Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘feature’ Category

 

halimun-di-utara-jakarta.JPG

Cisarua, 15 November 2008, 90 kilometer di Selatan Jakarta. Seharusnya hangat mentari yang datang menghantar pagi itu saat jarum waktu mengarah ke angka delapan, namun sepertinya alam sedang malas menampakkan lekuk tubuhnya. Titik-titik air serupa asap bergerombol membentuk halimun, ketika matahari kembali bersembunyi di balik rimbunan awan berwarna suram. Halimun seperti tempias dari atas langit dan perlahan beranjak turun menyelimuti perbukitan kemudian melingkupi jarak pandang sejauh belasan kilometer saja. Ribuan hektar perkebunan teh yang dikuasai pemerintah melalaui PTPN XI itu kemudian menjadi samar diantara titik-titik air ketika pagi itu rombongan kami ber-tujuh baru mulai menjejak langkah menyisir bukit-bukit berselimut hijau dedaunan teh (tea-walking) di Telagawarna, di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut.

 

menapak-jalan-teh.JPG

Rimbunan bukit-bukit setinggi puluhan meter itu seperti dilukis dengan komposisi warna homogen dengan gradasi hijau dari muda ke tua, dan garis-garis lembut yang rapi tertata diantara petak-petak teh yang vertikal dari puncak ke lereng dibawahnya. Perdu-perdu teh itu hanya setinggi lutut orang dewasa dengan dahan yang seperti membekap satu sama lain, menampakkan pucuk-pucuk dedaun hijau mudanya yang siap dipetik. Dihamparan lain, tampak berselang seling bebarisan pohon teh kecoklatan yang telah meranggas habis dipanen, sementara barisan lain berisi tetumbuhan muda yang masih miskin daun menampakkan jelas ujung batangnya yang basah oleh tanah coklat. Satu-dua petani pemetik teh bercaping tampak samar diantara rimbunan hijau bukit-bukit teh itu.

 

kampung-ciliwung-telagasaat.JPG

Bebukitan teh menghijau itu dibelah oleh jalan berbatu selebar lima meter, yang sepagi itu sudah dihilir mudiki oleh satu dua truk-truk besar pengangkut dedaunan teh. Beberapa tiang beton tergeletak begitu saja di sisi jalan, diantaranya terkelupas menampakkan tulangan yang berkarat. Sepertinya tiang-tiang itu adalah sepah rencana pembangunan jalur listrik yang tak jadi dipakai.

(more…)

Advertisements

Read Full Post »


amrozidalam.jpg

 

 

Tak bosan-bosannya media menyiarkan jalannya proses pelaksanaan eksekusi mati tiga pengebom pertama Bali; Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera. Ruang tontonan, ruang baca, dan ruang dengar kita nyaris tidak pernah melewatkan satu jam pun tanpa berita ini. Tiga bomber Bali ini tiba-tiba menjadi makin populer selama dua minggu terakhir, mengimbangi berita kampanye dan pemilihan presiden USA yang baru lalu. Bahkan menenggelamkan berita pilkada di sejumlah daerah.

Hebohnya, banyak pihak ikut-ikutan menambah suasana dengan menghadirkan ragam polemik di seputar eksekusi ini; soal cara eksekusi, soal wasiat, soal Peninjauan Kembali, sampai soal website yang menyerukan pembunuhan SBY.Semua orang seperti kelimpungan dengan soal eksekusi ini, siaran langsung dari beberapa lokasi ikut membetot perhatian kita seakan2 begitu pentingnya persoalan ini; Cilacap, Nusakambangan, Serang, Kuta Bali, hingga ke kediaman keluarga Amrozi dan Mukhlas di Tenggulun Solukoro, Lamongan, Jawa Timur. Prosesi pemakaman juga sudah disiapkan sedemikan rupa, termasuk prosedur evakuasi kenazah hingga lokasi pemakaman. Keluarga terpidana asal Serang, Imam Samudra sudah jauh-jauh hari menyiapkan tempat jenazah disholatkan. Masjid Al-Manar, yang berjarak 500 meter dari rumah keluarga Imam Smaudra, tempat dulu Imam Samudera kecil menimba ilmu mengaji, akan menjadi tempat jenazah di sholatkan.

Yang terjadi kemudian muncul ketidaknyamanan publik akan peristiwa ini. Keluarga Amrozi dan Mukhlas di Lamongan menjadi sangat terganggu dengan kehadiran para wartawan yang hendak meliput suasana di kediaman keluarga terpidana bersaudara ini pra dan paska eksekusi. Pantai Kuta di Bali menjadi lebih sepi dari biasanya karena dikhawatirkan ada efek balasan dari para pengikut bomber itu sekiranya eksekusi dilaksanakan, apalagi sudah beredar surat wasiat ketiganya yang salah satu isinya menyerukan pembunuhan terhadap beberapa pejabat RI termasuk presiden SBY, JK, Menhukam, Jaksa Agung dsb. Yang lebih aneh, jalur komunikasi seluler di Nusakambangan di non-aktifkan secara total sejak hari ini. Nusakambangan pun terisolir dari dunia luar. Petugas bahkan melakukan razia ekstra yakni mengamankan semua telepon seluler di pulau tersebut.

Suka tidak suka, ruang publik sudah terkooptasi oleh berita ini. Tridente pembom Bali ini kini menjadi komoditas berita laiknya selebritas di infotainment. Kita, kini terpaksa ikutan menunggu kapan eksekusi itu dilaksanakan, dan malah kalau hal buruk terjadi, mungkin masih akan disuguhi berita hangat lain paska eksekusi ini yang mudah-mudahan tidak terjadi, efek pembalasan dari kroni Amrozi cs.

Ah, saya sih tidak merasa begitu penting untuk diganggu oleh berita ini. Saya ikut menikmati sambil berdoa semoga mereka diterima dengan baik oleh Sang Maha Pemilik Jiwa, entah meninggalnya karena eksekusi, atau meninggal melalui proses alamiah sebagaimana keluarga mereka inginkan. Kita lihat saja nanti!

Foto di copy paste dari detik.com

Read Full Post »

ical97.jpgSetiap kali saya kehilangan seorang kawan yang pergi terlebih dahulu, saya selalu berusaha menuliskannya. Terutama karena saya ingin mengabadikan kenangan tentangnya melalui tulisan, apalagi kalau ia mati muda. Mati muda tentu bukan pilihan, dan bukan juga sesuatu yang harus disesali, karena ia adalah domain Sang Maha Penentu. Namun saya mencoba mengiringi kepergian para sahabat, keluarga dekat dan orang-orang yang patut dicintai itu dengan mengenang-ngenang hal yang indah tentangnya.

Semoga dengan begitu, Allah Sang Maha Penentu berkenan menghapuskan dosa-dosanya, dan melipatgandakan pahala kebaikan-kebaikannya. Dan dengan tulisan, saya berharap, saya masih akan mengenang nya hingga waktu menjadi abai, dan saya melebur bersama kenangan itu di hadapanNya.

Saya ingat, dan hanya itu yang melekat dalam kepala saya ketika pertama kali bersua, kawan saya ini datang dengan senyum. Ketika itu pertengahan 1997, dia muncul di pintu kost saya di Gerlong Girang Bandung, mencari adik saya, teman seangkatannya di SMAN 1 Makassar. Ya, kawan ini datang dengan sopannya, tersenyum dan ramah menyapa. Juga matanya yang mungkin tersenyum juga. Kalau tersenyum matanya menjadi sipit, rambutnya yang lurus kemudian seperti melambai di depan mata yang sipit itu. Dan saya yakin, senyum yang dikemas bersama mata yang sipit tentu senyum yang polos, mengajak bersahabat dengan tulus. Dia datang dengan senyum, dan senyum itu tentu punya banyak cerita. Cerita yang jalin menjalin mengantar hidupnya dari Makassar hingga ke Bandung yang, kalau bisa dibilang, begitu singkat.

Faisal Riza, nama kawan saya itu. Usianya tiga angkatan di bawah saya, waktu itu baru saja terdaftar sebagai mahasiswa baru jurusan Astronomi ITB. Tak banyak yang bisa ‘tembus’ perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia itu, terutama dari daerah timur semisal Makassar. Paling banyak hanya sepuluh diantara seribu mahasiswa baru. Dan dia bisa. Kami pun mencatatnya ke dalam daftar pendek mahasiswa ITB asal Makassar, yang memang cuman segelintir itu. Juga para alumni SMAN 1 Makassar, ikut bangga tentu.

