Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘My Self-writing’ Category

Bingkai Kosong Bapak

Ayu tertegun. Delapan jam perjalanan udara dari Jakarta ke Muscat yang melelahkan seketika menguap. Matanya menelisik rupa bandar udara terbesar di ibukota Oman ini dengan ragu. Tak seperti sangkaannya, Muscat International Airport ini malah lebih sederhana dibanding bandar udara di kota kelahirannya. Suasana seperti riuh pasar yang sesak. Para penjemput berbaur dengan penumpang yang tumpah dari badan pesawat, tak jauh dari pintu kedatangan. Matanya kesulitan mencari biro perjalanan yang seharusnya berderet di setiap pintu bandara. Ia berjinjit sebentar, meninggikan kepala melebihi orang ramai. Di satu sudut ia melihat seorang pemuda bertutup kepala kafayeh dan bergaun kondura cerah, memegang selembar kertas putih berlaminating bertuliskan nama puncak tertinggi di Oman.

Jabal Syam? Sapaan ramah Ayu membuka mata Helal sebulat rembulan. Pemuda Oman itu sumringah. Dengan bahasa Inggris fasih, ia lantas menanyakan jalur tempuh yang diinginkan.

Selatan saja, saya juga hendak melihat jalur off-road yang terkenal itu. Jalur Utara terlalu mudah”.

Betul, Madam. Juga tak perlu izin militer untuk melintas” Helal tersenyum. Matanya menyipit dan membentuk wajah lucu di hadapan Ayu. Ayu tergelak. Setelah menyetujui harga yang disebutkan, Helal pun mengajak Ayu meninggalkan bandara kecil itu.

Pagi sudah menunjukkan pukul delapan, tapi musim dingin yang menyelimuti Muscat masih meninggalkan kabut di sana-sini. Di atas jeep putih yang disupiri Helal, Ayu memuaskan pandangan ke lekuk alam Oman yang mengesankan. Selepas batas kota, kabut sudah tak terlihat lagi. Berganti semburan cerah sinar matahari yang menyapu seluruh pandangan. Meski lelah kembali menyerang, Ayu tak ingin melewatkan pemandangan di hadapannya. Kamera saku di genggamannya segera beraksi.

Jalan aspal mulus yang dilewati Ayu membelah dua kontur berbeda. Di sisi kiri, deretan pegunungan batu berwarna jingga menjulang tinggi, meninggalkan kesan angkuh dan misterius. Gunung itu tampak telanjang tanpa tetumbuhan yang merayapinya. Kalau bukan karena hamparan samudera biru yang berada di sisi kanannya, Ayu tak yakin ada pendaki yang mau menaklukkan pegunungan cadas itu. Laut Arab di selatan Oman itu memang menakjubkan. Sebentar saja, Ayu bisa menyaksikan serombongan lumba-lumba yang berkejaran di sisi perahu-perahu nelayan. Lautan indah itu juga menurunkan banyak jejak pelaut ulung, Sinbad salah satunya. Setelah puas merekam semua keindahan itu dengan kamera sakunya, Ayu kemudian berdiam diri. Tubuhnya sesekali terguncang ketika mobil jeep Helal sudah mulai menjilati kaki Jabal Syam.

Di puncak sana, kita mungkin akan disiram hujan kecil. Tentu tak sederas di negeri anda, Madam” ujar Helal di antara erangan mobilnya yang menggerus jalan terjal tak beraspal di hadapannya.

Justru itu yang saya cari” balas Ayu sambil tersenyum. Helal terkejut, kemudian ikut tersenyum dan melirik Ayu dengan ekor matanya. “Kalau boleh tahu, kenapa Madam?

Di negeri saya, hujan selalu datang. Setiap hari. Bahkan, di musim paling kemarau sekalipun”.

So, apa bedanya dengan hujan di sini, Madam? Sambil jemarinya sibuk memainkan persenelling, Helal sedikit berteriak untuk mengimbangi deru ban mobil yang bergumul dengan kerikil lepas.

Aku membenci pelangi. Itu bedanya”

Advertisements

Read Full Post »

logo-pks.jpg

Memaafkan adalah proyeksi sebuah kebesaran jiwa untuk menerima kekhilafan dan sekaligus untuk menghapuskan kekecewaan yang pernah membekas. Adalah suatu cerminan kemuliaan sekiranya sebagai bangsa kita kemudian menjadikan kesalahan masa lalu, baik yang tercatat dengan baiknya di buku sejarah, ataupun yang tidak bisa terjejak karena ‘lupa berjamaah’ yang diidap oleh para punggawa keadilan bangsa ini. Mari memaafkan semuanya, terutama yang telah berpulang. Adapun utang piutang, mesti diselesaikan dengan tuntas untuk tidak merepotkan sang pengukir sejarah di alam sana. Ahli warisnya mesti legowo menerima beban moral dan materiil yang terutang, dan para punggawa keadilan mesti tegas untuk mengusut sampai uang sekepeng pun. Keadilan bukanlah persoalan orang perorang, tapi punya magnitude luas dan berada pada kuadran sejarah yang panjang. Nasib cucu kita, adalah derivatif dari laku sejarah yang kita torehkan pada kitab perjalanan bangsa ini.

 

Mungkin tulisan ini teramat terlambat, tapi saya merasa mesti menuliskan. Terutama untuk saya pribadi agar tidak tercengkeram oleh penyakit lupa sejarah juga. Saya termasuk yang masygul ketika partai politik kebanggaan saya, yang saya anggat the best among the worst begitu antusiasnya mem-perkenalkan mendiang presiden Soeharto sebagai sosok guru bangsa, dan secara tersirat menganggapnya pahlawan bagi negeri ini.

soeharto.jpg

Dalam banyak pemberitaan, terutama oleh Tempo, PKS cukup getol mengkampanyekan penokohan Pak Harto sebagai figur yang dianggap ‘pantas’ dijadikan panutan generasi ini. Di iklan yang banyak menuai protes, PKS konsisten dengan sikapnya: tidak hanya memaafkan, tapi juga menonjolkan. Di sebuah acara partai dalam kaitannya dengan hari pahlawan, PKS mengundang salah satu anak mendiang presiden Soeharto untuk menyampaikan beberapa patah dua kata. Meski issue yang terdengar ke khalayak bahwa soal ini sempat memicu konflik internal partai, namun yang mengemuka di media nasional bahwa partai yang berslogan; bersih, peduli dan profesional ini tetap saja keukeuh dalam kontroversi ini.

(more…)

Read Full Post »


foto-rusle-irma.jpg

 

 

Kita seperti dua tukang batu yang sedang asik bekerja. Aku sibuk memoles batu gunung di pondasi rumah kita, dirimu mengayak pasir kerikil dan dicampurkan dengan semen beton. Aku sedang menganyam tulangan pengikat pada balok yang dibentang pada pondasi, dirimu mengayunkan satu dua sekop beton curah pada lantai persegi. Kita sungguh sangat sibuknya. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan indah disana.

Rumah yang sedang kita bangun tentu masih jauh dari sempurna. Hari ini baru pondasi saja, itupun masih aku harus selesaikan disana sini. Dirimu masih belum selesai mengguyur beton curah ke seluruh muka rumah. Dan kita masih terus asik bekerja. Belum ada dinding, pintu, tangga, apalagi atap. Baru setinggi mata kaki saja. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan ceria disana.

Di halaman yang tak begitu luas, baru tertanam dua pohon mangga. Pohon yang masih kecil, belum bisa menghasilkan buah. Mangga, buah itu, dirimu tahu sungguh aku selalu menginginkannya. Di kepala kita, ada gambar pohon nan rimbun dengan buahnya disana.

Kita seperti dua tukang batu yang sedang asik bekerja, juga bermain. Sesekali dirimu cemberut kala kugoda dengan terlalu, sekali lain aku yang merengut kala dirimu tak mau tertawa. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan bahagia disana.

Di kepala kita, ada gambar bangunan sempurna disana. Tapi entah kapan bangunan itu terwujud. Kita masih asik bekerja.

Read Full Post »

 

halimun-di-utara-jakarta.JPG

Cisarua, 15 November 2008, 90 kilometer di Selatan Jakarta. Seharusnya hangat mentari yang datang menghantar pagi itu saat jarum waktu mengarah ke angka delapan, namun sepertinya alam sedang malas menampakkan lekuk tubuhnya. Titik-titik air serupa asap bergerombol membentuk halimun, ketika matahari kembali bersembunyi di balik rimbunan awan berwarna suram. Halimun seperti tempias dari atas langit dan perlahan beranjak turun menyelimuti perbukitan kemudian melingkupi jarak pandang sejauh belasan kilometer saja. Ribuan hektar perkebunan teh yang dikuasai pemerintah melalaui PTPN XI itu kemudian menjadi samar diantara titik-titik air ketika pagi itu rombongan kami ber-tujuh baru mulai menjejak langkah menyisir bukit-bukit berselimut hijau dedaunan teh (tea-walking) di Telagawarna, di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut.

 

menapak-jalan-teh.JPG

Rimbunan bukit-bukit setinggi puluhan meter itu seperti dilukis dengan komposisi warna homogen dengan gradasi hijau dari muda ke tua, dan garis-garis lembut yang rapi tertata diantara petak-petak teh yang vertikal dari puncak ke lereng dibawahnya. Perdu-perdu teh itu hanya setinggi lutut orang dewasa dengan dahan yang seperti membekap satu sama lain, menampakkan pucuk-pucuk dedaun hijau mudanya yang siap dipetik. Dihamparan lain, tampak berselang seling bebarisan pohon teh kecoklatan yang telah meranggas habis dipanen, sementara barisan lain berisi tetumbuhan muda yang masih miskin daun menampakkan jelas ujung batangnya yang basah oleh tanah coklat. Satu-dua petani pemetik teh bercaping tampak samar diantara rimbunan hijau bukit-bukit teh itu.

 

kampung-ciliwung-telagasaat.JPG

Bebukitan teh menghijau itu dibelah oleh jalan berbatu selebar lima meter, yang sepagi itu sudah dihilir mudiki oleh satu dua truk-truk besar pengangkut dedaunan teh. Beberapa tiang beton tergeletak begitu saja di sisi jalan, diantaranya terkelupas menampakkan tulangan yang berkarat. Sepertinya tiang-tiang itu adalah sepah rencana pembangunan jalur listrik yang tak jadi dipakai.

(more…)

Read Full Post »


amrozidalam.jpg

 

 

Tak bosan-bosannya media menyiarkan jalannya proses pelaksanaan eksekusi mati tiga pengebom pertama Bali; Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera. Ruang tontonan, ruang baca, dan ruang dengar kita nyaris tidak pernah melewatkan satu jam pun tanpa berita ini. Tiga bomber Bali ini tiba-tiba menjadi makin populer selama dua minggu terakhir, mengimbangi berita kampanye dan pemilihan presiden USA yang baru lalu. Bahkan menenggelamkan berita pilkada di sejumlah daerah.

Hebohnya, banyak pihak ikut-ikutan menambah suasana dengan menghadirkan ragam polemik di seputar eksekusi ini; soal cara eksekusi, soal wasiat, soal Peninjauan Kembali, sampai soal website yang menyerukan pembunuhan SBY.Semua orang seperti kelimpungan dengan soal eksekusi ini, siaran langsung dari beberapa lokasi ikut membetot perhatian kita seakan2 begitu pentingnya persoalan ini; Cilacap, Nusakambangan, Serang, Kuta Bali, hingga ke kediaman keluarga Amrozi dan Mukhlas di Tenggulun Solukoro, Lamongan, Jawa Timur. Prosesi pemakaman juga sudah disiapkan sedemikan rupa, termasuk prosedur evakuasi kenazah hingga lokasi pemakaman. Keluarga terpidana asal Serang, Imam Samudra sudah jauh-jauh hari menyiapkan tempat jenazah disholatkan. Masjid Al-Manar, yang berjarak 500 meter dari rumah keluarga Imam Smaudra, tempat dulu Imam Samudera kecil menimba ilmu mengaji, akan menjadi tempat jenazah di sholatkan.

Yang terjadi kemudian muncul ketidaknyamanan publik akan peristiwa ini. Keluarga Amrozi dan Mukhlas di Lamongan menjadi sangat terganggu dengan kehadiran para wartawan yang hendak meliput suasana di kediaman keluarga terpidana bersaudara ini pra dan paska eksekusi. Pantai Kuta di Bali menjadi lebih sepi dari biasanya karena dikhawatirkan ada efek balasan dari para pengikut bomber itu sekiranya eksekusi dilaksanakan, apalagi sudah beredar surat wasiat ketiganya yang salah satu isinya menyerukan pembunuhan terhadap beberapa pejabat RI termasuk presiden SBY, JK, Menhukam, Jaksa Agung dsb. Yang lebih aneh, jalur komunikasi seluler di Nusakambangan di non-aktifkan secara total sejak hari ini. Nusakambangan pun terisolir dari dunia luar. Petugas bahkan melakukan razia ekstra yakni mengamankan semua telepon seluler di pulau tersebut.

Suka tidak suka, ruang publik sudah terkooptasi oleh berita ini. Tridente pembom Bali ini kini menjadi komoditas berita laiknya selebritas di infotainment. Kita, kini terpaksa ikutan menunggu kapan eksekusi itu dilaksanakan, dan malah kalau hal buruk terjadi, mungkin masih akan disuguhi berita hangat lain paska eksekusi ini yang mudah-mudahan tidak terjadi, efek pembalasan dari kroni Amrozi cs.

Ah, saya sih tidak merasa begitu penting untuk diganggu oleh berita ini. Saya ikut menikmati sambil berdoa semoga mereka diterima dengan baik oleh Sang Maha Pemilik Jiwa, entah meninggalnya karena eksekusi, atau meninggal melalui proses alamiah sebagaimana keluarga mereka inginkan. Kita lihat saja nanti!

Foto di copy paste dari detik.com

Read Full Post »


small_obama_image.jpg

 

 

Hari ini, pemilu di Amerika Serikat akan menentukan siapa bakal pemimpin negara dengan tingkat dominasi terkuat di dunia. Apakah the first afro-america, Barack Hussein Obama (47thn) atau the oldest president candidate John McCain III (72thn). Kedua-duanya akan menjadi yang pertama di segmen tertentu. Obama (bila terpilih) akan menjadi presiden kulit hitam pertama, sedang McCain (mungkin) akan menjadi presiden tertua. Obama, wakil demokrat yang mengalahkan mantan first lady Hillary Clinton, jelas merupakan representasi perubahan besar yang sedang bergerak dan berderak di Amerika menyusul kegagalan GW Bush membawa Amerika (dan dunia) ke arah yang lebih baik; ekonomi yang goncang di akhir kepemimpinannya, unilateral policy yang menjadikannya zombie di negara berkembang, termasuk kegandrungannya akan perang yang tidak saja mengangkangi masyarakat belahan dunia lain, tapi juga PBB yang secara formal merupakan wadah kolaborasi dunia.

Hari ini, mungkin sebagian besar perhatian masyarakat dunia sedang membelalak ke negeri Paman Sam di utara sana. Melalui media massa atau media maya, mereka sedang menunggu hasil dengan harap-harap cemas. Lupakan persoalan nasional, lokal, bahkan rumah tangga. Ada yang sedang membetot semua pusaran gravitasi kita, termasuk Indonesia. Bahkan jauh sebelum pemilihan, untuk mentralisir euforia Obama di Indonesia, yang pernah menjadi tempat bermain masa kecilnya selama 4 tahun, pemerintah Indonesia buru-buru mengeluarkan pernyataan “Siapapun presiden terpilih AS, pemerintah Indonesia siap bekerja sama”. Meski saya yakin, dibalik pernyataan itu ada doa semoga si anak Menteng itu yang terpilih.

