Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘film’ Category

batman begins; why do we fall?

semalam nonton film Batman Begins ini di HBO, menceritakan flashback perjalanan Batman dari seorang anak konglomerat baek hati (gile, di Indonesia ada gak ya konglomerat yang berjenis ini), menjadi anak nakal yang desperate dan kemudian berkelana keliling dunia untuk menemukan arti keadilan, kemudian kembali ke Gotham city.

hanya satu hal yang kemudian tersisa di kepala saya, ketika si bocah Bruce Wayne jatuh terperosok ke goa dan diselamatkan oleh ayahnya, Thomas Wayne…

“why do we fall?”
“So we can learn to pick ourselves up”

kapan kita terakhir belajar dari kegagalan? entahlah, tapi secara pribadi, saya tidak begitu ingat seberapa sering saya belajar dari kegagalan ini, dan yang paling banyak justru mengulangi kegagalan ini. Kadang-kadang kemudian mengutuk diri yang bak keledai, terperosok ke lubang yang sama. apa yang kemudian saya lakukan? tidak lain adalah mengadu lagi ke Maha-Mendengar-Pengaduan….

kapan Indonesia belajar dari kegagalan? tidak pernaH. Seberapa tahun kita dijajah? 350tahun oleh Belanda, 3.5 tahun oleh Jepang. Lantas, apakah kemudian setelah 17 Agustus 1945 kita berhasil belajar dari ratusan tahun masa kelam itu? sejarah kemudian membuktikan, pemberontakan, korupsi, pembantaian anggota PKI, bencana alam, silih berganti….

sepertinya yang belajar hanya alam…mereka mempelajari perilaku busuk kita, kemudian pada saat yang tepat berbalik arah dan membantai kebodohan kita…

wallahu ‘alam bis showab…

Read Full Post »

Downfall: DER UNTERGANG

Saya tidak tahu, apa yang berkecamuk di pikiran suami-istri Goebbels, menteri propaganda pemerintahan Hitler, ketika satu persatu dari ke-tujuh anaknya yang masih belia disuapi Racun Sianida ketika terlelap di bunker persembunyian Hitler dan pembantu-pembantunya. Sebelumnya, adegan di film ini memperlihatkan dialog bagaimana si Ny Goebbels mengatakan “saya mengkhawatirkan nasib anak-anak saya jikalau pemerintahan Nazi sudah tidak eksis lagi di Jerman”. Kekhawatiran ibu yang tidak beralasan, yang kemudian ditimpalin oleh lawan bicaranya “biarkan mereka menjalani hidupnya sendiri”. Namun sang Ibu tetap berkeras untuk menghabisi nyawa anak-anaknya, sesaat sebelum mereka berdua juga bunuh diri.

Filem ini, lebih megedepankan sisi manusiawi, atau lebih pasnya, pergolakan perasaan ketika dalam kekalahan. Saat-saat terkahir pemerintahan Hitler dihabisi oleh serangan Rusia. Hitler dan Goebbles sendiri, bersama beberapa jenderal lainnya lebih rela menghabisi nyawa sendiri dibandingkan menyerah ke tangan musuh. Bahkan jenazah mereka diharuskan untuk dibakar sehingga tak akan dikenali oleh tentara Rusia.

Waspada: Film ini berkisah tentang 12 hari terakhir kehidupan pemimpin yang berciri khas kumis pendek tersebut. Dibandingkan dengan film-film yang mengangkat kisah yang sama, “The Downfall” mengangkat sisi humanis diktatator yang terkenal kejam itu.

Kisah di film ini bersumber dari saksi mata dan buku sejarah yang mengangkat kisah Hitler. Saksi hidup yang diambil ceritanya berasal dari orang terdekat Hitler, Traudl Junge. Junge adalah sekretaris Hitler ketika berada di dalam bunker.

Filem yang layak ditonton!.

Jenis Film DRAMA/WAR – ADULT (R)
Pemain BRUNO GANZ, ALEXANDRA MARIA LARA, JULIANE KOHLER
Sutradara OLIVER HIRSCHBIEGEL
Penulis BENRD EICHINGER
Production Company CONSTANTIN FILM
Official Homepage http://www.downfallthefilm.com/
Trailers http://www.downfallthefilm.com/
Duration 156 min

Read Full Post »

kingdom of heaven

Lihat Gambar

Kesucian, kebenaran, dan kebaikan hati itu terpatri dalam hati setiap manusia, dan hanya Tuhan dan manusia itu sendiri yang menyadari sepenuhnya. Bukan pada simbol-simbol fisik keagamaan. Kerajaan Surga itu ada di hati manusia yang baik, bukan di Yerusalem. Yerusalem hanyalah simbol ketuhanan yang coba diterjemahkan oleh manusia ke dalam bentuk fisik karena dasarnya manusia yang hanya terpuaskan oleh bentuk kebutuhan ragawi yang materialistik. 

