Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2008

Prolog: Ole-ole, bukan oleh-oleh, adalah segala sesuatu yang dihadiahkan kepada rekan, keluarga atau siapa saja dari seseorang yang baru saja bepergian. Ole-ole dari Makassar yang lazim dibawa adalah: Minyak Tawon, Juice Markisa, Kacang Disko, Replika Rumah Tongkonan, Otak-otak, Sarung Sutra, Songkok Bone, Dange, Roti Maros, Coto, Konro…halah….!

Apa ole-ole nya dari Makassar? Saya sendiri bingung ketika di’tagih’ beberapa kenalan di Balikpapan. Bingung karena pertama, memang saya tidak bawa ole-ole yang biasanya orang suguhkan sepulang bepergian. Kedua, karena memang saya tidak punya (dan tidak mau punya) kebiasaan membawa ole-ole itu. Selain mungkin karena saya rada pelit, juga sebagian besar karena saya kikuk dalam urusan ole-ole ini. Kikuk menentukan apa yang pantas untuk dibawa. Kalau beli sesuatu, takutnya kurang atau berlebih. Berlebih kan mubazir. Terkadang juga pernah saya mencoba menjadi teman yang baik, membelikan ole-ole. Tapi rupanya respon mereka biasa-biasa saja, kadang malah tidak menyentuh yang saya bawa. Nah, dari pada kikuk – juga karena memang saya pelit – saya ambil saja jalan mudahnya. Tidak bawa ole-ole. Simpel tapi pasang muka tembok, ha3!

Tapi tundulu, kawan. Ini Rusle, bung. Tak elok rasanya kalau ada perjalanan yang tidak diabadikan dalam tulisan. Nah, sebagai pengganti ole-ole (sebenarnya hanya justifikasi kepelitan saja), maka tulisan inilah yang menjadi ole-ole ku dari Makassar.

Jalan Tol: Menyedihkan
Ungkapan ketus dan sinis pertama yang saya lontarkan ke Makassar ini adalah Jalan Tolnya yang saat ini sedang diperpanjang, perlebar, perkeras, permak, perbodden, perdomes, persetan deh!
“Masya Allah. Sudah macet berat, jalan rusak poranda, debu seperti halimun gunung, panas melelehkan keringat, eh disuruh bayar pula! Kenyamanan apa yang mereka berikan sampai kita harus membayar?
Jalan tol (tanpa jalur alternative) di Makassar ini sebenarnya pendek sahaja. Tidak heran kalau bayarnya pun murah sahaja, Rp 1,500 (kalo ndak salah). Tapi perjalanan melintasi jalan tol dari pertigaan Sudiang-Mandai ini betul-betul seperti neraka.
Dan biarlah saya merasa tak ikhlas membayar tol nya itu.

Poster Para Pembual
Nah, inilah kesinisan saya yang kedua. Sejak memasuki jalan tol yang menyedihkan itu, saya disuguhi banyak bualan berbentuk sampah poster. Seperti biasa, para tim sukses para pembual ini rupanya tidak begitu cakap melakukan house keeping di kota sendiri. Ribuan poster para kandidat calon walikota yang belum resmi benar bisa bertarung dalam pilwalkot Makassar ini memenuhi nyaris di semua riang public dengan kondisi awut-awutan. Masing-masing seperti berlomba membualkan diri, hanya mereka yang mampu menaikkan harkat Makassar (dari titik apa). Ada yang merasa pe-de mengaku sukses membangun Makassar di jabatan sekarang (padahal masih fresh kita ingat Daeng Basse yang mati kelaparan di kota ini), ada juga yang menyuarakan antitesisnya: Tidak Akan Membiarkan Rakyat Makassar Miskin dan Kelaparan! Ada yang memasang senyum di sana sini dengan yakinnya (padahal kata temanku dia punya seabrek kasus menunggu di pengadilan). Ada juga yang dengan sangat narsis mengumandangkan: Dia Datang Membawa Perubahan. Ada yang juga dengan congkaknya mengaku sebagai New Solution for Makassar. Ambe’ mua mi ces!
Tak kurang dari sepuluh pembual yang menjajakan dagangannya di Makassar saat ini. Tentu saja nanti akan mengerucut sekiranya sudah ada koalisi yang tetap untuk mengusung calon dan wakilnya nanti. Tapi yang jelas, kota Makassar yang kotor itu makin kotor dengan sampah bualan.

Kopdar Komunitas Angingmammiri
Kali ini bukan sinism yang saya angkat. Tapi semangat komunitas di komunitas blogger Angingmammiri. Saya sempat mengikuti satu kopdar dari tiga kopdar yang diadakan rekan-rekan AM. Alhamdulillah bisa ketemu mereka, bisa bincang-bincang langsung. Kopdar kali ini saya membawa si kecil Mahdi yang serta merta menjadi pusat perhatian mereka.
Suasana kopdarnya sendiri bisa dibaca di blog beberapa rekan berikut.

