Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2007

Kemenangan adalah tamparan yang sesungguhnya. Kesakitan yang dihasilkannya tidaklah bersifat fisik, tapi jauh lebih menghentak ke dalam ke-diri-an kita. Karena dia butuh sebuah konsekuensi atas konsistensi di kemudian hari. Menjadi semisal pecut untuk memotivasi menjadi lebih baik. Hari ini kita menang, bukan karena kita secara obyektif menjadi yang terbaik diantara yang lain. Bukan! Tapi ini karena apresiasi subyektif yang kebetulan diberikan oleh beberapa orang berdasarkan sarana dan pola berpikir mereka semata. Tanpa bermaksud mengabaikan peran berharga mereka para penilai, semua orang akan tahu bahwa tidak ada yang obyektif di dunia ini, tentunya. Bahkan angka-angka yang berseliweran diantara data statistik adalah hasil penelusuran subyektif dan kolaboratif antara si responden dan pengambil data. Apalagi menilai sebuah tulisan atau foto yang sifatnya sangat abstrak untuk dinilai. Atas dasar apakah penilaian itu berpijak? Subyektif.

Jadi menang bukanlah alat bantu untuk menunjukkan kesombongan yang makin menjadi-jadi. Dia hanyalah sebuah pengingat untuk lebih berhati-hati. Karena perjalanan waktu tidak akan pernah sampai disitu saja. Akan ada saat dimana kemenangan menjadi sesuatu yang membebani, bahkan menghancurkan sekiranya konstelasi kinerja dan prestasi di kemudian hari tidak mendukung fakta sebelumnya. Malu!

Walaupun demikian, tidak ada larangan untuk berbangga, betapa ada hasil dari upaya yang walau tak semaksimal yang diharapkan, bisa juga diapresiasi dengan baik oleh yang lain. Dan adalah suatu kewajiban saya, bukan untuk sekedar menghindari dosa egoisme dan kekurang-tahu-diri-an, saya mengucapkan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya, terkhusus para penunjuk jalan, pemberi saran, pembawa lampu, penggerutu, pem-basa-basi, dan pembaca yang tak sempat menorehkan komentar apapun. Untuk Universitas Citizen Jurnalisme – Panyingkul yang milis nya berisikan tulisan, pesan, kesan dan petuah dari orang-orang yang baik, cerdas dan ikhlas berbagi ilmu, terima kasih atas alat-alat bantu menulis nya. Juga atas kesempatan untuk coddo dan koddala serta memuat tulisan yang tak berbobot itu ke web Panyingkul-nya. Juga untuk rekan-rekan heboh di Perkumpulan Blogger Makassar – Angingmammiri. Kehebohan nya memberi banyak inspirasi. Juga buat milis Buginese, yang senantias menjadi semacam sawah untuk lebih mengingat akar saya. Terima kasih. Karena Anda kita semua bisa berkarya. Ilmu yang terbaik adalah ilmu hasil sharing.

Apa konteks dari postingan ini? Hahahaha…
Ini hanya sebuah ungkapan introspeksi diri atas penghargaan dari Keluarga Besar Blogger Indonesia – Blogfam yang memberikan apresiasi ‘kemenangan’ atas lomba-lomba yang saya ikuti dalam rangka HUT Kemerdekaan RI. Dalam lomba itu, sebenarnya saya hanya meng-share dan mengkomunikasikan satu hal: Keprihatinan atas Paradoks Kemerdekaan. Mungkin karena kesedihan menjadi komoditas yang layak jual, marketable, jadi bisa menang, who knows? tapi diatas semua itu, saya tetap wajib berterimakasih sejauh mata memandang, seluas samudra menghampar, setinggi angkasa yang tak terjangkau atas penghargaan yang membuncahkan kepala dan dada ini.

Terima kasih. Berikut postingan berita nya yang saya copy paste dari link Lomba Blogfam HUT RI ke-62.

Pengumuman Pemenang Lomba HUT RI ke 62 – 2007

Lomba Entry
Juara 1 : Daeng Rusle – Kami (masih) terjajah lalat, tikus dan lapak!
Juara 2 : Raida – Sang Jawara
Juara 3 : Nunik Utami – Gara-gara Karnaval
Juara Favorit : Pritha Khalida – Kisah Ibu Pengupas Kentang dan Anak Comberan – 18 suara dari total 47 suara yang masuk

Lomba Foto
Juara 1 : Daeng Rusle – Ayo kawan, habiskan!
Juara 2 : Rekian Nur Kristiana – Aaam-Lomba Makan Krupuk
Juara 3 : In-art – Ujung Tiang Tertinggi
Juara Favorit : In-art – Ujung Tiang Tertinggi – 23 suara dari total 75 suara yang masuk

Lomba Ungkapan Hati Gombal
Juara Favorit 1 : Syafrina Siregar – Sayang – 25 suara dari total 83 suara
Juara Favorit 2 : Yaya – Perempuan Yang Cinta – 20 suara dari total 83 suara
Juara Favorit 3 : Daeng Rusle – Parsiti Ingatkan Aku – 8 suara dari total 83 suara

Advertisements

Read Full Post »

Kisah (sedih) Pannampu

Geliat pasar Pannampu adalah geliat subuh hingga matahari sepenggalah. Di pasar Pannampu, ratusan pagandeng, pedagang dengan sepeda berkeranjang, dari segala penjuru Makassar seakan menetapkan subuh sebagai penanda dimulainya pertemuan rutin mereka saban hari. Setiap hari, kecuali dua lebaran. Mereka, para pagandeng-pagandeng itu berbaur bersama pedagang lainnya; yang bermotor, bergerobak, hingga yang panggul menempati selasar blok perumahan Pannampu.

Pasar Pannampu dan kompleks perumahan nya mulai dibangun oleh developer CV Cahaya Rahmat, milik pengusaha Benny Gozal di awal tahun 1980-an. Kompleks ini terdiri dari empat blok perumahan yang mengitari Pasar Inpres Pannampu, pusat niaga lokal di kecamatan Tallo. Kami sekeluarga tinggal di salah satu rumah di blok perumahan itu, sejak awal dibukanya. Pada masa awal pembukaan pasar hingga tahun 1986, lingkungan pasar adalah lingkungan asri. Bersih dan tertib.

 

Pendulum kebahagiaan warga beranjak ke titik nadir, saat Pemda Ujungpandang menetapkan Pannampu sebagai area TPA di tahun 1986. Danau Pannampu yang terletak di belakang perumahan dijadikan sumbu disposal/pembuangan sampah kota. Menjadi TPA (Tempat Pembuangan Akhir). (more…)

Read Full Post »

[puisi] aku menunggu dgn tekun

maipa.jpg

aku lelaki yang diterbangkan senja
berteman kepak sayap burung
yang bernyanyi lagu hujan

jauh dibawah ada perigi sepi
di sisinya duduk perempuanku, tersipu
menanti diseberangkan kenangan
digenggamnya ada gayung harapan
dan lonceng pemanggil kekasih

rinai hujan turun satu satu
mengeja debu
mencari bebaris pesan dari nelayan
perahu cintanya tertambat di kejauhan

kapan engkau datang menyeberangkan perempuanku?

katamu, nopember tahun ini
datang membawa berita
sabarlah wahai lelaki setengah senja!

aku lelaki setengah senja
menunggu dengan tekun
di sini, di antara senja yang diusap
oleh hijau dedaun malam…

Read Full Post »

[puisi] sehabis mencinta

sehabis.jpg 

05.45wita, 210807, straat enam-balikpapan

sehabis mencinta
diantara dedaun yang dimandikan pagi
dan rambut basah
berpeluh

bebaris doa
kupanjatkan

Read Full Post »

Foto Merdeka!

Foto ini dipersiapkan untuk mengikuti lomba foto memperingati HUT RI ke-62 di Blogfam!

Alhamdulillah, Foto ini terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Foto dalam Rangka HUT RI ke-62 dari Blogfam. Terima kasih, Kuru Sumange! Baca Berita nya di link ini. Pengumuman Lomba HUT RI-62.

ayo-kawan-habiskan.jpg

Judul: Ayo, kawan. Habiskan!

Event: Lomba Kerupuk, seorang peserta yang ‘terlambat’ menghabiskan kerupuk nya disemangati dan ditonton oleh rekan2 nya yang sudah selesai melaksanakan ‘tugas’nya.
Tanggal pengambilan: 17 Agustus 2007, jam 14.30
Tempat: Kampung Gurinda, Kel Gn Samarinda Balikpapan

Data foto: 1/250, f 4.5, ISO 100
Kamera: Olympus E-500, lensa macro 40-150mm

Untuk foto-foto lainnya silahkan melanjutkan ke halaman lengkapnya.

(more…)

Read Full Post »

Postingan untuk mengikuti lomba entry 17-an Blogfam.

Alhamdulillah, Postingan/entry ini terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Entry dalam Rangka HUT RI ke-62 dari Blogfam. Terima kasih, Kuru Sumange! Baca Berita nya di link ini. Pengumuman Lomba HUT RI-62.

====================== 

Tak banyak yang bisa kuingat tentang 17an. Kalaupun ada, sebahagian besar adalah ‘hanya’ serunya menyaksikan lomba-lomba yang diadakan di lingkunganku. Dan sayapun, karena keterbatasan fisik dan keterampilan, sangat jarang mengikuti lomba itu. Dalam hati kadang saya merutuk sendiri, siapa yang memulai mengaitkan perayaan merdeka dengan lomba-lomba? Agak sulit jalan pikiran saya menemukan kesamaan antara kemerdekaan dan persaingan, terutama buat saya yang lemah fisik. Apakah merdeka adalah melulu hanya adu kuat, adu cepat, atau adu pintar? Hanya satu yang paling kunikmati dalam setiapkali menonton lomba-lomba itu, kelucuan para peserta saja! Terkadang hanya menertawai kebodohan dan kemalangan acap kali mereka jatuh atau gagal. Itu mungkin yang sedikit banyak menyegarkan perasaanku yang hanya bisa jadi penonton saja.

8-sampah.jpg8-sampah.jpgMencoba mengingat kembali momen 17an yang paling terkenang di kepala seakan seperti mengais remah-remah kenangan masa kecil saya nun jauh disana, di sebuah kampung pinggiran kota Makassar bernama Pannampu. Remah-remah itu teramat sulit untuk saya kumpulkan, untuk kemudian membentuknya menjadi mozaik yang indah sebagaimana kenangan kanak-kanak yang lain. Yang ada hanyalah mozaik yang buruk, serpihan dari kesedihan yang dibingkai dalam figura kekecewaan. Hanya bau busuk comberan dan sampah rumah tangga, kerumunan lalat, biakan cecurut, dan hiruk pikuk dari para pedagang yang tiada hentinya, sepanjang tahun-tahun masa kanak-kanak yang kulewati di Pannampu itu. (more…)

Read Full Post »

Parsiti, ingatkan aku!

losaria.jpg

Postingan ini dipersiapkan untuk mengikuti lomba Gombal – HUT RI di Blogfam.

Alhamdulillah, Postingan/Gombal ini terpilih sebagai Pemenang Favorit Ke-3 Lomba Gombal dalam Rangka HUT RI ke-62 dari Blogfam. Terima kasih, Kuru Sumange! Baca Berita nya di link ini. Pengumuman Lomba HUT RI-62. 

Sayang sekali saya tidak mampu menggombal serius dan sesuai peruntukannya, saya hanya bisa menggombal dengan nuansa memprihatinkan. 

======

Parsiti, ingatkan Aku! (atawa Surat Cinta untuk Parsiti) 

Lima hari lalu, saat menonton TV sambil menikmati kopi panas dan biskuit manis, tiba-tiba aku jatuh cinta padamu, Parsiti. Kusaksikan betapa indah tubuhmu bergayutan di ketinggian ratusan meter dari pijakan tanah. Urat ototmu tersembul bagai atlet yang gemar mempertontokan otot yang segar. Bibirmu yang merah merekah memancarkan aura pesona bagi setiap pejantan sepertiku. Berbekal kain hasil kreasi mahajenius yang kau untai menjadi temali kuat seakan melengkapi kekagumanku, terkesima melihat heroisme dirimu yang mengingatkanku pada wira wanita dari Makassar, Emmy Saelan di jaman perang kolonial dulu. Parsiti, aku jatuh cinta padamu.

Parsiti, aku setia mengikuti setiap sekual cerita tentangmu di televisi, internet dan koran. Seperti sedang kasmaran, kubaca dengan antusias kisahmu yang menghentak kelakianku. Kutahu dari berita pula, bahwa kini kau mendekam di bilik askar tentera jiran, mengkonfrontir pengakuan majikanmu yang mengelak atas tuduhan yang kau lontarkan dari bibirmu yang merekah, dan matamu yang sembab. Tentu saja, maling budiman pun tak kan mengaku, apalagi jahanam yang menghadiahimu lima bulan siksaan tak terkatakan. Parsiti, aku mencintaimu sepenuh hati sedalam jiwa.

Ketika tertidur di malam yang indah di atas kasur yang empuk Parsiti, aku berkhayal indah tentangmu. Pendulum waktu yang kukendarai membawaku ke sebuah rumah yang teduh. Hanya ada kita berdua. Ketika di hari yang merdeka ini aku berpesan kepadamu…

Parsiti, ingatkan aku bahwa hari ini berarti merdeka dari penjajahan. Ceritakanlah aku tentang para pejuang yang rela menebus nyawa dengan selembar bendera yang dikerek ke atas tiang tinggi. Dan darah dan airmata yang tak terhitung menetes di persada, sebanyak tetesan minyak dan gas yang mereka ambil atas nama kapitalisasi.

Parsiti, sadarkan aku saat pagi menjelang. Jam sepuluh tepat aku hendak berbaris di lapangan sana. Tegap menghormat pada kibaran dua warna sewarna darah dan tulang kita. Saat mentari naik ke penggalah, ingatkan aku untuk membawa rasa wira yang membuncah seperti dirimu seawal meninggalkan kampung di wonosobo.

Parsiti, saat pulang ku nanti, mintalah aku untuk bercerita apa pesan upacara yang tentunya adalah kenangan ke masa dulu dan harapan ke masa depan. ketika jiwa yang merdeka membaca dan berseru di langit yang bebas, sebebas burung yang tak bersangkar.

Parsiti, tapi tiba-tiba kuterbangun dari mimpi indah itu dan kusadar bahwa dirimu sedang tak berdaya di negeri sana, negeri yang jauh. Tanpa sanak. Hanya berteman petugas yang menyertai dari pemerintah. Dalam hati aku bertanya dengan lembut, cukupkah itu, Parsiti? Tidakkah kau inginkan beribu doa dari sini, dari pencintamu? Atau perlukah daku memohon maaf atas ketakberdayaan kami disini tuk menyertai mu di negeri sana. Negeri dimana jiwamu menjadi negeri yang terjajah.

Read Full Post »

Older Posts »