Apa pengaruhnya buat Indonesia? Kita sedang mengkhawatirkan soal warna saat ini, juga seluruh penduduk dunia. Bukan soal warna secara fisik, tapi warna ekonomi-politik yang akan menggauli dunia internasional. Warna Amerika, suka atau tidak suka, adalah warna mini dunia. Jembatannya adalah sesuatu yang bernama hegemoni atau dominasi. Gross National Product (Product Domestic Bruto) Amerika saat ini mencapai US$ 10 Trilyun, atau sepertiga dari total GNP dunia yang mencapai US$ 30 Trilyun. Sektor jasa keuangan mungkin mendominasi nilai ini, dibanding sektor riil. Namun ini hanya semacam fakta betapa berpengaruhnya ekonomi Amerika Serikat terhadap negara lain. Jauh sebelum itu Fukuyama sudah memprediksi soal dominasi ekonomi ini. Fukuyama pernah memprediksi bahwa pasca-Perang Dunia II, “Amerika akan menguasai perdaban dunia. Peradaban akan berakhir dan Amerika akan menjadi raja”. Bagaimanapun itu, sejarah yang nanti akan membuktikan apakah tesis Fukuyama ini benar.

(more…)

Read Full Post »

ical97.jpgSetiap kali saya kehilangan seorang kawan yang pergi terlebih dahulu, saya selalu berusaha menuliskannya. Terutama karena saya ingin mengabadikan kenangan tentangnya melalui tulisan, apalagi kalau ia mati muda. Mati muda tentu bukan pilihan, dan bukan juga sesuatu yang harus disesali, karena ia adalah domain Sang Maha Penentu. Namun saya mencoba mengiringi kepergian para sahabat, keluarga dekat dan orang-orang yang patut dicintai itu dengan mengenang-ngenang hal yang indah tentangnya.

Semoga dengan begitu, Allah Sang Maha Penentu berkenan menghapuskan dosa-dosanya, dan melipatgandakan pahala kebaikan-kebaikannya. Dan dengan tulisan, saya berharap, saya masih akan mengenang nya hingga waktu menjadi abai, dan saya melebur bersama kenangan itu di hadapanNya.

Saya ingat, dan hanya itu yang melekat dalam kepala saya ketika pertama kali bersua, kawan saya ini datang dengan senyum. Ketika itu pertengahan 1997, dia muncul di pintu kost saya di Gerlong Girang Bandung, mencari adik saya, teman seangkatannya di SMAN 1 Makassar. Ya, kawan ini datang dengan sopannya, tersenyum dan ramah menyapa. Juga matanya yang mungkin tersenyum juga. Kalau tersenyum matanya menjadi sipit, rambutnya yang lurus kemudian seperti melambai di depan mata yang sipit itu. Dan saya yakin, senyum yang dikemas bersama mata yang sipit tentu senyum yang polos, mengajak bersahabat dengan tulus. Dia datang dengan senyum, dan senyum itu tentu punya banyak cerita. Cerita yang jalin menjalin mengantar hidupnya dari Makassar hingga ke Bandung yang, kalau bisa dibilang, begitu singkat.

Faisal Riza, nama kawan saya itu. Usianya tiga angkatan di bawah saya, waktu itu baru saja terdaftar sebagai mahasiswa baru jurusan Astronomi ITB. Tak banyak yang bisa ‘tembus’ perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia itu, terutama dari daerah timur semisal Makassar. Paling banyak hanya sepuluh diantara seribu mahasiswa baru. Dan dia bisa. Kami pun mencatatnya ke dalam daftar pendek mahasiswa ITB asal Makassar, yang memang cuman segelintir itu. Juga para alumni SMAN 1 Makassar, ikut bangga tentu.

Satu pencapaian luar biasa buat kawan ini dan kebanggaan buat kami, adalah Ical atau Paccala begitu panggilannya – sempat menjadi ketua Himpunan Astronomi (1999). Aktifitasnya ini sempat menjadi bahan guyonan saya,” Ah, kamu ini bisa terpilih jadi KaHimp kan karena di jurusanmu orang nya dikit. Setiap angkatan cuman 15 orang, itupun banyak ceweknya”. Ichal hanya tersenyum saja membalas candaan saya. Belakangan dia membuktikan, bahwa kapasitasnya sebagai pemimpin jauh melebihi sangkaan saya. Dari situs-situs yang saya telusuri, dan informasi di milis, Ichal sangat aktif di PSIK ITB, think tank mahasiswa ITB. Ichal juga sempat menjadi sutradara Film documenter “Atjech Humanitarian”. Luar biasa, dan saya menjadi cemburu tentu saja!

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »