Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘poem’ Category

kereta-reu-palinggi.jpg

::gerbong riuh
saya, yang hanya berbekal mungkin, tersamar pada gundah selasar peron setasiun tua. cemas menerka gumam dari lintas kereta dan gerbong yang riuh itu.

::diatap nasib
di atas atap yang bertelingkup pada kabel listrik bertegangan, kujumpai wajah-wajah nanar menanti nasib. hendak sampaikah menjejak pulang, atau terpapar kematian yang bodoh. berselimut tangan, menekuk lutut, mereka mungkin sedang asyik membincangkan sinetron yang sedang tayang di kala primetime, tapi nasib juga sedang bergerak mendekat mengais petaka diantara jeda hidup atau mati, milik mereka. sedetik saja angin menggoyang badannya, atau tempias hujan iseng menyiramnya dari sekelebat pancaran listrik itu, maka nasib menjadi pantas dijejalkan.

::di gerbong sesak
mereka, yang megap mencari ruang selapang dua lubang hidung, terserak diantara pengab dan sesak, dan bau dari semua jenis peluh. dalam mana norma persentuhan sudah nihil adanya, ruang dan antara menjadi barang mahal, dan keluh kesah jadi niaga yang murah. tangan-tangan gelisah mencari dinding atau apa saja yang bisa disangkutkan, mencoba selamat dari lembam gerbong berderak. sejatinya semua menjadi mahfum, itu demokrasi dimana nasib kaya miskin tergencet oleh buta-ruang. sempit, bahasa umumnya.

::di pintu masuk
tak ada yang bisa diceritakan, selain bahwa pintu masuk menjadi semacam khayalan semua orang, di kereta yang sesak, dan rindu pulang ke rumah biar lega mendekap dan napas tak perlu memburu.

Foto: Crack Palinggi/Reuters

Advertisements

Read Full Post »

di balik dinding kardus yang lapuk oleh basah dihempas hujan bergelontor-lontor, ia merapat badan menjentikkan jari mengukir lukisan dengan pensil tumpul, menggambar dirinya yang tirus dibekap hangat oleh tangan lembut yang dirindukannya. Ia ingat pernah guru ngaji di langgarnya bercerita indah, – hati sang suci ada bersama kaum seperti dirinya. lamat-lamat bibirnya yang kering tertarik melebar, mengukir senyum. syahdu. dibayangkannya sang suci tersenyum indah padanya. dan ia memeluk bayangan itu sehangat bantal empuk saat lelap dikelon emaknya, dulu. ah, betapa ia rindu padanya, pada sang suci, pada emak, pada ketulusan, pada semua impian. impian yang musykil saat ini.

dibawah atap daun rami yang menguning, lunglai dan tempias, sekali ditadahkan tangannya mengemis air yang lindas dari langit lepas, membayangkan cucuran suci seperti yang dulu dinikmati sesahabat me-wudhu-kan wajah dan tangannya. matanya mengatup mesra seperti sedang kasmaran dengan bayangannya sendiri. dari selembar buletin yang dikaisnya dari sampah langgar, ia pernah membaca; sang suci akan memberi syafaat buat umat yang membenamkan cinta untuknya, menunggunya dengan setia hingga perjumpaan indah di al-kautsar, telaga berisi madu dan susu. setiap saat dibisikkannya shalawat, setiap saat sejak itu. ia sering bermimpi telaga al-kautsar seindah gambar danau bening dari kalender usang yang ditempelkan didinding kardus gubuknya. semua hijau segar, ada lima angsa yang bermain, dan tiga burung bangau putih beterbangan riang di langitnya, menepis awan yang turun menyapa mesra. disana, mungkin, ia akan minum segarnya air telaga beraroma madu dan susu bersama sang suci. indah sekali. matanya tertangkup selama ia menikmati terbuai khayalan.

Read Full Post »

[puisi] aku menunggu dgn tekun

maipa.jpg

aku lelaki yang diterbangkan senja
berteman kepak sayap burung
yang bernyanyi lagu hujan

jauh dibawah ada perigi sepi
di sisinya duduk perempuanku, tersipu
menanti diseberangkan kenangan
digenggamnya ada gayung harapan
dan lonceng pemanggil kekasih

rinai hujan turun satu satu
mengeja debu
mencari bebaris pesan dari nelayan
perahu cintanya tertambat di kejauhan

kapan engkau datang menyeberangkan perempuanku?

katamu, nopember tahun ini
datang membawa berita
sabarlah wahai lelaki setengah senja!

aku lelaki setengah senja
menunggu dengan tekun
di sini, di antara senja yang diusap
oleh hijau dedaun malam…

Read Full Post »

[puisi] sehabis mencinta

sehabis.jpg 

05.45wita, 210807, straat enam-balikpapan

sehabis mencinta
diantara dedaun yang dimandikan pagi
dan rambut basah
berpeluh

bebaris doa
kupanjatkan

Read Full Post »

Parsiti, ingatkan aku!

losaria.jpg

Postingan ini dipersiapkan untuk mengikuti lomba Gombal – HUT RI di Blogfam.

Alhamdulillah, Postingan/Gombal ini terpilih sebagai Pemenang Favorit Ke-3 Lomba Gombal dalam Rangka HUT RI ke-62 dari Blogfam. Terima kasih, Kuru Sumange! Baca Berita nya di link ini. Pengumuman Lomba HUT RI-62. 

Sayang sekali saya tidak mampu menggombal serius dan sesuai peruntukannya, saya hanya bisa menggombal dengan nuansa memprihatinkan. 

======

Parsiti, ingatkan Aku! (atawa Surat Cinta untuk Parsiti) 

Lima hari lalu, saat menonton TV sambil menikmati kopi panas dan biskuit manis, tiba-tiba aku jatuh cinta padamu, Parsiti. Kusaksikan betapa indah tubuhmu bergayutan di ketinggian ratusan meter dari pijakan tanah. Urat ototmu tersembul bagai atlet yang gemar mempertontokan otot yang segar. Bibirmu yang merah merekah memancarkan aura pesona bagi setiap pejantan sepertiku. Berbekal kain hasil kreasi mahajenius yang kau untai menjadi temali kuat seakan melengkapi kekagumanku, terkesima melihat heroisme dirimu yang mengingatkanku pada wira wanita dari Makassar, Emmy Saelan di jaman perang kolonial dulu. Parsiti, aku jatuh cinta padamu.

Parsiti, aku setia mengikuti setiap sekual cerita tentangmu di televisi, internet dan koran. Seperti sedang kasmaran, kubaca dengan antusias kisahmu yang menghentak kelakianku. Kutahu dari berita pula, bahwa kini kau mendekam di bilik askar tentera jiran, mengkonfrontir pengakuan majikanmu yang mengelak atas tuduhan yang kau lontarkan dari bibirmu yang merekah, dan matamu yang sembab. Tentu saja, maling budiman pun tak kan mengaku, apalagi jahanam yang menghadiahimu lima bulan siksaan tak terkatakan. Parsiti, aku mencintaimu sepenuh hati sedalam jiwa.

Ketika tertidur di malam yang indah di atas kasur yang empuk Parsiti, aku berkhayal indah tentangmu. Pendulum waktu yang kukendarai membawaku ke sebuah rumah yang teduh. Hanya ada kita berdua. Ketika di hari yang merdeka ini aku berpesan kepadamu…

Parsiti, ingatkan aku bahwa hari ini berarti merdeka dari penjajahan. Ceritakanlah aku tentang para pejuang yang rela menebus nyawa dengan selembar bendera yang dikerek ke atas tiang tinggi. Dan darah dan airmata yang tak terhitung menetes di persada, sebanyak tetesan minyak dan gas yang mereka ambil atas nama kapitalisasi.

Parsiti, sadarkan aku saat pagi menjelang. Jam sepuluh tepat aku hendak berbaris di lapangan sana. Tegap menghormat pada kibaran dua warna sewarna darah dan tulang kita. Saat mentari naik ke penggalah, ingatkan aku untuk membawa rasa wira yang membuncah seperti dirimu seawal meninggalkan kampung di wonosobo.

Parsiti, saat pulang ku nanti, mintalah aku untuk bercerita apa pesan upacara yang tentunya adalah kenangan ke masa dulu dan harapan ke masa depan. ketika jiwa yang merdeka membaca dan berseru di langit yang bebas, sebebas burung yang tak bersangkar.

Parsiti, tapi tiba-tiba kuterbangun dari mimpi indah itu dan kusadar bahwa dirimu sedang tak berdaya di negeri sana, negeri yang jauh. Tanpa sanak. Hanya berteman petugas yang menyertai dari pemerintah. Dalam hati aku bertanya dengan lembut, cukupkah itu, Parsiti? Tidakkah kau inginkan beribu doa dari sini, dari pencintamu? Atau perlukah daku memohon maaf atas ketakberdayaan kami disini tuk menyertai mu di negeri sana. Negeri dimana jiwamu menjadi negeri yang terjajah.

Read Full Post »

avoid criticism?

To avoid criticism,
do nothing,
say nothing,
be NOTHING!

Elbert Hubbard
US author (1856 – 1915)

Read Full Post »

[curhat]

tengadah-diantara-sapeda.jpg

[curhat] lagi

sesampah apa mulut yang kotor?
tanyaku padamu yang menuduh
sebuta hatimu atas nama perasaan, jawabmu

tapi bukankah tuduhmu
juga menyampahi perasaanku?

[selesai, no hard feeling]

Read Full Post »

Older Posts »