Satu pencapaian luar biasa buat kawan ini dan kebanggaan buat kami, adalah Ical atau Paccala begitu panggilannya – sempat menjadi ketua Himpunan Astronomi (1999). Aktifitasnya ini sempat menjadi bahan guyonan saya,” Ah, kamu ini bisa terpilih jadi KaHimp kan karena di jurusanmu orang nya dikit. Setiap angkatan cuman 15 orang, itupun banyak ceweknya”. Ichal hanya tersenyum saja membalas candaan saya. Belakangan dia membuktikan, bahwa kapasitasnya sebagai pemimpin jauh melebihi sangkaan saya. Dari situs-situs yang saya telusuri, dan informasi di milis, Ichal sangat aktif di PSIK ITB, think tank mahasiswa ITB. Ichal juga sempat menjadi sutradara Film documenter “Atjech Humanitarian”. Luar biasa, dan saya menjadi cemburu tentu saja!

(more…)

Read Full Post »

anak-sekolah.jpgIrul, siswa kelas 8 salah satu SMP di kota Bogor, sebenarnya tak ingin libur di hari itu, 25 Oktober 2008. Sesuai jadwal, matematika dan prakarya – dua pelajaran kegemarannya sejak SD, disandingkan di hari sabtu itu. Tapi agenda politik kota Bogor merumahkan dirinya hari itu, bersama ratusan ribu siswa di kota Bogor; 152 Taman Kanak-Kanak, 285 Sekolah Dasar, 112 Sekolah Menengah Pertama, 52 Sekolah Menengah Atas, dan 62 Sekolah Menengah Kejuruan serempak meliburkan aktifitas pendidikannya demi pesta demokrasi ini. Sejatinya, ia dan teman-teman sekolahnya tak turut secara langsung dalam keramaian ini, namun dengan alasan kepraktisan dan ketertiban pemerintah kota berketetapan untuk menghapuskan enam jam pelajaran sekolah demi kesuksesan pemilihan langsung pertama ini.

Pemilihan walikota itu kemudian memang dianggap sukses, tidak ada kerusuhan, juga hal-hal lain yang memaksa aparat keamanan mengeluarkan pentungannya. Ketegangan hanya terjadi di bilik perhitungan suara, itupun hanya tergambar di kening pendukung calon yang resah suaranya jeblok. Merujuk hasil hitung cepat beberapa lembaga survei independen, kota Buitenzorg ini bakal diperintah lagi oleh incumbent walikota Bogor dengan keunggulan mutlak diatas 60 persen. Artinya, lebih dari setengah pemilih di Kota Bogor menyatakan keinginannya untuk dipimpin oleh sang Walikota untuk kedua kalinya, menyisihkan empat pasang kandidat lain yang punya hasrat politik yang sama. Satu hari kemenangan itu dirayakan meriah oleh sang calon terpilih dan para pendukungnya, namun satu hari itu juga menghilangkan kesempatan Irul dan teman-temannya untuk meraup ilmu yang sejatinya tidak murah itu.

Irul, dirumahnya yang tenang di Cibinong, tentu ingin mengisi hari lowongnya itu dengan bermain-main di luar rumah bersama teman sebayanya. Namun seperti pemerintah, ia juga khawatir kalau hari itu bakal rusuh. Dari pemberitaan yang disaksikannya di televisi, pilkada pertama ini cukup riuh dengan aksi para pendukung kandidat yang bertarung dan berpotensi menghasilkan konflik horizontal. Pilihan terbaik hari itu adalah dengan menjejak mata di ranah maya, browsing dan chatting dengan teman-temannya. Sempat pula dia menengok blognya yang lama tidak terupdate. Blog itu sejatinya hanya digunakan untuk meng-upload tugas-tugas sekolahnya. Ingin juga rasanya dia mencari tulisan atau berita yang bisa menukar keinginannya belajar matematika dan prakarya, atau paling tidak mencari postingan yang sejalan dengan aspirasinya, mengapa hari pemilihan harus dilaksanakan di hari yang semestinya dia bersekolah?

(more…)

Read Full Post »

copy-of-1-pasar-pannampu.JPG

note: Tulisan ini juga dimuat di Panyingkul.

Bapak saya, Haji Muhammad Nur, 67 tahun terlihat gelisah ketika sore itu duduk mengaso bersama anak-anaknya di ruang tetirah di salah satu rumah di bilangan Cibinong, Bogor. Sudah sepuluh hari ini ia berada di Bogor untuk berlibur dari akitiftas hariannya sebagai pedagang di Pannampu Makassar. Liburan ini juga dimanfaatkannya untuk menghadiri pesta aqiqah cucunya yang ke-12 yang dilangsungkan sepekan lalu. Sepuluh hari dilaluinya dengan bercengkerama bersama anak dan cucu-cucunya yang lucu, ia masih diminta untuk berlama-lama di Bogor, paling tidak sepekan lagi demi menuntaskan rindu. Tidak setiap tahun mereka bisa berkumpul bersama, begitu alasan utamanya.

Sebenarnya dia masih betah berlama-lama, namun ada satu hal yang membuatnya berat meluluskan keinginan anak-anak yang disayanginya itu. Pasalnya, pemilihan Walikota Makassar akan dilangsungkan Rabu depan, 29 Oktober 2008. Dia sudah mengikat janji dengan rekan-rekannya sesama pedagang di Pasar Pannampu untuk meramaikan pesta demokrasi ini. Di benak mereka semua, sudah ada satu nama kandidat yang akan mereka coblos di hari itu. Dan Aji, demikian beliau disapa oleh anak-anaknya, tentu tak ingin suara nya hilang begitu saja di hari ‘mattoddo’ itu. Satu suara beliau dianggap turut menentukan apakah kandidat pilihannya bisa menang atau kalah menuju kursi walikota Makassar.

“Apakah Aji khawatir dianggap warga kota yang tercela karena tidak menggunakan hak pilih? Ini kan sudah bukan jaman Soeharto, ketika Golput dianggap kriminal” cetus salah seorang anaknya. Anak yang lain menimpali, “Lagian, sewaktu semalam menonton acara debat kandidat di salah satu statiun TV kelihatannya tidak ada yang bagus tuh. Semuanya meragukan”. Meski jauh ribuan kilometer dari Makassar, mereka masih tetap setia mengikuti perkembangan kota tempat mereka tumbuh berkembang itu. Anaknya yang tertua ikutan menimpali, “Iya, kehilangan satu suara kan tidak berpengaruh juga”.

(more…)

Read Full Post »

haru.JPG

Seberapa kuat tangan kita melakukan perubahan – ke arah yang lebih baik, meski sekecil hempasan riak ombak di samudera lepas? Jawabnya standard: sekuat usaha Anda mengubah ide baik menjadi gerak laku. Transformasi ini sebenarnya mudah sahaja, hanya dibutuhkan momentum di awal. Momentum ini adalah semisal hidayah dari Tuhan. Tuhan mungkin sudah membisikkan banyak hal baik dan penting, namun bisikan ini hanya akan menjadi energi yang statis sekiranya tidak ada loncatan spirit dari manusia untuk memulainya.

Selepas makan siang yang lahap dengan paru goreng dan sebotol teh dingin segar di sebuah warung Padang depan Masjid belakang kantor, mata saya kembali tertumbuk pada sesosok perempuan paruh baya berwajah dekil, berbusana rombeng dan oleng, menenteng belas kasihan dalam sebuah kantong keresek hitam. Ia menengadahkan mulut kantongan itu kepada siapapun yang berlalu di hadapan mereka. Dari mulutnya yang hitam dan kering, tak lupa diselipkan senyum tersisa yang seperti dipaksakan, lirih ucapan baku yang dilagukannya setiap saat “Den, bagi rezeki nya Den“.

Di lengan perempuan yang dibalut sehelai kain sarung berwarna pudar kusam, menggelayut diam bayi hitam yang terpapar terik siang. Jika tak sedang asik menetek pada botol berisi air, sesekali bayi hitam ini menatap tegun tepat ke wajah perempuan yang mungkin ibunya itu. Tak jauh dari keduanya, asik bermain dua bocah kecil di pelataran mesjid. Keasikan mereka seakan menyiratkan pesan dunia lain yang bukan bagian dari fragmen miris yang diputar stripping saban hari di mesjid itu. Dua bocah itu, bersama sang bayi hitam mungkin tak sadar bahwa nasib mereka sedang bergulat dengan isi kantong keresek hitam yang ditengadahkan sang perempuan.

Semenjak saya pindah di kantor baru ini, sejak awal ramadhan kemaren, perempuan ini bersama ketiga anaknya selalu rajin berdiri di depan pintu pagar mesjid. Sesekali ia ditemani perempuan lain yang tak kalah rombengnya, juga lengkap dengan ‘pengikut’ yang jumlahnya sama, tiga anak kecil; satu di pelukan, dua dilepas bermain di pelataran mesjid. Secara tak sengaja, saya pernah menjumpai perempuan ini di stasiun Tanjung Barat, bersama-sama menunggu KRL menuju selatan Jakarta.

Saya tak sempat mengikuti hingga perempuan itu turun dari kereta, tapi hati saya berbisik masygul, perempuan ini menjejak langkah yang cukup jauh demi untuk mengemis. Bahkan, menurut pandangan ekonomi, perempuan ini menjalankan fungsi positioning dan segmentasi yang cukup baik. Dia mangkal di lokasi yang cukup menjanjikan bagi ‘produk’ jualannya. Mesjid tempat dia ber’jual’an adalah gerbang terluar dua perusahaan multinasional; Big-Four Oil World Producer dan World Leading Manufacturer in Food Industry, yang memanfaatkan gerbang itu untuk tetirah makan siang, sholat atau sekedar pulang ke kontrakan. Tentunya penghasilan karyawan2 itu lebih dari cukup untuk menyisihkan sebagian rezeki di jalan mulia, apatah lagi mesjid yang berdiri adem di sisinya tentu selalu mengingatkan untuk berlomba-lomba menenggak ibadah dunia untuk bekal pahala akherat kelak.

Mata saya mungkin tak awas, tapi setidaknya saya tak pernah melihat ada yang lalu lalang, singgah barang sejenak untuk mengisi kantongan rombeng itu. Meski saya sering mencuri duga isi kantongan itu, saya kira isinya hanya recehan pemberat saja, atau mungkin isinya selalu dikeluarkan dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan nyaman.

Jiwa pragmatis saya berusaha mengerti alasan mereka, para karyawan bergaji tinggi itu untuk melewatkan kesempatan mendulang pahala. Saban hari memberi berkah, memberi donasi kepada si perempuan sungguh bukan cara yang baik untuk membantu dia bangkit melawan ketakberdayaan ekonomi. Melihat postur si perempuan, dan daya tahannya berdiri dibawah terik selama lebih kurang tiga jam, dari sebelum duhur hingga ashar lewat, tentu menimbulkan rasa penasaran. Apakah tak sia-sia daya yang dianugerahkan Tuhan dengan tubuh sempurna itu dihabiskan hanya untuk menengadahkan tangan, merenggang waktu yang kiranya bisa lebih produktif dan mungkin menghasilkan lebih banyak?

Namun adakah yang lebih baik daripada memaki sebuah ketakberdayaan materi, yang mungkin berimbas kepada keterpurukan kreatifitas memanusiakan dirinya? Mungkin karyawan-karyawan itu sedang menjalankan ritual ‘mendidik’ si perempuan untuk mencari kail yang lain – yang lebih terhormat dibanding hanya sekantong keresek lusuh. Mengharap ikan tanpa kail, mungkin hanya bisa dipenuhi di pasar saja. Sedang pasar dipenuhi hukum yang jauh lebih rimba daripada masjid.

Ah, saya tak mampu berpikir serumit itu sekarang. Di benak saya hanya terngiang wajah kakanda saya – Rusdiana, yang padanya saya banyak berjanji untuk mengirimkannya banyak cahaya untuk alamnya kini.

Read Full Post »

Kisah (sedih) Pannampu

Geliat pasar Pannampu adalah geliat subuh hingga matahari sepenggalah. Di pasar Pannampu, ratusan pagandeng, pedagang dengan sepeda berkeranjang, dari segala penjuru Makassar seakan menetapkan subuh sebagai penanda dimulainya pertemuan rutin mereka saban hari. Setiap hari, kecuali dua lebaran. Mereka, para pagandeng-pagandeng itu berbaur bersama pedagang lainnya; yang bermotor, bergerobak, hingga yang panggul menempati selasar blok perumahan Pannampu.

Pasar Pannampu dan kompleks perumahan nya mulai dibangun oleh developer CV Cahaya Rahmat, milik pengusaha Benny Gozal di awal tahun 1980-an. Kompleks ini terdiri dari empat blok perumahan yang mengitari Pasar Inpres Pannampu, pusat niaga lokal di kecamatan Tallo. Kami sekeluarga tinggal di salah satu rumah di blok perumahan itu, sejak awal dibukanya. Pada masa awal pembukaan pasar hingga tahun 1986, lingkungan pasar adalah lingkungan asri. Bersih dan tertib.

 

Pendulum kebahagiaan warga beranjak ke titik nadir, saat Pemda Ujungpandang menetapkan Pannampu sebagai area TPA di tahun 1986. Danau Pannampu yang terletak di belakang perumahan dijadikan sumbu disposal/pembuangan sampah kota. Menjadi TPA (Tempat Pembuangan Akhir). (more…)

Read Full Post »

Older Posts »