Diilhami oleh khutbah Jumat (24Nov06) di Mushalla Nurul Islah BDI – Chevron Pasir Ridge yang menyebut ttg Film “Kingdom of Heaven” yang menceritakan perang Salib terutama ketokohan Sultan Saladin. Penasaran akan film yang terkenal itu (release May 2005), saya coba mencari film nya di rental langganan saya, rupanya ada. Namun, asumsi dan praduga saya ketika melihat CDnya, “wah ini pasti salah satu versi Hollywood yang biasanya negatif-minded. Sebagaimana sering kita temukan dalam film-film produksi Hollywood lainnya yang kadang kelewat ‘kritis’, ‘stereotype’ dan ‘negative’ terhadap Islam, terutama setelah tragedi WTC 9/11”.

Tapi, setelah menonton film tersebut yg berdurasi kurang lebih 2 jam, i was speechless, rupanya penyajian nya lebih netral, bahkan di akhir film diperlihatkan kemenangan Sultan Saladin dalam merebut Yerusalem, walau dengan susah payah dan melalui negosiasi yang elegan dengan Balian of Ibelin. Yang juga sangat menariknya adalah, filem ini malah menggambarkan sisi keburukan dari perangai dan misi para Crusader itu sendiri, yang selalu dianggap suci dan jarang dipublikasikan oleh Media Barat, walaupun tentunya juga masih banyak yang mempertanyakan validitas sejarah yang menjadi dasarnya. Seperti tokoh Guy de Lusignan dan Raynald de Chatillon yang haus perang, dan dengan menjual nama Tuhan beranggapan bahwa perang Salib adalah kehendakNya lewat to kill an infidel is not a murder, it is the path to heaven!” atau “There must be war, God wills it!”. , bahkan dengan cara yang bejat sekalipun,  membunuh kafilah muslim dan adik Saladin di masa damai. Banyak ungkapan kenetralan (atau kejujuran) yang diperlihatkan dalam filem ini, misalnya ketika Godfrey menasihati putranya, Balian, bahwa perang ini tidak seharusnya terjadi, bahkan seharusnya Muslim dan Kristen hidup berdampingan secara damai, bukannya berperang”…

Walaupun secara keseluruhan filem ini sangatlah bagus, namun ada dua hal yang membuat saya masih kurang sreg. Pertama, saya kurang yakin cara sholat Muslim Saracen (orang-orang Syria) yang berjamaah tapi posisinya terpisah-pisah tidak dalam satu shaf, ini terlihat ketika Muslim shalat di Messina (apakah banyak Muslim di Messina Italia waktu itu???) dan ketika di Ibelin yang juga sholat berjamaah namun shaf nya tidak teratur walau tidak dalam kondisi perang/darurat. Namun, sholat berjamaah yang dalam shaff teratur diperlihatkan ketika pasukan Saladin sholat di depan Yerusalem, saat jeda perang. Kedua, di filem ini kesan karakter Princess Sybillia sangat jablai (jarang dibelai) atau haus sex, apalagi pas ngelihat Balian, padahal posisinya waktu itu adalah Putri/Ratu Yerusalem yang seharusnya menjunjung tinggi martabat kebangsawanan (:p). Klimaksnya adalah ketika Princess Sybillia merayu Balian dan kemudian bercinta di istana Ibelin. Hollywood banget, yang bumbu sex gak pernah lepas, bahkan di filem ber genre perang Suci ini…:p

Pada akhirnya, init pesan yang ingin disampaikan sutradara Ridley Scott ini adalah bahwa apapun itu, perang bukanlah perintah Tuhan, ini hanyalah bentuk terburuk dari angkara nafsu manusianya akan kejayaan dan kekuasaan. Apalagi semua agama tidak satupun yang mengajarkan kekerasan terhadap sesama dan pesan damai menjadi inti dari semua ajaran. Rekan Bagus Pramono dari Komunitas Penulis Kristen, memaparkan…Dari segi cerita, film ini dihujani banyak kritikan, terutama dari kalangan barat dan pengkaji sejarah Perang Salib. Kritikan dilontarkan dengan tuduhan “memutihkan sejarah” dan beberapa agenda murni untuk mengendurkan ketegangan antara agama. Dilain pihak, saya kagum atas keberanian Sir Ridley Scott, Sutradara Inggris itu dalam membuat film seperti ini di dalam konteks dan semangat Barat yang kini kurang lebih anti-muslim. Scott telah membuat film yang kurang-lebih proporsional terhadap Islam yang diwakili oleh pasukan Saladin. Dan penulis skrip, William Monahan, menyatakan, “film ini menyuguhkan pesan bahwa, adalah lebih baik hidup bersama daripada berperang.”
Tentunya ini mungkin menjadi pelajaran buat Mr BUSH yang malah menganggap perang melawan terorisme setelah tragedi WTC 9/11 sebagai kelanjutan dari Crusade War atau Perang Salib modern. (baca ulasannya di sini: Bush Crusade).

Film ini ditutup dengan dialog antara Saladin dan Balian. Setelah penyerahan Yerusalem, Balian yang penasaran menanyakan seberapa nilai Yerusalem buat sang Unmercy – Saladin, “What is the Yerusalem worthed?”..dengan tersenyum Salading menjawab “Nothing”…namun setelah beberapa langkah, dia berbalik dan mengepalkan kedua tangannya di dada dan berujar “Everything”…seakan Saladin hendak menunjukkan bahwa sebagai sebuah simbol fisik, Yerusalem tidak lebih dari sekedar kota dan tanah, namun jauh di lubuk terdalam, Yerusalem adalah sebuah manifestasi kemerdekaan beribadah, suatu wujud akhir dari perjuangan, kesyahidan, yang mana setiap Muslim terobsesi untuk mencapai Kerajaan Surga melalui jalan suci itu.

banyak ulasan menarik yang perlu disimak mengenai film ini;
– dari rekan Komunitas Penulis Kristen: Ulasannya menarik dan sangat bagus, alinea terakhir mereka menulis: …..”Walau bagaimanapun Perang Salib adalah sejarah hitam akibat dari abusement terhadap ajaran Tuhan Yesus Kristus, bagaimana Lambang Salib Sang Raja Damai itu dijadikan ‘icon-perang’ selama hampir 4 abad. Pada akhirnya Perang-Salib ini dimenangkan oleh kubu Sabil. Tahun 1453 merupakan masa jatuhnya Konstantinopel, kota kebanggaan Kristen itu menjadi Negara Islam hingga sekarang. Maka, hendaknya hal tersebut menjadikan suatu bukti bahwa Perang-Salib itu tidak dikehendaki Tuhan.” ulasan lengkap baca disini.
– Priyadi. juga membahas filem ini, baca disini. …”Tokoh utama pada film ini adalah Balian dari Ibelin, salah seorang dari pihak Kristen yang menghendaki perdamaian dengan pihak Islam yang dipimpin oleh Saladin. Film ini berusaha untuk adil, ada protagonis dan antagonis di pihak Kristen dan Islam. Protagonis adalah orang-orang yang menghendaki perdamaian, sedangkan antagonisnya adalah orang-orang yang mencoba untuk menyulut permusuhan”.
– Bagi rekan-rekan yang penasaran dengan sosok the Unmercy Saladin dapat dibaca sosoknya di web Jay yang menulis tentang Saladin disini.
– Republika juga memuat ulasannya tentang bagaimana film ini disambut baik oleh dunia Islam disini. ...Film Kingdom of Heaven besutan sutradara Hollywood, Ridley Scott direspons positif oleh pemerhati film di dunia Islam, khususnya Arab. Film yang bercerita tentang pertempuran memperebutkan kota Yerusalem antara pasukan Muslim dan pasukan Kristen pada abad ke-12 atau Perang Salib ini dianggap objektif dan memotret fakta sejarah.
– Kapanlagi.com juga mengulas dengan menyorot kisah cinta yang justru menjadi trade mark filem2 Hollywood. :p (judulnya saja: Kingdom of Heaven: Cinta Terlarang Bersemi di Medan Perang)
– dan masih banyak lagi, coba aja goggling….:p

berikut salah satu quotes yang diucapkan oleh Tiberias, salah satu penasehat Raja Yerusalem Baldwin IV kepada Balian of Ibelin ketika bermaksud meninggalkan Yerusalem karena kekecewaannya atas pengangkatan Guy de Lusignan menjadi Raja Yerusalem menggantikan Baldwin IV yang cinta damai.

” First, I thought we were fighting for God
then, I realized.
We were fighting for wealth and land,
I was ashamed!”
By Raymond III of Tripoli (Tiberias)

KINGDOM OF HEAVEN
Directed by Ridley Scott
Written by William Monahan
Music by Harry Gregson-Williams
Cast :
Orlando Bloom – Balian of Ibelin
Eva Green – Sibylla
Liam Neeson – Godfrey of Ibelin
Jeremy Irons – Tiberias (the movie’s name for the historical Raymond III of Tripoli)
Marton Csokas – Guy de Lusignan
Jon Finch – Patriarch of Jerusalem
Brendan Gleeson – Reynald of Chatillon
Ghassan Massoud – Saladin
Edward Norton – Baldwin IV
Alexander Siddig – Nasir
David Thewlis – Hospitaller

Read Full Post »