Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Umum aja!’ Category


small_obama_image.jpg

 

 

Hari ini, pemilu di Amerika Serikat akan menentukan siapa bakal pemimpin negara dengan tingkat dominasi terkuat di dunia. Apakah the first afro-america, Barack Hussein Obama (47thn) atau the oldest president candidate John McCain III (72thn). Kedua-duanya akan menjadi yang pertama di segmen tertentu. Obama (bila terpilih) akan menjadi presiden kulit hitam pertama, sedang McCain (mungkin) akan menjadi presiden tertua. Obama, wakil demokrat yang mengalahkan mantan first lady Hillary Clinton, jelas merupakan representasi perubahan besar yang sedang bergerak dan berderak di Amerika menyusul kegagalan GW Bush membawa Amerika (dan dunia) ke arah yang lebih baik; ekonomi yang goncang di akhir kepemimpinannya, unilateral policy yang menjadikannya zombie di negara berkembang, termasuk kegandrungannya akan perang yang tidak saja mengangkangi masyarakat belahan dunia lain, tapi juga PBB yang secara formal merupakan wadah kolaborasi dunia.

Hari ini, mungkin sebagian besar perhatian masyarakat dunia sedang membelalak ke negeri Paman Sam di utara sana. Melalui media massa atau media maya, mereka sedang menunggu hasil dengan harap-harap cemas. Lupakan persoalan nasional, lokal, bahkan rumah tangga. Ada yang sedang membetot semua pusaran gravitasi kita, termasuk Indonesia. Bahkan jauh sebelum pemilihan, untuk mentralisir euforia Obama di Indonesia, yang pernah menjadi tempat bermain masa kecilnya selama 4 tahun, pemerintah Indonesia buru-buru mengeluarkan pernyataan “Siapapun presiden terpilih AS, pemerintah Indonesia siap bekerja sama”. Meski saya yakin, dibalik pernyataan itu ada doa semoga si anak Menteng itu yang terpilih.

Apa pengaruhnya buat Indonesia? Kita sedang mengkhawatirkan soal warna saat ini, juga seluruh penduduk dunia. Bukan soal warna secara fisik, tapi warna ekonomi-politik yang akan menggauli dunia internasional. Warna Amerika, suka atau tidak suka, adalah warna mini dunia. Jembatannya adalah sesuatu yang bernama hegemoni atau dominasi. Gross National Product (Product Domestic Bruto) Amerika saat ini mencapai US$ 10 Trilyun, atau sepertiga dari total GNP dunia yang mencapai US$ 30 Trilyun. Sektor jasa keuangan mungkin mendominasi nilai ini, dibanding sektor riil. Namun ini hanya semacam fakta betapa berpengaruhnya ekonomi Amerika Serikat terhadap negara lain. Jauh sebelum itu Fukuyama sudah memprediksi soal dominasi ekonomi ini. Fukuyama pernah memprediksi bahwa pasca-Perang Dunia II, “Amerika akan menguasai perdaban dunia. Peradaban akan berakhir dan Amerika akan menjadi raja”. Bagaimanapun itu, sejarah yang nanti akan membuktikan apakah tesis Fukuyama ini benar.

(more…)

Read Full Post »

rush.jpgSudah lebih dari sebulan ini saya punya tunggangan baru, Alhamdulilah. Berbekal mecahin celengan yang dikumpulin pas di Balikpapan, ditambah seiprit pesangon dari tempat kerja lama, plus segepok pinjaman lunak dari brother, saya akhirnya bisa memiliki tunggangan ini. Kenapa milih jenis tunggangan ini? Simpel aja, nama tunggangannya mirip dengan nama depan saya: Rus. Cuman ditambahin satu huruf saja (h) dan jadinya seperti memanggil nama saya dengan mendesah…he3.

Belinya di Auto2000 Cibinong, juga alasannya karena dekat dari rumah plus sudah ada ‘koneksi’ yang terjalin sebelumnya, selain karena salesnya yang cuakep itu (ini sebenarnya alasan utama). Service after sales? Hmm, ada. Tiap 1000km, 10,000km, dan kelipatannya.

Tunggangan ini model transmisinya user-friendly. Tangan kiri dan kaki kiri gak begitu perlu digunakan, secara pedal kopling nya gak ada dan stik transmisinya sederhana saja. So, sangat user-friendly, senafas dengan tujuan saya yang gak mau disusahin. Maklum type nya sendiri katanya Automatic Transmission. Rush S A/T. Mahdi pun sangat menyenangi tunggangan ini, yang selalu ia sebut sebagai “mobil Mahdi”.

So far, tunggangan ini baru saya geber untuk jurusan Bumi Sentosa – Bojonggede – Gunung Putri – Bogor saja atawa hanya jarak dekat. Selebihnya, kalau ke kantor di Tanjung Barat Simatupang Jakarta, saya masih memanfaatkan jasa kawan yang lebih expert, demi alasan keamanan (alias paranoid ama traffic Jakarta). Mudah2an seiring berjalannya waktu, saya bisa menungganginya sendiri. Amin.

Read Full Post »

haru.JPG

Seberapa kuat tangan kita melakukan perubahan – ke arah yang lebih baik, meski sekecil hempasan riak ombak di samudera lepas? Jawabnya standard: sekuat usaha Anda mengubah ide baik menjadi gerak laku. Transformasi ini sebenarnya mudah sahaja, hanya dibutuhkan momentum di awal. Momentum ini adalah semisal hidayah dari Tuhan. Tuhan mungkin sudah membisikkan banyak hal baik dan penting, namun bisikan ini hanya akan menjadi energi yang statis sekiranya tidak ada loncatan spirit dari manusia untuk memulainya.

Selepas makan siang yang lahap dengan paru goreng dan sebotol teh dingin segar di sebuah warung Padang depan Masjid belakang kantor, mata saya kembali tertumbuk pada sesosok perempuan paruh baya berwajah dekil, berbusana rombeng dan oleng, menenteng belas kasihan dalam sebuah kantong keresek hitam. Ia menengadahkan mulut kantongan itu kepada siapapun yang berlalu di hadapan mereka. Dari mulutnya yang hitam dan kering, tak lupa diselipkan senyum tersisa yang seperti dipaksakan, lirih ucapan baku yang dilagukannya setiap saat “Den, bagi rezeki nya Den“.

Di lengan perempuan yang dibalut sehelai kain sarung berwarna pudar kusam, menggelayut diam bayi hitam yang terpapar terik siang. Jika tak sedang asik menetek pada botol berisi air, sesekali bayi hitam ini menatap tegun tepat ke wajah perempuan yang mungkin ibunya itu. Tak jauh dari keduanya, asik bermain dua bocah kecil di pelataran mesjid. Keasikan mereka seakan menyiratkan pesan dunia lain yang bukan bagian dari fragmen miris yang diputar stripping saban hari di mesjid itu. Dua bocah itu, bersama sang bayi hitam mungkin tak sadar bahwa nasib mereka sedang bergulat dengan isi kantong keresek hitam yang ditengadahkan sang perempuan.

Semenjak saya pindah di kantor baru ini, sejak awal ramadhan kemaren, perempuan ini bersama ketiga anaknya selalu rajin berdiri di depan pintu pagar mesjid. Sesekali ia ditemani perempuan lain yang tak kalah rombengnya, juga lengkap dengan ‘pengikut’ yang jumlahnya sama, tiga anak kecil; satu di pelukan, dua dilepas bermain di pelataran mesjid. Secara tak sengaja, saya pernah menjumpai perempuan ini di stasiun Tanjung Barat, bersama-sama menunggu KRL menuju selatan Jakarta.

Saya tak sempat mengikuti hingga perempuan itu turun dari kereta, tapi hati saya berbisik masygul, perempuan ini menjejak langkah yang cukup jauh demi untuk mengemis. Bahkan, menurut pandangan ekonomi, perempuan ini menjalankan fungsi positioning dan segmentasi yang cukup baik. Dia mangkal di lokasi yang cukup menjanjikan bagi ‘produk’ jualannya. Mesjid tempat dia ber’jual’an adalah gerbang terluar dua perusahaan multinasional; Big-Four Oil World Producer dan World Leading Manufacturer in Food Industry, yang memanfaatkan gerbang itu untuk tetirah makan siang, sholat atau sekedar pulang ke kontrakan. Tentunya penghasilan karyawan2 itu lebih dari cukup untuk menyisihkan sebagian rezeki di jalan mulia, apatah lagi mesjid yang berdiri adem di sisinya tentu selalu mengingatkan untuk berlomba-lomba menenggak ibadah dunia untuk bekal pahala akherat kelak.