100 Hari Kesedihan
Tidak hendak mengkopi paste judul novel Marquez. Tapi memang ini lah yang saya rasakan saat ini. 100 hari kesedihan mengenang kakanda yang ‘pindah’ duluan. Terkadang, hati masih tidak percaya akan kepergiannya, nyaris saban malam saya selalu terkenang beliau dan selalu menyelipkan doa semoga bisa bertemu di alam mimpi. Walaupun nanti juga akan ketemu suatu hari, saat saya juga ikutan pindah.
Acara 100 hari kematian kakanda saya ini diperingati dengan sederhana saja. Keluarga mengundang tetangga di Pannampu untuk mengaji bersama, dan alhamdulillah malam itu tamat juga al-Qur’an. Semoga pahala membaca al-Qur’an ini bisa tertransfer juga ke pundit-pundi amal kakanda saya, Rusdiana. Amin!

Reuni Kawan Smansa; Dua Pentas
Pentas Satu. Kesedihan. Saya menyempatkan bertemu dengan rekan Dedy, Yayu, Ical, dalam suasana sedih. Mammi, orang tua mereka, yang hingga sekarang teramat akrab dengan kami, terbaring lemah di ICU Akademis karena kepayahan jantung. Kondisinya lumayan memprihatinkan, nafas dan jantungnya lemah nian. Apalagi ditengarai ada massa (tumor?) di paru-paru beliau. Saya pikir bukan doa kesembuhan lagi yang dibutuhkan beliau, tapi sudah pada taraf keikhlasan dan ketabahan untuk melewatkan saat-saat genting ini. Melihat beliau terbaring lemah di ICU dengan ventilator yang menancap di mulut nya itu membuat saya trauma. Ini mengingatkan saya pada kakanda saya yang sempat mengalami hal yang sama di Bogor tempo hari sebelum berpulang. Semoga yang terbaik diberikan kepada beliau, amin.

Pentas Dua. Kebahagiaan. Saya ber-reuni lagi dengan teman-teman di Manunggal. Kebetulan rekan saya Onte melepaskan masa bujangannya disana. Senangnya bisa bertemu teman-teman lagi. Hebatnya ada Ali Mukhtar Ngabalin – anggota DPR yg acapkali rebut selama siding itu – hadir memberi petuah pernikahan. Pak Ngabalin memang adalah ipar dari Onte. Juga ada pak Walikota Makassar si Aco menyempatkan hadir malam itu.
Yang sempat membuat saya takjub saat itu adalah gedung Manunggal itu rupanya kecil sahaja. Padahal, waktu saya dulu beberapa kali kesana, entah karena ikut lomba lukis anak-anak, entah juga waktu ikutan perpisahan SMP, gedung Manunggal itu terkesan sangat megah dan luas banget. Kok saat kemaren saya kesana lagi, kelihatannya kecil saja. Ah, mungkin karena badan saya yang membesar, he3.

Palopo. Kota Keluhan
Sebenarnya tak elok hati ini ini hendak berkunjung ke Palopo. Kota yang selama ini mendatangkan banyak keluhan. Hamper semua keluarga saya yang jadi pedagang di kota ini mengeluh tak habis-habisnya. Dagangan mereka tak begitu laris. Saya piker ini kan resiko berdagang, tapi kalo terus-terusan terjadi ya ada baiknya mereka hijrah mencari kota lain yang lebih menjanjikan.
Di kota ini, kota asal mamanya Mahdi, saya habiskan semalam saja. Saya sempatkan menziarahi kuburan paman sekaligus ayah mertua saya Haji Bandu, ipar sekaligus sepupu saya Anto sambil berpesan untuk membuatkan pusara yang layak, dan juga bibi saya Indo Sati. Saya sempatkan juga berkunjung ke paman yang sedang sakit, Haji Tiro. Stroke yang menghempasnya tahun lalu itu betul-betul meruntuhkan hidupnya. Seakan-akan beliau sudah finish sebelum berakhir pertandingan. Dari wajahnya hanya ada keputus asaan. Sayang sekali.

Bassang: Hasrat Tak Sampai
Sampai hari ke-sepuluh saya di Makassat. Tak sekalipun saya berhasil mendapati makanan favorit ini. Ah!

Advertisements

Read Full Post »

Pacar Mahdi

Ah, akhirnya ada yang bersedia jadi pacar Mahdi…

baca di: PacarkuW

Read Full Post »