Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2015

Bingkai Kosong Bapak

Ayu tertegun. Delapan jam perjalanan udara dari Jakarta ke Muscat yang melelahkan seketika menguap. Matanya menelisik rupa bandar udara terbesar di ibukota Oman ini dengan ragu. Tak seperti sangkaannya, Muscat International Airport ini malah lebih sederhana dibanding bandar udara di kota kelahirannya. Suasana seperti riuh pasar yang sesak. Para penjemput berbaur dengan penumpang yang tumpah dari badan pesawat, tak jauh dari pintu kedatangan. Matanya kesulitan mencari biro perjalanan yang seharusnya berderet di setiap pintu bandara. Ia berjinjit sebentar, meninggikan kepala melebihi orang ramai. Di satu sudut ia melihat seorang pemuda bertutup kepala kafayeh dan bergaun kondura cerah, memegang selembar kertas putih berlaminating bertuliskan nama puncak tertinggi di Oman.

Jabal Syam? Sapaan ramah Ayu membuka mata Helal sebulat rembulan. Pemuda Oman itu sumringah. Dengan bahasa Inggris fasih, ia lantas menanyakan jalur tempuh yang diinginkan.

Selatan saja, saya juga hendak melihat jalur off-road yang terkenal itu. Jalur Utara terlalu mudah”.

Betul, Madam. Juga tak perlu izin militer untuk melintas” Helal tersenyum. Matanya menyipit dan membentuk wajah lucu di hadapan Ayu. Ayu tergelak. Setelah menyetujui harga yang disebutkan, Helal pun mengajak Ayu meninggalkan bandara kecil itu.

Pagi sudah menunjukkan pukul delapan, tapi musim dingin yang menyelimuti Muscat masih meninggalkan kabut di sana-sini. Di atas jeep putih yang disupiri Helal, Ayu memuaskan pandangan ke lekuk alam Oman yang mengesankan. Selepas batas kota, kabut sudah tak terlihat lagi. Berganti semburan cerah sinar matahari yang menyapu seluruh pandangan. Meski lelah kembali menyerang, Ayu tak ingin melewatkan pemandangan di hadapannya. Kamera saku di genggamannya segera beraksi.

Jalan aspal mulus yang dilewati Ayu membelah dua kontur berbeda. Di sisi kiri, deretan pegunungan batu berwarna jingga menjulang tinggi, meninggalkan kesan angkuh dan misterius. Gunung itu tampak telanjang tanpa tetumbuhan yang merayapinya. Kalau bukan karena hamparan samudera biru yang berada di sisi kanannya, Ayu tak yakin ada pendaki yang mau menaklukkan pegunungan cadas itu. Laut Arab di selatan Oman itu memang menakjubkan. Sebentar saja, Ayu bisa menyaksikan serombongan lumba-lumba yang berkejaran di sisi perahu-perahu nelayan. Lautan indah itu juga menurunkan banyak jejak pelaut ulung, Sinbad salah satunya. Setelah puas merekam semua keindahan itu dengan kamera sakunya, Ayu kemudian berdiam diri. Tubuhnya sesekali terguncang ketika mobil jeep Helal sudah mulai menjilati kaki Jabal Syam.

Di puncak sana, kita mungkin akan disiram hujan kecil. Tentu tak sederas di negeri anda, Madam” ujar Helal di antara erangan mobilnya yang menggerus jalan terjal tak beraspal di hadapannya.

Justru itu yang saya cari” balas Ayu sambil tersenyum. Helal terkejut, kemudian ikut tersenyum dan melirik Ayu dengan ekor matanya. “Kalau boleh tahu, kenapa Madam?

Di negeri saya, hujan selalu datang. Setiap hari. Bahkan, di musim paling kemarau sekalipun”.

So, apa bedanya dengan hujan di sini, Madam? Sambil jemarinya sibuk memainkan persenelling, Helal sedikit berteriak untuk mengimbangi deru ban mobil yang bergumul dengan kerikil lepas.

Aku membenci pelangi. Itu bedanya”

Advertisements

Read Full Post »