Mata saya mungkin tak awas, tapi setidaknya saya tak pernah melihat ada yang lalu lalang, singgah barang sejenak untuk mengisi kantongan rombeng itu. Meski saya sering mencuri duga isi kantongan itu, saya kira isinya hanya recehan pemberat saja, atau mungkin isinya selalu dikeluarkan dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan nyaman.

Jiwa pragmatis saya berusaha mengerti alasan mereka, para karyawan bergaji tinggi itu untuk melewatkan kesempatan mendulang pahala. Saban hari memberi berkah, memberi donasi kepada si perempuan sungguh bukan cara yang baik untuk membantu dia bangkit melawan ketakberdayaan ekonomi. Melihat postur si perempuan, dan daya tahannya berdiri dibawah terik selama lebih kurang tiga jam, dari sebelum duhur hingga ashar lewat, tentu menimbulkan rasa penasaran. Apakah tak sia-sia daya yang dianugerahkan Tuhan dengan tubuh sempurna itu dihabiskan hanya untuk menengadahkan tangan, merenggang waktu yang kiranya bisa lebih produktif dan mungkin menghasilkan lebih banyak?

Namun adakah yang lebih baik daripada memaki sebuah ketakberdayaan materi, yang mungkin berimbas kepada keterpurukan kreatifitas memanusiakan dirinya? Mungkin karyawan-karyawan itu sedang menjalankan ritual ‘mendidik’ si perempuan untuk mencari kail yang lain – yang lebih terhormat dibanding hanya sekantong keresek lusuh. Mengharap ikan tanpa kail, mungkin hanya bisa dipenuhi di pasar saja. Sedang pasar dipenuhi hukum yang jauh lebih rimba daripada masjid.

Ah, saya tak mampu berpikir serumit itu sekarang. Di benak saya hanya terngiang wajah kakanda saya – Rusdiana, yang padanya saya banyak berjanji untuk mengirimkannya banyak cahaya untuk alamnya kini.

Read Full Post »

Menurut saya, Blog adalah antitesis media mainstream.

Blog adalah bentuk perlawanan terbuka atas penguasaan sumbat informasi yang sebelumnya dikuasai penuh oleh media mainstream yang komersial; koran, majalah, televisi. Blog mampu menciptakan, tepatnya membuka sumbat hajat hidup orang banyak dengan menyuarakan perspektif baru yang membumi ke khalayak. Tanpa ada proses editing dan proses penyaringan, blog menjadi media merdeka yang bebas sepenuhnya, bahkan dari pihak regulator! Ibarat negara, blog adalah kawasan bebas tanpa aturan. Yang menjadi aturan yang berlaku adalah etika umum yang dilandaskan kepada kepentingan banyak.

Sejak jaman baheula, kita dijejali oleh media pustaka dengan informasi yang berlandaskan pengetahuan yang dibumbui interpretasi subyektif penulisnya. Tidak jarang kita digiring untuk mempercayai sesuatu berita yang fakta dan latar belakangnya bisa berbeda 90 derajat. Parahnya adalah penjejalan dan penggiringan ini kemudian membentuk pola pikir dan cara pandang kita sejak di bangku sekolahan sampai kemudian menjadi inheren dalam kehidupan kita dan kemudian diwariskan pula ke anak-cucu. Media seperti ini lebih banyak bersikap bak guru sekolahan jaman Orde Baru; menyuap tanpa merasa penting untuk ditanggapi, menggurui tanpa merasa wajib untuk melakukan riset kebenaran, mengajar tanpa boleh didebat. Yang terjadi kemudian hanyalah komunikasi satu arah antara si pemberi informasi dan penerima informasi.

Media massa yang dianggap sebagai lokomotif kebebasan bersuara juga berperilaku sama. Mereka, yang kemudian menganggap diri sebagai mainstream informasi Indonesia, hanya menampilkan berita yang ‘sejalan’ dengan idealisme mereka, atau kasarnya yang bisa membuat dapur redaksi mereka tetap mengepul, wartawan bisa digaji, dan tiras tidak anjlok. Intinya, mereka menyediakan informasi kepada khalayak sudah dengan ‘pesanan’ tertentu . Maka dipenuhilah ruang baca kita dengan informasi yang nyaris seragam, beritanya ibarat lawakan badut yang hambar disuarakan oleh hampir semua media, tidak ada yang kreatif, aneh dan nyata. Tidak jarang dalam beberapa pemberitaan tendensius si ‘pemesan’ teramat kentara dan kita, pembaca tidak punya pilihan lain untuk berbicara ‘beda’ kecuali dalam satu rubrik sempit bernama Surat Pembaca, itupun mesti melalui filter redaksi yang sangat ketat. Surat yang isinya cukup mengganggu dan membahayakan masa depan media sudah pasti tidak akan termuat.

Perspektif warga, perspektif pembaca. Ini yang sulit ditemukan dalam media mainstream saat itu. Seakan tidak ada ruang yang cukup untuk menampungnya. Pelaku media hanya mengenal dua pihak yang boleh disuarakan dalam lembaran beritanya; sumber berita yang berasal dari kalangan istana atau gedung, suara redaksi yang tak jarang hanya membenarkan si sumber berita. Kalaupun ada, suara warga hanya mengisi kolom tertentu yang tak begitu menarik perhatian, tidak eye catching menurut insan komunikasi. Opini dari para aktivis yang bisa dianggap mewakili kepentingan khalayak seringkali hanya mampir di meja Redaksi kemudian masuk kotak sampah.

Nah, dimana ruang warga bersuara ‘beda’ dan magnitudenya besar hingga bisa terbaca oleh seluruh warga dunia? Jawab nya singkat, padat dan jelas: Blog.

Apakah blog hanya sekedar trend sesaat? Maaf, blog adalah trend yang bermatra keabadian. Seandainya teknologi internet sudah ada sejak jaman filosof Yunani hidup, maka kita akan bisa membaca blog-blog dari Socrates, Aristoteles, Plato, Democritus, hingga Pramoedya Ananta Toer. Karena menulis, yang menjadi cikal bakal munculnya blog, adalah kegiatan kemanusiaan yang terus menerus. Bahkan seandainya memungkinkan, Tuhan bisa saja menurunkan kitab suciNya kepada para rasul di dunia dalam bentuk online untuk menjangkau para pengikut di belahan dunia nan jauh dan maha luas. Blog adalah manifestasi dari proses sejarah kemanusiaan, karenanya ia akan terus hadir dan hidup sepanjang usia kemanusiaan itu!

Blogger Indonesia yang tumbuh dan berkembang secara dramatis sudah saatnya memantapkan diri menjadi pilar utama pengawal kejujuran dan keadilan masyarakat Indonesia. Lewat suara yang jernih tanpa tendensi dan vibrasi kepentingan kapital tertentu, blogger Indonesia bisa menyuarakan nurani kejujuran, Insya Allah.

Read Full Post »

Loncat Lagi?

Dalam salah satu posting saya di blog terdahulu, ini dan ini, saya pernah berikrar untuk menghentikan kebiasaan profesional saya yang cukup buruk di mata sebahagian orang; kutu loncat. Berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, apalagi berpindah kota, bukanlah sesuatu yang gampang bahkan sangat merepotkan. Bukan hanya persoalan beratnya memindahkan satu keluarga, tapi juga mesti beradaptasi lagi dengan lingkungan kerja yang baru. Belum lagi jikalau ternyata working culture di tempat baru tidak se’bagus’ yang diharapkan. Apalagi kalau rupanya kita berhadapan dengan team yang tidak sehangat yang diinginkan. Bukan soal untuk belajar assignment baru buat saya, tapi berhadapan dengan dinamika sosial yang membuat saya terkadang was-was. Tidak satu dua kali saya berhadapan dengan ‘acceptance’ yang tidak acceptable. So, mesti siap dengan pemikiran Expect the Unexpect, terutama untuk hal-hal non teknis. Ini resiko terbesar yang harus saya hadapi.

Kenapa mesti pindah lagi? Alasannya sebahagian besar justru sangat teknis. Alasan detail tentu tak etis disebutkan, tapi sekedar berbagi substansi nya saya kira tidak berdosa. Saya butuh penyegaran, dan mungkin, saya merasa ‘gagal’ di tempat sekarang. Penyegaran, atau lebih tepatnya mengembalikan saya kembali ke birahi profesional yang selama ini saya kejar. Yang mana saya merasa gagal mendapatkannya di tempat sekarang. Bukan tidak berusaha untuk bersyukur dan nerimo atas apapun suratan karir saya, tapi umur dan potensi saya mungkin tersia-sia hanya untuk menandaskannya di sesuatu bernama ‘nasib’. Jadi kepindahan ini karena kecewa, sikap negatif? Saya akui sebahagian besar mungkin iya, tapi saya berusaha berpikir positif. Banyak rentetan konsekuensi yang nanti akan saya jalani selepas kepindahan ini. Konsekuensi2 ini justru membuat saya menjadi bergairah kembali. Tidak apa kalau ada unsecurity prospect di depan, tapi bukankah semua hal di dunia ini juga unsecure kalau kita tidak berusaha memaintainnya dengan baik. So, no pain no gain.

Di tempat baru, saya mungkin akan mendapatkan assignment yang cukup menantang. Resiko besar terbentang di depan, tapi challenge untuk memperkuat sendi profesionalisme juga tertancap di depan sana. Portofolio proyek saya akan bertambah tentunya. Tinggal bagaimana saya memaintain dengan baik, untuk kemudian menjadi amunisi yang diperhitungan di medang pertempuran berikutnya. Proyek yang nantinya saya akan terlibat adalah proyek pengembangan lapangan yang sudah eksis. Semoga banyak ilmu yang bisa saya serap, selain fulus yang lumayan lah untuk menambah pundi-pundi tabungan masa depan buat Mahdi dan Maipa. Selain itu dinamika ibu kota mungkin akan membuat saya mengikuti pusaran ketatnya arus persaingan disana. Saya hanya perlu berusaha dan berdoa semoga menjadi pelaut yang ulung di tengah samudera ibu kota yang menggelora.

Apakah tempat yang saya tuju nanti adalah pelabuhan terakhir? Hmm, saya meragukan itu, walaupun merasa ada kemungkinan ke arah sana. Tapi saya tetap berhasrat untuk menjadi nahkoda di sebuah kapal kecil, tempat dimana saya bisa mengarahkan kemudi dengan kreatif dan berani, atau melempar sauh di mana saya bisa menjaga kapal dengan sebaik mungkin agar tetap bisa bertahan di antara gelombang yang sedahsyat apapun.

Satu hal yang paling membahagiakan buat saya pribadi, kepindahan ini akan mendekatkan saya ke kakanda tercinta. Saya bayangkan di setiap akhir pekan, akan selalu menyempatkan diri mengunjungi nya. Dan bercerita banyak hal seperti dulu. Amin.

Doakan saya.

Read Full Post »

[Buku] Laskar Pelangi

lp.jpg

Sejatinya adalah Kesahajaan. Novel ini sesungguhnya hanya bercerita tentang kesahajaan. Kesahajaan yang ironis. Berdiam pada sebuah pulau yang kaya sumber alam, mereka justru hidup teramat berkekurangan, yang kata muluk sepadannya – kesahajaan. Ironi inilah yang dikemas menjadi sebuah alur cerita yang demikian menariknya, memukau walau kadang berlebihan, dan disampaikan dengan cerdas dan jenaka seakan membawa pembacanya ke alam Belitong tempat anak-anak Laskar Pelangi ini tumbuh dan ditumbuhkan. Humor-humor yang ditampilkan juga tidak basi, tidak mudah ditebak.

Saya memerlukan waktu lebih dari sebulan menamatkan buku pertama ini. Bukan karena cerita novel ini kurang menarik, tapi terlebih karena saya mesti banyak melewati ‘kesibukan’ yang luar biasa.

Cerita dalam novel ini dimulai dengan sebuah adegan yang miris. Di sebuah sekolah sederhana – bahkan teramat bersahaja – seorang kepala sekolah SD Muhammadiyah dan seorang guru yang tulus, menanti dengan cemas murid-murid barunya. Kalau di lingkungan kita umumnya, banyak sekolah yang menolak pendaftaran murid baru karena kelebihan peminat atau keterbatasan calon muridnya dalam memenuhi criteria pendaftaran, maka di SD Muhammadiyah ini justru kelimpungan mencari murid. Bukan karena sekolahnya teramat mahal – sesungguhnya kosa kata ini pun juga mahal ditemukan di novel ini – tapi karena rendahnya motivasi orang tua di pulau kaya timah itu untuk menempuh pendidikan.

(more…)

Read Full Post »

MEGALOMAN DI TIM
Kamis, 13 Maret 2008. Jakarta dibekap dingin sehabis dimandikan gerimis sore. Selepas menunaikan tugas kantor berguru soal system integrasi, saya meninggalkan Sari Pan Pacific menuju Taman Ismail Marzuki. Ada janji ketemuan ama temen2 blogger Angingmammiri; Rara, Soeltra, Nawir Gani. Di TIM, dua jam menikmati toko buku Afrizal Malna; buku sastra Indonesia klasik, dari Mohammad Yamin hingga Ayip Rosidi, dari Motinggo Busye hingga NH Dini, terselip juga buku kak Hasymi Ibrahim; antologi esainya – Anatomi Sang Kursi. Luar biasa!

Tapi yang kemudian dikemas kedalam tas adalah buku2 berharga jeblok dari Kompas-Gramedia. Enam buku murah meriah seharga 5ribu – 10ribu yang dipapar di etalase khusus discount itu lebih menarik hati; murah tapi (sepertinya) karya bermutu. Dari novel Ismet Fanany hingga kumpulan cerpen Radhar Panca Dahana. Juga ada Yanusa Nugroho, Rahmat Cahyono, dan kumpulan sanjak cerpenis Gus tf. Busyet. Gak tega rasanya membeli buku berbandrol pengarang dan penerbit jaminan mutu itu dengan duit ketengan. But tetap aja seneng, soale sebagai penikmat buku yang lebih tepat disebut kolektor (bukan pembaca, apalagi bookaholic), saya masih tergolong price-sensitif book-reader. He2, malu2in ya.

Selepas dua jam itu, kami kemudian membelah gerimis dan macet menuju Daeng Mamink, di bilangan Casablanca. “Na-tax saja!” usulku kepada Rara dan Nawir-Gani. Soale, agak repot naek angkutan berkali2 sampai kesana. Toh, ongkosnya pun juga so-so aja. Soeltra gak ikut, mesti ngejemput Ocha yang lagi bingung di Senen. Dalam hati sebenarnya agak nyesel kenapa mesti janji di TIM, toh temen2 bisa aja langsung ke Daeng Mamink juga, ngirit waktu dan effort. Tapi ini juga asik, he2. soale dapet buku bandrol murah itu. Gerimis turun malu-malu. Macet di Pasar Rumput. Polisi cepek, preman modal sabun dan lap, pengasong, berkerumun laksana lalat main hujan-hujanan. Ada maki dari mulut sopir taxi; ah buat saya gak pantas berkoar kotor selagi ada customer! Tapi kemudian lancar selepas Pasaraya Manggarai.

formasi-megalomang.JPG

foto: de-bat, nawirgani, bisot, soeltra, ocha, rara, munawir (without me)

formasi-lengkap.JPG

foto: formasi lengkap; with me, Farhan dan DM – kepotong dikit he2!

MEGALOMAN DI CASABLANCA
Gak sampai 10 menit, kemudian tiba di Daeng Mamink, Casablanca. Kak ATG aka daengbattala sudah menunggu; setengah piring nasi goreng sudah dilahapnya dengan antusias, namun kemudian jeda menunggu pesanan kami datang. Soeltra belum juga datang; bahkan bertemu Ocha pun belum, begitu katanya dari curi denger obrolan via phonenya Rara. Sekitar setengah jam kami berempat ngobrol; muncul Bisot. Ndak nyangka tampilannya cool; jaket kulit dan jaim. Dewasa ki tawwa pembawaannya. Padahal sa sempat mikir kalo dia itu sepantaran mahasiswa lah. Rupanya doi dah lama jadi pegawai Bea Cukai; malah ternyata katanya seangkatan dengan Yayu, teman SMAku. Kemudian berturut-turut muncullah Munawir, juga Soeltra dan Ocha. Selepas itu datang lagi Daeng Marowa beserta Farhan dan dua orang kerabatnya. Terakhir, muncul pak RT.

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »