Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Tanah Air’ Category


amrozidalam.jpg

 

 

Tak bosan-bosannya media menyiarkan jalannya proses pelaksanaan eksekusi mati tiga pengebom pertama Bali; Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera. Ruang tontonan, ruang baca, dan ruang dengar kita nyaris tidak pernah melewatkan satu jam pun tanpa berita ini. Tiga bomber Bali ini tiba-tiba menjadi makin populer selama dua minggu terakhir, mengimbangi berita kampanye dan pemilihan presiden USA yang baru lalu. Bahkan menenggelamkan berita pilkada di sejumlah daerah.

Hebohnya, banyak pihak ikut-ikutan menambah suasana dengan menghadirkan ragam polemik di seputar eksekusi ini; soal cara eksekusi, soal wasiat, soal Peninjauan Kembali, sampai soal website yang menyerukan pembunuhan SBY.Semua orang seperti kelimpungan dengan soal eksekusi ini, siaran langsung dari beberapa lokasi ikut membetot perhatian kita seakan2 begitu pentingnya persoalan ini; Cilacap, Nusakambangan, Serang, Kuta Bali, hingga ke kediaman keluarga Amrozi dan Mukhlas di Tenggulun Solukoro, Lamongan, Jawa Timur. Prosesi pemakaman juga sudah disiapkan sedemikan rupa, termasuk prosedur evakuasi kenazah hingga lokasi pemakaman. Keluarga terpidana asal Serang, Imam Samudra sudah jauh-jauh hari menyiapkan tempat jenazah disholatkan. Masjid Al-Manar, yang berjarak 500 meter dari rumah keluarga Imam Smaudra, tempat dulu Imam Samudera kecil menimba ilmu mengaji, akan menjadi tempat jenazah di sholatkan.

Yang terjadi kemudian muncul ketidaknyamanan publik akan peristiwa ini. Keluarga Amrozi dan Mukhlas di Lamongan menjadi sangat terganggu dengan kehadiran para wartawan yang hendak meliput suasana di kediaman keluarga terpidana bersaudara ini pra dan paska eksekusi. Pantai Kuta di Bali menjadi lebih sepi dari biasanya karena dikhawatirkan ada efek balasan dari para pengikut bomber itu sekiranya eksekusi dilaksanakan, apalagi sudah beredar surat wasiat ketiganya yang salah satu isinya menyerukan pembunuhan terhadap beberapa pejabat RI termasuk presiden SBY, JK, Menhukam, Jaksa Agung dsb. Yang lebih aneh, jalur komunikasi seluler di Nusakambangan di non-aktifkan secara total sejak hari ini. Nusakambangan pun terisolir dari dunia luar. Petugas bahkan melakukan razia ekstra yakni mengamankan semua telepon seluler di pulau tersebut.

Suka tidak suka, ruang publik sudah terkooptasi oleh berita ini. Tridente pembom Bali ini kini menjadi komoditas berita laiknya selebritas di infotainment. Kita, kini terpaksa ikutan menunggu kapan eksekusi itu dilaksanakan, dan malah kalau hal buruk terjadi, mungkin masih akan disuguhi berita hangat lain paska eksekusi ini yang mudah-mudahan tidak terjadi, efek pembalasan dari kroni Amrozi cs.

Ah, saya sih tidak merasa begitu penting untuk diganggu oleh berita ini. Saya ikut menikmati sambil berdoa semoga mereka diterima dengan baik oleh Sang Maha Pemilik Jiwa, entah meninggalnya karena eksekusi, atau meninggal melalui proses alamiah sebagaimana keluarga mereka inginkan. Kita lihat saja nanti!

Foto di copy paste dari detik.com

Advertisements

Read Full Post »

copy-of-1-pasar-pannampu.JPG

note: Tulisan ini juga dimuat di Panyingkul.

Bapak saya, Haji Muhammad Nur, 67 tahun terlihat gelisah ketika sore itu duduk mengaso bersama anak-anaknya di ruang tetirah di salah satu rumah di bilangan Cibinong, Bogor. Sudah sepuluh hari ini ia berada di Bogor untuk berlibur dari akitiftas hariannya sebagai pedagang di Pannampu Makassar. Liburan ini juga dimanfaatkannya untuk menghadiri pesta aqiqah cucunya yang ke-12 yang dilangsungkan sepekan lalu. Sepuluh hari dilaluinya dengan bercengkerama bersama anak dan cucu-cucunya yang lucu, ia masih diminta untuk berlama-lama di Bogor, paling tidak sepekan lagi demi menuntaskan rindu. Tidak setiap tahun mereka bisa berkumpul bersama, begitu alasan utamanya.

