Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2008

makunrai

Judul: Makkunrai – dan 10 Kisah Perempuan Lainnya
Pengarang: Lily Yulianti Farid
Penerbit: Nala Cipta Litera, 2008
Halaman: 152 halaman, 13x19cm

Anda tergolong lelaki bejat, atau perempuan yang menjadi simpanan lelaki bejat? Berkacalah pada buku ini. Di buku yang merangkum sebelas cerita pendek tentang perempuan dan semua unek-uneknya, mimpinya, dan -terutama – perasaannya, anda akan berhadapan dengan vonis menyakitkan, seumpama cap ‘neraka’ ditempelkan di jidat. Anda tergolong lelaki baik? Waspadalah, buku ini bercerita bahwa ada banyak mata perempuan yang menyimpan api di dalamnya, sanggup memata-matai ke’baik’an Anda. Sedikit Anda terpeleset dalam lubang pengkhianatan – yang tidak melulu berarti selingkuh mesum, juga selingkuh moral, maka serta merta Anda akan terperosok ke neraka ciptaan perempuan; menjadi lelaki bejat – yang harganya mungkin tidak lebih mahal dari upil. Dicari, dikorek dan dibuang atau ditindaskan ke bawah meja – tempat yang tidak akan pernah terlihat, kecuali oleh sarang laba-laba.

Sebelas kumpulan cerpen di dalam buku ini mengusung tema khas feminisme; perlawanan perempuan melawan simbol-simbol yang terlanjur dipelihara oleh kaum lelaki; kekuasaan atas gender. Bahwa dalam dunia yang ‘normal’, lelaki adalah penguasa, karenanya bisa berbuat semaunya dan semuanya. Lelaki dipuja kejantanannya bila istri dan anaknya bertebaran – dimana saja kapan saja, tapi perempuan haram bersuami banyak. Lelaki dianggap ‘biasa’ meninggalkan istri dan keluarga tanpa alasan, tapi seorang perempuan dianggap hina dina apabila meninggalkan rumah. Bahkan ada pemeo yang sangat stereotip, Lelaki pulang pagi disebut Arjuna, sedang perempuan yang pulang pagi disebut kupu-kupu malam. Sama indah sebutannya, tapi beda ‘rasa’ dan martabat sosialnya. Itulah, dunia yang ironis. Dunia yang kadang sering lupa menyadari ada kata ‘adil’ yang mesti ditegakkan atas semua hal. Terutama gender.

Sebelas cerita pendek disini bukan sekedar fiksi, bahkan saya yakin – terutama setelah membaca halaman “Daftar Inspirasi dan Catatan Lainnya” muncul karena tema-tema yang diungkap dalam cerita ini nyata adanya. Karenanya, cerita-cerita yang dikemas dengan tutur yang kadang runut dan kadang melompat-lompat, mampu menghidangkan cerita yang seumpama berkaca pada pengalaman diri, lumrah terjadi di masyarakat. Kadang merupakan tesis yang dicaplok dan dipindahkan ke ruang baca, kadang juga merupakan antitesis dari ketimpangan yang dihadapi – karenanya perlu dilempangkan, diluruskan.

Itulah Lily, penulis kreatif yang menginspirasi banyak penulis pemula di panyingkul, mengabarkan pandangannya tentang hal ihwal perempuan dan permasalahannya. Dia hadir dalam bahasa tutur tulisan untuk membela perempuan, dan dengan demikian mengutuk lelaki bejat. Di saat yang sama lelaki bejat sama jahatnya dengan perempuan simpanan – karenanya perlu juga dilempar rumahnya, tanpa kecuali. “Gila! Dari bahan apa sih lelaki tercipta? Tahunya hanya kawin lagi, kawin lagi. Brengsek Semua! (Nua, Diani dan Lelaki Bejat). Hasilnya, dia mengundang kita untuk turut menghukum para lelaki tukang kawin itu dengan melempari rumah istri simpanannya. Namun Lily kadang menutup kisahnya dengan teramat bijak, bahwa memendam dendam dan terus menerus menyalakan mesin perang tanpa batas waktu tidaklah lebih baik daripada kebejatan itu sendiri, sebagaimana dalam cerita Nua, Diani dan Lelaki Bejat. Toh drama itu akan terus menerus bergulir, selama lelaki masih dilahirkan. Dan anehnya juga, perempuan pun tak bosan-bosannya menjadi korban, walaun contoh sudah ribuan dibacakan, diceritakan dan disaksikan. Perempuan mungkin memang seperti padang pasir, meresap semua air hujan yang tumpah tanpa sanggup menahannya. Terutama ketika para lelaki bejat sudah lunglai oleh usia, dan memohon kembali ke pelukan perempuan-perempuan yang dulu dikhianatinya. Tragis.

Lily sesungguhnya tidak sedang hendak mengatakan bahwa semua lelaki bejat, hanya sebahagian. Lelaki kadang menjadi sosok yang dirindukan, yang dijadikan tempat pulang untuk kemudian bersandar, menjadi teman rbagi hidup. Kita semua tahu, Lily kini sedang me’nikmati’ hidup bersama dua lelaki yang cinta nya diungkapkan dengan indah..”butuh bertahun-tahun belajar menulis sajak sendiri untuk membalas sajak cinta keduanya” (Bertiga Sajak Sekeluarga, 2007). Dan kami, para anggota milis yang celoteh nya rajin diposting – untuk menyemangati, tentu bangga menjadi sahabatnya.

Ada dua catatan kecil sehabis membacanya yang sedikit membingungkan tapi bisa dimaklumi. Pertama, sosok Jenifer dalam cerpen “Api” membuat saya sedikit bingung. Di awal cerita tempat lahirnya disebutkan di Luwu 1946, namun kemudian terjadi duplikasi informasi yang hiperkorek di bagian akhir cerita; …pindah ke Surabaya, dan setelah ibu melahirkan aku, kami pindah ke Jakarta (Api). Dimana sebenarnya Jenifer di lahirkan; Luwu kah, atau Surabaya? Tentu kalau memikirkan nama tokoh “Jenifer”, saya bisa saja menyimpulkan yang benar adalah Surabaya, yang mana bapaknya adalah lelaki keturunan, bukan lelaki bugis yang menetap di Luwu. Nama Jenifer jarang ditemukan dalam daftar nama perempuan Bugis – beda dengan Mardiah, Dahlia, Marayya. Kedua, ini sebenarnya sangat sepele. Istilah bathup di cerita pendel bertajuk Pembenci Jakarta membuat saya perlu membuka kamus. Sependek ingatan saya, yang benar adalah bath-tub, atau bath-tube. Bukan bathup. Tapi sekali lagi, ini sepele saja. Mudah diabaikan, dan tentu saja tidak mengurangi kedalaman dan kedahsyatan cerita-cerita yang mengalir di buku ini.

Terakhir, saya hendak bernarsis ria. Lily Yulianti adalah sahabat saya. Di buku yang saya miliki ada tandatangan dan tandahati nya. He2. Kuru Sumange kak Lily! Lanjutkan bersedekah ilmu untuk kami yang kadang bebal dan pemalas. Dan kami tentu tak bosan membaca dan mendengar celotehmu.

Read Full Post »

aku-hendak-pindah-rumah

Kalau seorang Andrea Hirata digelari seniman kata-kata, maka saya – dengan bermaksud ikut meniru – menancapkan gelaran pada Aan sebagai pelukis kata-kata. Dia melukis dengan kuas yang lantang bercerita, diatas kanvas tema yang menarik dan membingkainya dengan kata yang diolah dari bahasa indonesia yang indah. Jadilah puisi. Lukisan puisi ini yang sering membuat kita terkesima, sebahagian besar adalah pemandangan keseharian seorang Aan yang bisa menjadi cermin buat siapa saja. Menatap lukisan kata-kata Aan, terutama buat penikmat puisi yang awam – umumnya diisitilahkan sebagai passanjak Koddala, termasuk saya he2 – maka refleksi yang terlontar adalah refleksi diri, deja vu!

Bukan bermaksud memuji, ah kenapa mesti menyembunyikan diri? – tapi puisi Aan banyak menginspirasi passanjak koddala untuk turut melukis kata juga. Di milis panyingkul, ada beberapa passanjak koddala yang kadang secara tidak senonoh ikut-ikutan berkompetisi dengan lukisan kata Aan yang terbiasa mendapat applaus kata-kata dari khalayak milis. Saya adalah termasuk passanjak koddala yang paling narsis. Sungguh tidak level, menorehkan sanjak ke dalam komunitas pencinta kegiatan menulis itu secara asupan sastra yang terbiasa mereka cerna adalah sekualitas lukisan kata Aan dan yang sekalibernya.

Tapi sanjak Aan adalah inspirasi. Demikian juga dengan Aan sendiri sebagai pribadi. Dia mendorong kita untuk terus membaca puisi, karenanya kita bisa tertular oleh sihir dahsyat kata-kata itu. Aan juga tidak suka mempersoalkan makna dari kata, walaupun kekuatan puisi Aan adalah makna dibalik kata dan alurnya. Petuah paling dahsyat dari seorang Aan muncul dari hasil kontemplasi – mungkin saduran, wallahu ‘alam, yakni ungkapannya yang mengatakan “aku menjadikan diriku sebagai puisi! setiap gerak dan laku ku adalah puisi. Karenanya puisi menjadi hidupku. (kata-kata terakhir ini hasil interpretasi saya sendiri, he2).

Kemaren, saya menerima kiriman buku puisi Aan bertajuk – Aku Hendak Pindah Rumah. Buku puisi ini adalah yang ke-2, yang perdana adalah buku sajak berjudul “Hujan Rintih-Rintih”.

Saya belum lagi menamatkannya, tapi saya sudah terburu2 membuat rangkuman. Tentu saja rangkuman yang subyektif, tapu pasti berangkat dari penilaian atas sajak-sajak Aan yang secara ikhlas dan tawadhu rajin diposting ke milis panyingkul, terutama setelah tayang di beberapa harian ibukota, Kompas misalnya.

Saya belum lagi membaca pengantar dari Hasan Aspahani, tapi 99 puisiaku midnight Aan di buku ini membuat saya tidak bisa tidur malam ini. Hanya untuk menulis sebuah pengantar buat saya sendiri.

Terakhir, mudah2an pujian disini tidak over dosis. Syukur2 bisa jadi ajang promosi buku bagus ini. Tapi saya kira, kata-kata Aan yang dilukisnya ini sudah bisa menarik sendiri para peminat tanpa digombali. Mau tahu rasanya? Baca saja sendiri.

Read Full Post »

di balik dinding kardus yang lapuk oleh basah dihempas hujan bergelontor-lontor, ia merapat badan menjentikkan jari mengukir lukisan dengan pensil tumpul, menggambar dirinya yang tirus dibekap hangat oleh tangan lembut yang dirindukannya. Ia ingat pernah guru ngaji di langgarnya bercerita indah, – hati sang suci ada bersama kaum seperti dirinya. lamat-lamat bibirnya yang kering tertarik melebar, mengukir senyum. syahdu. dibayangkannya sang suci tersenyum indah padanya. dan ia memeluk bayangan itu sehangat bantal empuk saat lelap dikelon emaknya, dulu. ah, betapa ia rindu padanya, pada sang suci, pada emak, pada ketulusan, pada semua impian. impian yang musykil saat ini.

dibawah atap daun rami yang menguning, lunglai dan tempias, sekali ditadahkan tangannya mengemis air yang lindas dari langit lepas, membayangkan cucuran suci seperti yang dulu dinikmati sesahabat me-wudhu-kan wajah dan tangannya. matanya mengatup mesra seperti sedang kasmaran dengan bayangannya sendiri. dari selembar buletin yang dikaisnya dari sampah langgar, ia pernah membaca; sang suci akan memberi syafaat buat umat yang membenamkan cinta untuknya, menunggunya dengan setia hingga perjumpaan indah di al-kautsar, telaga berisi madu dan susu. setiap saat dibisikkannya shalawat, setiap saat sejak itu. ia sering bermimpi telaga al-kautsar seindah gambar danau bening dari kalender usang yang ditempelkan didinding kardus gubuknya. semua hijau segar, ada lima angsa yang bermain, dan tiga burung bangau putih beterbangan riang di langitnya, menepis awan yang turun menyapa mesra. disana, mungkin, ia akan minum segarnya air telaga beraroma madu dan susu bersama sang suci. indah sekali. matanya tertangkup selama ia menikmati terbuai khayalan.

Read Full Post »

sang pemimpi

Dunia sesungguhnya perlu berterimakasih kepada para pemimpi. Mereka lah yang menyemarakkan dunia ini dengan hiasan-hiasan dan menjadi lebih indah, tidak sekedar hitam dan putih – sebagaimana hidup orang yang kelanjur terbiasa dengan takdir. Teknologi, karya seni adalah produk nyata para pemimpi. Pemimpi adalah orang-orang yang berhasil menapak semua kebebalan pikiran orang yang selalu mengandalkan silogisme dan rasionalitas. Pemimpi adalah pemimpin yang membawa kita ke masa depan.

Novel lanjutan Laskar Pelangi ini adalah pengembangan yang bergenre inspiratif dari novel sebelumnya. Kalau di Laskar Pelangi, kehidupan yang bersahaja dimuntabkan dan diangkat setinggi-tingginya dalam sebuah cita-cita yang ironis dan tak kesampaian, maka di novel Sang Pemimpi ini kita diajak beroptimis ria lebih berani. Betapa semua anakronisme menjadi silogisme yang masuk akal.

Ikal, Arai dan Jimbron adalah representasi tiga sosok pemimpi yg dibekali semangat dan kerja keras, mereka punya impian musykil dalam bentuk cita-cita yang dipasok oleh guru susastra mereka di SMA Bukan Main. Mereka bercita-cita terlalu muluk, memeluk altar kemasyhuran di Sorbonne, sementara di saat yang sama kaki-kaki mereka masih harus diseret ke pelabuhan ikan untuk kerja kasar – ngambit. Namun kemusykilan justru sudah berdamai dengan mereka sejak masih dalam buaian. Mereka adalah produk kegagalan masyarakat mencapai kesejahteraan. Justru karena hidup dalam lingkungan seperti itulah maka mereka kemudian tidak ragu berdamai dengan hidup, menantang kemusykilan. Arai yang adalah Simpai Keramat – generasi terakhir dari puaknya, Ikal yang adalah anak bawang di keluarganya namun senantiasa mendapat asupan semangat dan keyakinan dari ayahnya yang juara satu sedunia dalam kediaman, dan Jimbron – personifikasi semua keraguan. Melihat Jimbron dan obsesif kompulsifnya tentang kuda, saya jadi teringat Bubba dengan udang – dalam filem Forrest Gump. Pesan moral dalam novel ini jelas menunjukkan bahwa Obsesi kumpulsif adalah penyakit, tapi justru bisa menjadi inspirasi yang tak ada habisnya.

Bayangkan sekiranya anda punya obsesi kompulsif bertemu Tuhan Yang Agung, maka semua gerak laku hidup anda akan terstimulasi untuk mencari roda menuju obsesi itu. Bukankah itu adalah baik; dan obsesi seperti inilah yang melahirkan tokoh-tokoh konsisten yang kemudian mewarnai lukisan sejarah umat manusia ini. Abdulkadir Jaelani, Rabiah al-Adawiah, dan beberapa contoh sufi lainnya adalah manusia luar biasa dalam sejarah yang dianggap berhasil.

Novel Sang Pemimpi adalah novel yang tepat untuk memotivasi semua orang yang punya cita-cita, semuluk apapun. Cita-cita, mimpi, ataupun obsesi pada kenyataannya – menurut beberap filsuf – adalah nyata di alam lain. Tugas sang pemimpi adalah merajutnya dari mozaik-mozaik kemusykilan, mengandalkan semua resource – plus kerja keras dan konsistensi – menjadi bangunan utuh di alam nyata . Dan karenanya lah, manusia menjadi penoreh keabadian. Laku para pemimpi lah – baik yang berhasil maupun gagal, yang kemudian menjadi lukisan sejarah, dan kemudian menjadi sumber inspirasi para pemimpi lain setelahnya untuk melanjutkan lukisan itu.

What we do in life, echoes in eternity!

Read Full Post »

mahdi main bilyard serius

Berawal dari keseringan menonton program olahraga di StarSport atau ESPN, Mahdi jadi keranjingan permainan yang ada bola nya, terutama bilyard. Setiap ada program siaran kompetisi bilyard, dia pasti akan terpaku menatap bola-bola kecil itu berhamburan ketika dihunjam stik dari pemain bilyard profesional. Mahdi rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menikmati permainan ini. Sekiranya acara ini kemudian berakhir, maka dia akan menangis sekeras-kerasnya karena merasa masih pengen menikmatinya.

Pada setiap kesempatan berjalan-jalan ke Mall – baik ke BC atau Ramayana Rapak, maka matanya akan berkejaran dengan semua pernik bola-bola. Minggu lalu, pada akhir pekan kebetulan kami sekeluarga berjalan-jalan ke BC, rupanya matanya yang bulat itu menemukan mainan bilyard mini di stand mainan Matahari. Tak ayal, mainan itu langsung ditarik dan dibuka nya! Mahdi kemudian memainkan bilyard itu tepat di tengah mall. Beberapa pengunjung dan sales Matahari tersenyum-senyum menyaksikan polah si Mahdi ini. Sampai di rumah, mainan ini menyita hampir tiga harian jam bermainnya. Mudah2an saja ini adalah bakat yang bakal diusung terus sampai jadi pemain profesional! Amin.

(more…)

Read Full Post »

RS045996January 2008

RS045993

Awal February 2008, di atas pesawat Airasia

Maipa di Pesawat

Mahdi dan Maipa, Maret 2008

RS068716

Read Full Post »

[Buku] Laskar Pelangi

lp.jpg

Sejatinya adalah Kesahajaan. Novel ini sesungguhnya hanya bercerita tentang kesahajaan. Kesahajaan yang ironis. Berdiam pada sebuah pulau yang kaya sumber alam, mereka justru hidup teramat berkekurangan, yang kata muluk sepadannya – kesahajaan. Ironi inilah yang dikemas menjadi sebuah alur cerita yang demikian menariknya, memukau walau kadang berlebihan, dan disampaikan dengan cerdas dan jenaka seakan membawa pembacanya ke alam Belitong tempat anak-anak Laskar Pelangi ini tumbuh dan ditumbuhkan. Humor-humor yang ditampilkan juga tidak basi, tidak mudah ditebak.

Saya memerlukan waktu lebih dari sebulan menamatkan buku pertama ini. Bukan karena cerita novel ini kurang menarik, tapi terlebih karena saya mesti banyak melewati ‘kesibukan’ yang luar biasa.

Cerita dalam novel ini dimulai dengan sebuah adegan yang miris. Di sebuah sekolah sederhana – bahkan teramat bersahaja – seorang kepala sekolah SD Muhammadiyah dan seorang guru yang tulus, menanti dengan cemas murid-murid barunya. Kalau di lingkungan kita umumnya, banyak sekolah yang menolak pendaftaran murid baru karena kelebihan peminat atau keterbatasan calon muridnya dalam memenuhi criteria pendaftaran, maka di SD Muhammadiyah ini justru kelimpungan mencari murid. Bukan karena sekolahnya teramat mahal – sesungguhnya kosa kata ini pun juga mahal ditemukan di novel ini – tapi karena rendahnya motivasi orang tua di pulau kaya timah itu untuk menempuh pendidikan.

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »