya, daeng Becak akan memulai dengan bertanya, “berapa biasanya kita bayar? Kalau kita tidak tahu tarif ‘biasa’ itu, mereka akan coba menyebut angka sebesar dua atau tiga kali tarif pete-pete yang sekali jalan dibanderol Rp 2000, tapi tidak akan semahal ongkos taxi, yang kalau di Makassar tarif buka pintunya sudah Rp 4700. Setelah melewati negosiasi yang mudah, saya bergegas naik di dudukan penumpang. Untuk memastikan harganya sudah pas, dia menanyakan lagi tujuan saya, “itu tempat yang kita bilang dekat jalan masuk ke Tanjung Bunga toh pak? Saya mengiyakan. (more…)

Read Full Post »

Older Posts »