Sebenarnya dia masih betah berlama-lama, namun ada satu hal yang membuatnya berat meluluskan keinginan anak-anak yang disayanginya itu. Pasalnya, pemilihan Walikota Makassar akan dilangsungkan Rabu depan, 29 Oktober 2008. Dia sudah mengikat janji dengan rekan-rekannya sesama pedagang di Pasar Pannampu untuk meramaikan pesta demokrasi ini. Di benak mereka semua, sudah ada satu nama kandidat yang akan mereka coblos di hari itu. Dan Aji, demikian beliau disapa oleh anak-anaknya, tentu tak ingin suara nya hilang begitu saja di hari ‘mattoddo’ itu. Satu suara beliau dianggap turut menentukan apakah kandidat pilihannya bisa menang atau kalah menuju kursi walikota Makassar.

“Apakah Aji khawatir dianggap warga kota yang tercela karena tidak menggunakan hak pilih? Ini kan sudah bukan jaman Soeharto, ketika Golput dianggap kriminal” cetus salah seorang anaknya. Anak yang lain menimpali, “Lagian, sewaktu semalam menonton acara debat kandidat di salah satu statiun TV kelihatannya tidak ada yang bagus tuh. Semuanya meragukan”. Meski jauh ribuan kilometer dari Makassar, mereka masih tetap setia mengikuti perkembangan kota tempat mereka tumbuh berkembang itu. Anaknya yang tertua ikutan menimpali, “Iya, kehilangan satu suara kan tidak berpengaruh juga”.

(more…)

Read Full Post »

Kemenangan adalah tamparan yang sesungguhnya. Kesakitan yang dihasilkannya tidaklah bersifat fisik, tapi jauh lebih menghentak ke dalam ke-diri-an kita. Karena dia butuh sebuah konsekuensi atas konsistensi di kemudian hari. Menjadi semisal pecut untuk memotivasi menjadi lebih baik. Hari ini kita menang, bukan karena kita secara obyektif menjadi yang terbaik diantara yang lain. Bukan! Tapi ini karena apresiasi subyektif yang kebetulan diberikan oleh beberapa orang berdasarkan sarana dan pola berpikir mereka semata. Tanpa bermaksud mengabaikan peran berharga mereka para penilai, semua orang akan tahu bahwa tidak ada yang obyektif di dunia ini, tentunya. Bahkan angka-angka yang berseliweran diantara data statistik adalah hasil penelusuran subyektif dan kolaboratif antara si responden dan pengambil data. Apalagi menilai sebuah tulisan atau foto yang sifatnya sangat abstrak untuk dinilai. Atas dasar apakah penilaian itu berpijak? Subyektif.

Jadi menang bukanlah alat bantu untuk menunjukkan kesombongan yang makin menjadi-jadi. Dia hanyalah sebuah pengingat untuk lebih berhati-hati. Karena perjalanan waktu tidak akan pernah sampai disitu saja. Akan ada saat dimana kemenangan menjadi sesuatu yang membebani, bahkan menghancurkan sekiranya konstelasi kinerja dan prestasi di kemudian hari tidak mendukung fakta sebelumnya. Malu!

Walaupun demikian, tidak ada larangan untuk berbangga, betapa ada hasil dari upaya yang walau tak semaksimal yang diharapkan, bisa juga diapresiasi dengan baik oleh yang lain. Dan adalah suatu kewajiban saya, bukan untuk sekedar menghindari dosa egoisme dan kekurang-tahu-diri-an, saya mengucapkan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya, terkhusus para penunjuk jalan, pemberi saran, pembawa lampu, penggerutu, pem-basa-basi, dan pembaca yang tak sempat menorehkan komentar apapun. Untuk Universitas Citizen Jurnalisme – Panyingkul yang milis nya berisikan tulisan, pesan, kesan dan petuah dari orang-orang yang baik, cerdas dan ikhlas berbagi ilmu, terima kasih atas alat-alat bantu menulis nya. Juga atas kesempatan untuk coddo dan koddala serta memuat tulisan yang tak berbobot itu ke web Panyingkul-nya. Juga untuk rekan-rekan heboh di Perkumpulan Blogger Makassar – Angingmammiri. Kehebohan nya memberi banyak inspirasi. Juga buat milis Buginese, yang senantias menjadi semacam sawah untuk lebih mengingat akar saya. Terima kasih. Karena Anda kita semua bisa berkarya. Ilmu yang terbaik adalah ilmu hasil sharing.

Apa konteks dari postingan ini? Hahahaha…
Ini hanya sebuah ungkapan introspeksi diri atas penghargaan dari Keluarga Besar Blogger Indonesia – Blogfam yang memberikan apresiasi ‘kemenangan’ atas lomba-lomba yang saya ikuti dalam rangka HUT Kemerdekaan RI. Dalam lomba itu, sebenarnya saya hanya meng-share dan mengkomunikasikan satu hal: Keprihatinan atas Paradoks Kemerdekaan. Mungkin karena kesedihan menjadi komoditas yang layak jual, marketable, jadi bisa menang, who knows? tapi diatas semua itu, saya tetap wajib berterimakasih sejauh mata memandang, seluas samudra menghampar, setinggi angkasa yang tak terjangkau atas penghargaan yang membuncahkan kepala dan dada ini.

Terima kasih. Berikut postingan berita nya yang saya copy paste dari link Lomba Blogfam HUT RI ke-62.

Pengumuman Pemenang Lomba HUT RI ke 62 – 2007

Lomba Entry
Juara 1 : Daeng Rusle – Kami (masih) terjajah lalat, tikus dan lapak!
Juara 2 : Raida – Sang Jawara
Juara 3 : Nunik Utami – Gara-gara Karnaval
Juara Favorit : Pritha Khalida – Kisah Ibu Pengupas Kentang dan Anak Comberan – 18 suara dari total 47 suara yang masuk

Lomba Foto
Juara 1 : Daeng Rusle – Ayo kawan, habiskan!
Juara 2 : Rekian Nur Kristiana – Aaam-Lomba Makan Krupuk
Juara 3 : In-art – Ujung Tiang Tertinggi
Juara Favorit : In-art – Ujung Tiang Tertinggi – 23 suara dari total 75 suara yang masuk

Lomba Ungkapan Hati Gombal
Juara Favorit 1 : Syafrina Siregar – Sayang – 25 suara dari total 83 suara
Juara Favorit 2 : Yaya – Perempuan Yang Cinta – 20 suara dari total 83 suara
Juara Favorit 3 : Daeng Rusle – Parsiti Ingatkan Aku – 8 suara dari total 83 suara

Read Full Post »

replika yang terbakar

USTANO BASA PAGARUYUNG TERBAKAR!

burned out

Kemaren sore saya mendapat berita via rekan di milis ID-Photographer bahwa Istana Basuo Pagaruyung ludes terbakar api karena tersambar petir. Dalam waktu singkat, istana kebanggaan masyarakat Minang yang sering menjadi tempat upacara adat dan penobatan gelar adat bagi tokoh tertentu, termasuk presiden SBY dan Megawati SoekarnoPutri, habis tinggal kerangka walau 10 unit pemadam kebakaran dikerahkan untuk membasmi sang jago merah. Bangunan tua tanpa penangkal petir yang juga berfungsi sebagai museum ini berisi berbagai benda peninggalan bersejarah. Namun untungnya, benda2 pusaka itu bisa diselamatkan karena disimpan di lokasi yang berbeda. (more…)

Read Full Post »

minoritas

Kemarin, kota Makassar dilanda issue SARA yang (dapat) memicu kerusuhan dan sweeping terhadap penduduk etnis Tionghoa. Pemicunya adalah seorang pemuda Cina (yang kurang waras, menurut berita) memperkosa dan membunuh pembantunya – seorang wanita bugis asal Sinjai. Kejadian ini merupakan ’ulangan’ kejadian beberapa tahun sebelumnya, dimana seorang anak SD dibunuh dengan kejam oleh pemuda etnis Tionghoa yang kurang waras (juga).

Go to fullsize imageApapun latar belakang kejadian ini, masyarakat Makassar – yang setahu saya temperamental dan sangat muda terpancing oleh issue anti-Cina – pasti akan ’bergerak’.Bahkan, wapres JK sempat meluangkan waktunya untuk ’menghimbau’ warga Makassar untuk tidak terpancing dan melakukan amuk massa.

Memang, apapun itu, kerusuhan hanya akan menimbulkan efek negatif buat semua. Tidak ada keuntungan yang diperoleh, kecuali mungkin hanya sebuah kepuasan untuk melampiaskan amarah dan dendam. Tapi pelampiasan kepada siapa, bisa saja justru yang kena adalah orang baik, bahkan keluarga kita.

Saya teringat kejadian ketika saya masih siswa SMAN 1 Makassar, sering terjadi pemukulan terhadap siswa keturunan hanya karena alasan sepele. Padahal beberapa diantaranya adalah temen2 yang baik. Hanya karena sial saja mereka bernasib naas, menjadi korban pemukulan….kasihan yah kalo jadi minoritas

Read Full Post »